A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Rabu, 18 Februari 2015

Kemarilah Bersandar Manis di Dadaku Sini.

Kemarilah Bersandar Manis di Dadaku Sini.

Jangan lah kau terlalu mandiri. Jangan terlalu sesumbar tentang masa depanmu dengannya atau denganku. Mari kita nikmati sejenak yg ada saat ini, sembari sendumu jika saja masih menungguku.

Jangan terlalu mandiri, jangan berpura-pura kuat menahan rindu yg pasti sesekali buatmu sendu. Aku tahu, pasti kau juga pernah rasakan rindu. Tapi aku juga tahu, kau wanita cerdas yg mudah membuang rindu padaku dengan hanya menyebut nama priamu.

Jangan kau terlalu mandiri, aku takut kau tak bergantung lagi. Kemarilah, mari kita sama-sama berkelun rindu di pundakku. Jangan munafik, aku tahu kau sudah bahagia jauh di situ meski kadang ada setitik rindu mengusikmu. Dan aku pun tak munafik, aku juga tengah dimabuk rayu cerita lama dengan wanitaku. 

Dunia ini terasa indah ketika seorang lelaki mendamba untuk dapat menyanding dua wanita. Sungguh, madu itu manis dirasa. Yg satu untuk pemuas jiwa, yg satu sebagai sandangan mata. Tapi seindah-indahnya dunia seperti itu, masih lebih indah bila kita berdua saja, bahagia. Apa adanya. Sesederhana hanya berdua, kau dan aku saja.

Aku tak mau sesumbar lagi dengan masa depanku. Aku juga sudah berdamai dengan masa depanmu. Ku ikhlaskan saja bila memang jalan-Nya kau tak bersamaku. Lantaran aku bujang lemah yg lelah berencana, selalu menata, dan berakhir kecewa. Ah, sudah biasa.

Begitu perkaranya, bukan berarti aku bisa lupa pada dua tahun yg pernah kujanjikan. Aku pasti datang. Aku hanya tak ingin membuatmu menunggu. Biarkan saja mengalir sesederhana apa adanya. Jikalau nanti kau dan aku dipertemukan dalam reuni dua sahabat yg pernah saling mendamba, kau pun tak perlu khawatir aku akan luntur cinta. 

Mungkin kini kau sedang menantangku untuk datang dalam kurun waktu dua tahun ini. Namun kau pun perlu tahu, janji itu sudah kadaluarsa tepat saat kau memilih kembali padanya ketimbang menemaniku dalam proses memperjuangkanmu. Ujian kesetiaan segitu ringan saja kau tak lolos, kau bahkan tak paham betul artinya setia. Kau bahkan tak mau rugi, sedang aku di sini telah memisahkan diri dari sebuah ikatan. Aku juga tak mau lagi rugi jika kau maunya begitu.

Aku tahu, kau wanita, kau takut tak punya masa depan jika kau tak bersamanya. Hatimu mudah goyah. Hatimu goyah saat ucapan Ibumu membuatmu was-was kalau kau tak akan menikah. Aku paham. Takutmu seperti itu, maka ada kah alasan bagiku untuk tak melanjutkan hidupku tanpamu sekalipun? Aku lelaki, aku akan kuat meski jika itu tak kau temani. Aku punya Tuhan, tak perlu wanita.

Lihatlah, wanita didepanku ini, tengah menati sebuah masa di mana aku bisa membahagiakannya. Sedangkan kau di sana, dengan segitu menyia-nyia. Adalah sara yg kukejar dan adalah bahagia yg ku tukar. Aku tulus, kau hambar. Aku sayang kau, dia yg kau pendar.

Rindu tak rindu, terima kasihku padamu, telah membuatku jatuh hati sedalam itu. Lelaki yg mau merugi dunia, meski tanpa dibalas jua.



—DAPw, @tweetbatin

Share This

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates