A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Senin, 29 Februari 2016

Aku Memanggilmu.

Aku Memanggilmu.



Waktu senja yg belum juga terbungkus malam. Waktu senyummu di kepalaku masih saja terlihat muram. Waktu semua yg kita harapkan kini semakin buram. Belum lagi, waktu malam telah berpasrah berendah diri pada Sang Pemilik Alam.

Layaknya yg tertera pada suratku yg lalu, aku telah jengah mendapati hayatku masih menantikan aba-aba darimu. Sedang raga ini telah lama tewas termakan cemburu yg begitu lucu. Aku bahkan sudah lama tak lagi mendengar suara harapanmu padaku.

Sudah kupasrahkan garis-garis takdirku pada Sang Pencipta. Bukan lagi pujangga, kini aku hanya akan jadi luka dan penikmat rasa. Rasa bagaimana ia diciptakan untuk sempat singgah, entah sementara atau selamanya. Aku kini juga menikmati bagaimana aku pada akhirnya berdamai dengan ibunda.

Aku memanggilmu. Di sela rindu akan hangat sapamu.
Aku memanggilmu. Dalam khayalku yg meniadakan wanitaku dan lelakimu.
Aku memanggilmu. sembari menelanjangi raut wajahnya yg sengaja ia teduhkan untukku.
Aku memanggilmu. Di antara hangat parasnya di setiap sudut dan raut wajahnya, kadang alu menyelipkan rindu padamu.
Aku memanggilmu. Pada barisan senja yg kini memaparkan diri pada kepasrahanku pada kiblatku.


Dan apa bila malam telah jatuh di depanmu, mohon ingatkanku lagi bahwa tak sepantasnya aku masih mengharapmu setelah perempuanku. Ingatkan aku lagi, aku tak perlu menyelipkan rindu disela kantukku.


Aku memanggilmu tanpa henti, dengan layu, di antara sorak gembira ibuku atas kedatangan perempuanku.



—dap. @tweetbatin (ig: setangkai)




Senin, 01 Februari 2016

Terjerembab Makna.

Terjerembab Makna. 



Tentang bagaimana mata kita tak saling jatuh cinta, dan tentang hati kita yg saling terjerembab asmara.

Kali ini, datang dari pusat keramaian kota di mana semua orang terlihat kehilangan jiwa mereka. Di mana semua orang berjalan mengitar. Menginjak ubin yg sama berulang ulang kali. Terpana pada patung-patung yg dikemas dengan jubah dengan cara yg sama. Dan ternganga dengan cara yg sama pada badut pesta yg jiwanya tersesat di dalam kepala mereka.

Di tengah-tengah semua pertunjukkan itu, ada seorang bujangan yg bibirnya berhiaskan nada. Bahkan sekecap bibirnya itu menyumbangkan aura bagi seluruh penjuru di gedung ini. Ia pun belum tahu, senandung melodi tanpa rupa telah mengundang semua mata yang berlalu melewatinya. Atau ternyata dia tahu, namun matanya terlalu nyaman pada rasa takut untuk menatap setiap mata yg terpana pada kerumunan melodinya.

Semua penjuru, telah tersihir olehnya, bahkan jiwa-jiwa yang melayang dalam tatapan penuh kagum telah rela menjadi budak suaranya. Adele, Hello. Hampir semua orang menguncup, meringis, menganga pada waktu yg sama dengannya. Turut berbagi tenaga tanpa jiwa. Sekali lagi, jiwa mereka disandera oleh patung-patung yg dikemas dalam jubah.

Semua orang saling berpapasan pada satu sisi. Dan ketika tatapan seorang lelaki tepat jatuh di depanku pada seorang perempuan, aku melihat mereka mengucap kata yg sama dalam melodi yg sama. Aku heran, mereka tak jua saling jatuh cinta. Aku hanya bisa tergeleng layu sembari menundukkan mataku, dan lingkar geli di bibirku. Terpikirkan satu makna yg jatuh padaku bahwa;

"Bahkan mungkin mereka para lelaki yg sebegitu beruntungnya bisa menjatuhkan tatap bagi seorang wanita, tak lekas bersapa atau jatuh cinta. Malah aku, yg bisa dibilang bejawan ini, bisa begitu terlena jatuh hati bahkan tanpa menjatuhkan tatap padamu. 
Mereka lelaki yg sudah sedemikian beruntungnya bersanding dengan perempuannya, terlihat tertunduk lemas lantaran ia tak mampu merasakan rindu. Sedangkan aku, aku tak perlu jadi cecunguk yg bersembunyi dibalik bidangnya dadaku, tangguhnya pundak, atau malu-malu di belakang tubuh perkasaku hanya untuk mengungkapkan rindu."


Lebih dari itu, aku hanya sebatang rokok yang berasap. Dan kadang hanya sesumbut asap dari sebatang rokok dan secangkir kopi. Hidupku dihabiskan untuk memperhatikan objek yg kutangkap lewat mata dan telinga. Dan selebihnya, kau pun tak perlu menaruh perhatian lebih pada hidupku dari apa yg tak perlu kau dengar dan tak pernah lihat.

Aku tahu kau tak lagi menerka makna. Dan aku pun tak peduli apakah kau masih peduli dari sana.




Salam acuhku bertanya pada kabarmu.

—DAPw, @tweetbatin





Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates