Aku Memanggilmu.
Waktu senja yg belum juga terbungkus malam. Waktu senyummu di kepalaku masih saja terlihat muram. Waktu semua yg kita harapkan kini semakin buram. Belum lagi, waktu malam telah berpasrah berendah diri pada Sang Pemilik Alam.
Layaknya yg tertera pada suratku yg lalu, aku telah jengah mendapati hayatku masih menantikan aba-aba darimu. Sedang raga ini telah lama tewas termakan cemburu yg begitu lucu. Aku bahkan sudah lama tak lagi mendengar suara harapanmu padaku.
Sudah kupasrahkan garis-garis takdirku pada Sang Pencipta. Bukan lagi pujangga, kini aku hanya akan jadi luka dan penikmat rasa. Rasa bagaimana ia diciptakan untuk sempat singgah, entah sementara atau selamanya. Aku kini juga menikmati bagaimana aku pada akhirnya berdamai dengan ibunda.
Aku memanggilmu. Di sela rindu akan hangat sapamu.
Aku memanggilmu. Dalam khayalku yg meniadakan wanitaku dan lelakimu.
Aku memanggilmu. sembari menelanjangi raut wajahnya yg sengaja ia teduhkan untukku.
Aku memanggilmu. Di antara hangat parasnya di setiap sudut dan raut wajahnya, kadang alu menyelipkan rindu padamu.
Aku memanggilmu. Pada barisan senja yg kini memaparkan diri pada kepasrahanku pada kiblatku.
Dan apa bila malam telah jatuh di depanmu, mohon ingatkanku lagi bahwa tak sepantasnya aku masih mengharapmu setelah perempuanku. Ingatkan aku lagi, aku tak perlu menyelipkan rindu disela kantukku.
Aku memanggilmu tanpa henti, dengan layu, di antara sorak gembira ibuku atas kedatangan perempuanku.
—dap. @tweetbatin (ig: setangkai)


