Malam ini, malam dimana aku bisa mendengar suaramu, setelah sekian lama tak dapat ku dengar. Entah apa yg terlintas, aku yg sedang dalam rangka menindas segala macam pengeluaran biaya selama disini, tiba tiba terpikir untuk menelpon nomormu. Hanya untuk mendengar suaramu...meski hanya dua detik. Rasa rinduku tujuh bulan tertinggal, terbayar lunas sudah dengan dua detik suaramu. Entah apa yg terpikirkan. Aku pernah melakukan ini dulu, nekad pagi pagi menelponmu, dan sama, suaramu...menghanyutkan dalam derasnya aliran darahku, membakarku tepat di jantungku. Hanya suaramu.
Beberapa hari setelah Idul Fitri, 2010. Aku tak sampai hati menunggu untuk menelpon nomormu yg kudapat dari temanku. Hingga sampai pagi hari tak jemu aku dan tak terkantuk aku memikirkan bagaimana aku harus memulai denganmu. Dan aku ingat betul pagi itu. Pagi yang masih sedikit ungu. Dengan kabut pagi ala pedesaan di penghujung kemarau. Aku lantas memberanikan diri datang pada selasar ruang tamu rumah Eyang Putriku. Masih saja lengang. Harum sejuk pagi bercampur dengan aroma ruangan yg hampir semua adalah kayu, khas jawa. Ruang tamu yang kuning berbalut ungu pagi hari. Aku duduk di kursi kayu coklat tua dekat jendela yg masih berembun. Dan para rewang Eyang Putri baru saja datang dari pasar untuk berbelanja. Aku terus memandangi layar handphonek dan terus mengusapnya dengan ibu jariku. Butuh setengah jam untuk membuat keputusan. Tak tahu apa yg aku pikirkan, aku lalu menekan tombol panggil. Dan jadilah kali pertama aku mendengar suaramu. Hanya butuh beberapa detik, bisa saja menggebuh jantung tua ini dan seakan berkata dalam hati " disinilah kisahku akan dimulai"
Lalu hari ini, sore ini. Berat hati tak karuan menahan rindu tak memiliki suaramu dalam satu indera yg peka pada kerinduan. Sore hari yg beranjak gelap dengan cepat. Dan lagi lagi jendela yg berembun. Hatiku juga, berembun. Pilu, panas membakar hidungku. Line-ku tak kau baca, aku takut kau telah memblokirku dari salah satu jejaring itu. Takut bukan lain dan tidak bukan. Membuatku mematikan emosi jiwaku, memadamkan api pembakar nyaliku, dan dua detik juga telah melunasi kerinduanku berbulan bulan. Suara kantukmu, suara serak khas kantukmu. Hanya beberapa detik mampu merobohkan setengah jantung tua ini, sampai aku bekata dalam hati, "disinilah kisahku harus berakhir".
Dua momen yg hampir sama, aku menelponmu dalam keadaan kau masih tertidur. Dan kau mengangkat telponku dengan suara serak khas kantukmu, suara yg sama. Serak pada bagian "ha" dan desahan pada bagian "lo". Sama persis seperti kala pagi itu. Dan jantungku berdegup sama pada porsinya. Porsi degupan yg membuatku ngilu pada setiap titik urat nadiku, nyata. Itu yg benar aku rasakan. Namun bedanya, pagi itu aku memulai semuanya, dan sore ini aku bertanya akankah berakhir senja ini. Senja yg terlalu dini bagi kisah ini. Pagi itu tuan pemilik hatimu belum juga datang, aku juga belum terlambat datang. Tapi senja ini, kurasa sudah ada pemilik hatimu, sehingga kurasa haram bagiku menyentuh hatimu.
Ngilu batinku rasanya. Napasku terasa bedesakan brutal tak pada porsinya. Aku menahan linangan bulir di mataku, sekuat tenaga. Berusaha mengambil napas kesejukan di musim ini. Dan sekali lagi. Momen benturan antara nafasndan detak jantung yg tak teratur, momen benturan dari kedua katup kelopak mata yg tak bisa menahan linangan bulir kejantananku —air mata, momen benturan hatiku untuk terus atau mencukupkan kesusahan hati ini.
Tak bisa aku membayangkan bagaimana hidupku kelak saat kau telah dinikahi olehnya. Akankah hidupku akan tenang, tentram, sejahtera dan sentosa? Ataukah hidupku hanya akan menjadi dongeng yg lukanya dibiarkan menganga?
Mudah ya, kau buat aku bersumpah untuk memperjuangkan hidup denganmu berdua, kau janjikan suci hati dan ragamu untuk hidup berdua bersamaku, lalu kau ingkar mulutmu sendiri dan menyuruhku ingkar pada sumpahku sendiri. Dengan sangat tak berdosa kau menyuruhku untuk mencari wanita lain agar aku bahagia kelak. Bagaimana orang bisa kenyang dengan menjilat ludahnya sendiri? Lalu bagaimana aku bisa bahagia dengan mengingkari sumpahku sendiri.
Berjanji untuk menjadi teman hidup mungkin bagimu sangat mudah, karena otakmu terlalu dangkal untuk mengukur satu janji satu sumpah, kau terlalu anak kecil. Kau lebih memilih bahagiamu sendiri dan menjilat ludahmu. Kau pikir menjilat ludahmu bisa membuatmu bahagia, lalu bahagia bisa membuatmu kenyang?
Tapi janji macam itu hanya kuucapkan sekali seumur hidupku, pada satu orang yg kukira datang tidak untuk menjilat ludah. Apa pernah kau berpikir sampai seumur hidup seseorang yg kau suruh berjanji? Lalu kau hanya mengucap maaf dengan acuh? Lupa kah kau, pelajaran sekolah dasar tentang apa itu janji? Kata maaf itu seakan jadi proposal untuk mengingkari janji. Lupakah kau bahwa janji itu dibayar bukan dengan kata maaf untuk mengingkari? Pernahkah guru Bahasa Indonesia favoritmu mengajari bahwa mengingkari janji adalah dengan membuat proposal?
Lalu bagaimana nasib janji yg kau tinggalkan? Janji yg kau acuhkan? Lalu bagaimana dengan manusia yg hanya punya satu buah "seumur hidup" untuk sumpahnya?
Tak lihatkah kau, wanita wanita yg lebih sempurna darimu seolah memintaku bersumpah hal yg sama? Tapi coba lihat jawabanku, "kau perlu menunggu "seumur hidup"ku yg lain untuk membuatku bersumpah seperti itu".
Lalu kau pikir ini cinta apa? Cinta monyet? Cinta sejenak? Ataukah cinta monyet sejenak? Haha kau pikir kau siapa? Memang adakah monyet yg mengakuimu sbg bangsanya? Monyet saja memandang hina cinta seperti itu.
Hingga aku tau, kau terlalu muda untuk mengucap janji seperti itu. Kau terlalu tak mau sakit untuk memperdulikan perasaan orang lain. Itu mungkin sebabnya kenapa kau tak lekas dewasa.
the unfortunate Love,
—DAP a.k.a @Tweetbatin

Dalam sekali ceritanya.
BalasHapusKebetulan beberapa plot ceritanya kok ada yang sama ya.
Intinya, bila kamu suka sama seseorang itu coba katakan saja agar dia tahu.
Sma dg apa plot ceritanya, yg anda mksudkan?
HapusDia tau kok, kdang dia cm slh satu prempuan yg gk pduli. And i love her that way.:)