A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Kamis, 26 Februari 2015

Sesuap Asap.

Sesuap Asap.





Kini, malam terlalu malam, pagi terlalu pagi. Aku duduk di pinggiran ranjang beroda. Aku setegap ini, akhir-akhir ini mudah tumbang oleh Asthma yg mudah kuderita. Terhitung dua jam dari sekarang, aku akan pulang ditemani dengan kesendirianku dan sebuah asa kau tengah merindukanku juga.

Tak sedikitpun niat untuk berhenti menyuap asap. Kecuali jika kau yg mengusap. Sedang aku tahu pasti, sudah ada dia yg tak perlu kau resahkan karna dia tak punya tak punya kebiasaan buruk seperti ini. Namun apa kau tahu, sebenarnya itu lah yg membuatku terluka di sini.

Aku pernah sesekali berhenti menyuap asap saat kau yg meneguhkan. Lalu kutemukan kau melangkah pergi, menjemputnya dan ia kau bangga-banggakan. Setiap kali aku berhenti mengapitkan sebatang rokok dari bibirku yg kian mengering, aku tak bisa berhenti berpikir kau di sana tak kunjung jua berhenti membiarkan bibir pucatmu terapit di bibirnya dalam kedamaian.

Lalu aku pikir aku harusnya sudah menghentikan kebiasaan buruk ini. Bukan, bukan merokok yg aku hentikan. Kau dan bibirmu yg sudah tak suci itu yg harusnya kuhentikan membayang dalam pikiran.

Mati? Aku tak takut mati. Sara? Aku sudah biasa sengsara. Menderita? Selebih-lebihnya, kau di sana tengah bahagia. 

Sudah. Kau baik-baiklah saja, merajut bahagia di sana. Aku tak apa di sini merasa letih untuk menderita.


—DAPw, @tweetbatin


Senin, 23 Februari 2015

Pekarangan Belakang. (Kenangan Manis Itu)


Pekarangan Belakang. (Kenangan manis Itu)


(Originally pics by me)

Hai, rembulan penuh bualan. Apa kabarmu di dalam rangkuhan lalakimu? Di depanku kini ada seorang wanita terperanga terpaku pada semak belukar yg tengah tumbuh membludru di dalam diriku. Jemarinya yg seolah meringik ingin cepat-cepat kusentuh setengah hatiku. Matanya yg menjerit termakan peluh yg terulur waktu. Tulang bahu yg mengapit dadanya itu kiluhat makin mendesak nafasnya untuk terus terisak tak kunjung berlalu.

Ia secantik itu tak cukup untuk merobohkan dinding yg pernah kubangun lantaran sebuah cinta. Ia semelas itu meminta masih tak mampu menurunkan sanubari yg kucanangkan setinggi-tingginya rasa.

Dan barang rasa di pekarangan belakang itu masih terasa sangat indah. Terlihat manis, tertata dan menggugah. Menggugah untuk terus kupandangi lekat-lekat agar tak mudah lepas. Lalu kini akan kuabadikan menjadi perkara yg tak pernah kau buat tuntas.

Mungkin aku bisa bersamanya. Aku juga bisa memenggal semua rasa dan bersatu padu padanya. Tapi aku tak yakin hati ini bisa baik-baik saja. Aku memang bisa berbohong pada sebuah nyawa, tapi aku ragu aku bisa memendam bahagia yg kudamba demi bahagianya. Aku sudah terlalu lama tak bahagia. Sekiranya kini inginku istirahatkan hati ini sembari mengikhlaskanmu dalam rengkuhan seorang pria. Sampai saatnya nanti aku mampu dengan tulus menyulam bahagianya ia.

Lelaki dengan rasa yg tumbuh membelukar liar di pekarangan belakang. Aku ingin kau tahu bahwa aku masih mendamba satu kisah untuk dapat terulang, mendamba satu lagi kesempatan untuk dapat selamanya kau kenang,


—DAPw, @tweetbatin.

Sabtu, 21 Februari 2015

Ampuni Takutku.


Selamat Pagi Wulan, selamat pagi Naura.



Aku tak berfirasat baik kali ini. Lantaran aku tak tahu di sana kau rajin atau tidak membaca layang yg kusempatkan tulis untukmu dari sini. Aku tak melihat pintu di mana kau akan bukakan kembali untukku, sedang aku saja tak bisa melihatmu di sebuah bingkai jendelamu. Sengaja kau tak bolehkanku melihatmu dari jendela, agar aku bisa cari pintumu dan menemuimu lewat pintu itu. Jujur aku tak berani, menemukan pintu itu sekalipun. Aku takut jika kau membukakan pintu sembari sembunyi di pundak lelakimu. Atau jika kau membuka pintu sedang hatimu masih tertinggal di sofa bersama lelakimu. 

Ampuni aku sepengecut ini yg tak bisa menemuimu. Kita terpisah jarak dan akhirnya aku sendiri yg terkubur rindu. Kau di sana dengan priamu, aku di sini masih menggenggam rindu. Khayalku membuai merajuk memintaku segera menemuimu, tapi yang ada ini lah rasa takutku sedang kutunjukkan padamu. Begitu besar dan menggeserku dari akal sehatku. Aku takut, ia telah lebih dulu meminangmu. Aku takut kalaupun aku datang, kau tak bisa memilihku. Aku takut datang. Itu saja.

Segeralah memberiku petunjuk. Jangan diam, jangan membunuh arahku. Jangan tutup jendelamu, biar aku bisa sedikit tahu. 

Aku perlu tahu apa kau masih sering terngiang namaku. Aku perlu tahu apa kau masih mendamba sebuah hidup bersamaku. Aku perlu tahu siapa dia di hatimu, ketika kau sudah tahu, kau tak akan bisa menggantikan orang sepertiku di hatimu.

Lepas semua gembokmu, biar aku melihat kabarmu. Hanya agar aku tahu, kau masih menginginkanku, atau kau sudah jauh membuangku.
Singkat saja dari rindu yg kusulam manis untukmu,


—DAPw, @tweetbatin

Rabu, 18 Februari 2015

Kemarilah Bersandar Manis di Dadaku Sini.

Kemarilah Bersandar Manis di Dadaku Sini.

Jangan lah kau terlalu mandiri. Jangan terlalu sesumbar tentang masa depanmu dengannya atau denganku. Mari kita nikmati sejenak yg ada saat ini, sembari sendumu jika saja masih menungguku.

Jangan terlalu mandiri, jangan berpura-pura kuat menahan rindu yg pasti sesekali buatmu sendu. Aku tahu, pasti kau juga pernah rasakan rindu. Tapi aku juga tahu, kau wanita cerdas yg mudah membuang rindu padaku dengan hanya menyebut nama priamu.

Jangan kau terlalu mandiri, aku takut kau tak bergantung lagi. Kemarilah, mari kita sama-sama berkelun rindu di pundakku. Jangan munafik, aku tahu kau sudah bahagia jauh di situ meski kadang ada setitik rindu mengusikmu. Dan aku pun tak munafik, aku juga tengah dimabuk rayu cerita lama dengan wanitaku. 

Dunia ini terasa indah ketika seorang lelaki mendamba untuk dapat menyanding dua wanita. Sungguh, madu itu manis dirasa. Yg satu untuk pemuas jiwa, yg satu sebagai sandangan mata. Tapi seindah-indahnya dunia seperti itu, masih lebih indah bila kita berdua saja, bahagia. Apa adanya. Sesederhana hanya berdua, kau dan aku saja.

Aku tak mau sesumbar lagi dengan masa depanku. Aku juga sudah berdamai dengan masa depanmu. Ku ikhlaskan saja bila memang jalan-Nya kau tak bersamaku. Lantaran aku bujang lemah yg lelah berencana, selalu menata, dan berakhir kecewa. Ah, sudah biasa.

Begitu perkaranya, bukan berarti aku bisa lupa pada dua tahun yg pernah kujanjikan. Aku pasti datang. Aku hanya tak ingin membuatmu menunggu. Biarkan saja mengalir sesederhana apa adanya. Jikalau nanti kau dan aku dipertemukan dalam reuni dua sahabat yg pernah saling mendamba, kau pun tak perlu khawatir aku akan luntur cinta. 

Mungkin kini kau sedang menantangku untuk datang dalam kurun waktu dua tahun ini. Namun kau pun perlu tahu, janji itu sudah kadaluarsa tepat saat kau memilih kembali padanya ketimbang menemaniku dalam proses memperjuangkanmu. Ujian kesetiaan segitu ringan saja kau tak lolos, kau bahkan tak paham betul artinya setia. Kau bahkan tak mau rugi, sedang aku di sini telah memisahkan diri dari sebuah ikatan. Aku juga tak mau lagi rugi jika kau maunya begitu.

Aku tahu, kau wanita, kau takut tak punya masa depan jika kau tak bersamanya. Hatimu mudah goyah. Hatimu goyah saat ucapan Ibumu membuatmu was-was kalau kau tak akan menikah. Aku paham. Takutmu seperti itu, maka ada kah alasan bagiku untuk tak melanjutkan hidupku tanpamu sekalipun? Aku lelaki, aku akan kuat meski jika itu tak kau temani. Aku punya Tuhan, tak perlu wanita.

Lihatlah, wanita didepanku ini, tengah menati sebuah masa di mana aku bisa membahagiakannya. Sedangkan kau di sana, dengan segitu menyia-nyia. Adalah sara yg kukejar dan adalah bahagia yg ku tukar. Aku tulus, kau hambar. Aku sayang kau, dia yg kau pendar.

Rindu tak rindu, terima kasihku padamu, telah membuatku jatuh hati sedalam itu. Lelaki yg mau merugi dunia, meski tanpa dibalas jua.



—DAPw, @tweetbatin

Sabtu, 14 Februari 2015

Ku Sisihkan Badaiku Untukmu.


Hai, selamat malam rembulanku. Sudah ku sisihkan badai selama dua hari ini untuk melihatmu malam ini. Tidak. Bukan! Maksudku, telah ku sisihkan badai selama dua hari ini untuk membiarkanmu melihat cahayaku. Aku ingat betul katamu kau suka caraku memberitahu kabarku atau hanya apa yg tengah ku kerjakan. Hanya dengan itu, kau bisa menyentuku.



Badai di dadaku sudah reda. Telah ku sisihkan untukmu sejenak. Kusimpan air badainya untuk mengaliri sungaimu.

Aku kini hanya lelaki tak berbusana. Tak berbahasa. Aku tengah terkapar di atas ranjang dengan sehelai kain yg dijahit seadanya, dan tengah mengumpulkan segala kekuatan untuk mampu berbahasa. Tapi yg aku tahu, adalah caranya merindukanmu dalam diamku. Bisa kau lihat di sini beberapa helai selang tengah menyokong hidupku. 

Aku tak berucap banyak kali ini. Aku hanya ingin kau tahu, aku yg kau harapkan untuk cepat-cepat pergi dari hidupmu, masih bernafas dengan udara yg sama sepertimu. Langitku masih sama dengan langit yg memayungimu, bukan langit berupa tanah merah bercucur peluh dan keluh. Aku masih hidup. Jadi, 'hidupi' lah hidupmu dengan segala bahagia darinya, selagi masih ada yg menderita sepertiku yg tak pandai menjaga wanitanya. Engkau.

Kau tak tahu kan, rasanya tertinggal menjadi cahaya kecil yg kian meredup tertiup kesunyian dalam sebuah malam tak berujung? Kau tak tahu bagaimana rasanya tertinggal di sini dan membayangkanmu sedang memanggil hanya namanya. Hanya dia. Kau tak akan pernah tahu, seperti kau tak pernah tahu caranya menebak irama hujan. 

Badai sudah berlalu, aku masih berlumur peluh dan keluh merindumu,



—DAPw, @tweetbatin



Kamis, 12 Februari 2015

Bagaimana Keadaanmu Di Sana?

Cemas.

Hai, Bandung, anak bungsumu ini tengah dirundung rindu padamu, Ibu :')

Hai, Surabaya, mantanmu ini tengah berpesta dalam pikiran cemas bukan main hebatnya.




Kau tahu apa saja yg membuatku gusar pagi-pagi bahkan ketika malam telah terlanjur buta?

Ucapanmu. Ketika ku tahu satu dari ucapanmu adalah dusta, aku mulai gusar akan kebenaran dari semua yg pernah kau ucapkan, bahwa kau telah menutup hati baginya dan sudah lama hilang rasa. Dan kini aku pun mulai ragu bahwa kau di sana tengah berkelun dengan boneka rindu tempatmu menuang sendu. 

Aku cemas. Bahwa kau memberinya kesempatan bukan karna ia layak, tapi karna kau memang cinta. Bahwa kau terus memikirkan kesempurnaan seseorang hingga kau tak lagi mau memantaskan diri untukku. Bahwa kau berhenti percaya bahwa rembulan masih ada, meski saat matahari tengah bersinar menggantikannya. Bahwa kau berhenti terjaga, dengan harapan aku bisa kau lupa. Bahwa kau berhenti percaya akan kekuatan secarik doa adalah satu-satunya tempat di mana kita bisa saling jumpa. Bahwa kau mulai percaya bahwa penantianmu hanya lah sia-sia.

Appendix-mu. Bukan lain adalah bekas jahitan usus buntu yg sering menggusarkan harimu. Bukan lain adalah akibat dari operasi itu yg membuatmu berputus asa akan masa depanmu. Bukan lain adalah kau yg berhenti percaya bahwa aku lah yg bisa menghancurkan putus asamu. Bukan lain adalah kita yg akan bersanding nantinya sebagai dua orang kuat yg sama-sama memiliki bekas jahitan yg tak cuma satu. 

Pola hidupmu. Aku tau kau perempuan. Akan sangat wajar apabila seseorang perempuan akan melakukan apapun agar terlihat baik di mata orang. Apa yg ingin kau ubah, sayang? Apa tak cukup hanya aku dan sahabat-sahabatmu yg akan mencintaimu di tengah apa adanya dirimu? Mengapa malu dengan kekuranganmu? Padahal itu yg bisa menunjukkan padamu siapa yg benar-benar sejati hanya sesedarhana ingin bersamamu.
Aku berat hati setiap kali aku mendengar kata diet-mu. Bukan lantaran aku menyayangimu sejak pertama kau merasuki mataku, kau masih bertubuh mungil. Tapi karena kau tak perlu menjadi sempurna untuk mata orang lain. Kau hanya perlu jadi sempurna dalam sujudmu kepada-Nya.
Aku ingin kau mencukupkan tidur malammu. Kalau saja aku bisa, aku ingin sekali menindas segala macam hal yg membuatmu terjaga hingga larut. Kalau saja aku bisa, aku yg akan berkorban dan menggantikan dia agar kau tak ragu untuk terlelap tanpa harus merasa sungkan padanya. Jika dan hanya jika.

Baik-baik kau di sana, aku tak pernah sekalipun berhenti datang pada satu-satunya tempat dimana kita bisa saling rengkuh, Doa. 

Tuhan, tak henti salamku untunya dari sini, mohon jaga ia dalam sibuk pagi dan siangnya dan mohon jaga ia dalam lelap malamnya.


Salam manis, untuk seseorang yg selalu berkelun dalam ingatan dan buaian rinduku,
Sayang,



—DAPw, @tweetbatin.


Senin, 09 Februari 2015

Ku Nikmati Prosesnya

Ku nikmati saja prosesnya.


Sedang apa kau di sana? Pertanyaan itu yg masih saja menggantung setinggi-tingginya rembulan menggantung cakrawalaku saat ini. Lantas ku jawab sendiri. Kau tengah bahagia. Aku tahu. Tak lagi ada di hatimu lelaki yg kau kagumi pandangannya pada dunia. Tak lagi kau anggap benar tuturku yg hanya berlaku menyanjungmu. Lantaran di sana kau tengah terlumuti dan tenggalam sanjungan priamu yg sedang gigih-gigihnya mempertahankanmu.

Aku berusaha menyangkal segala ego untuk melepas bahagiamu di situ. Aku tak akan mengusikmu. Tak akan ku dengarkan lagi aba-aba dari siapapun untuk hadir di sela-sela bahagiamu. Tak akan. Aku di sini, tak akan pula menjamin bahagiamu. Aku telah menyerah jauh ketika sahabatmu menyuratkan bahwa kau di sana tengah dimabuk bahagia dengan priamu. Ini akhirku.

Jangan lagi menunggu. Aku takut untuk datang. Aku takut kedatanganku malah akan membuat gaduh kebahagiaan sejatimu. Tak akan lama lagi aku akan mendapat berita duka bagi kematian batinku, yg berupa suratan bahwa kau akan segera menempuh hidup baru dengan priamu. Lalu mungkin aku akan menemuimu saat kau tengah menua dengan malaikat-malaikat kecilmu yg selalu kau impikan.

Saat masanya datang, jika aku berumur panjang, kau akan melihatku juga menua dan hidup sebagai seorang lelaki gagah yg punya segala rupa dan dunia. Aku akan sendiri. Dan tersirat dari kerut-kerut di sekujur tubuhku bahwa aku telah memerangi segala macam sengsara. Kita akan sadar bahwa apa yg kita nantikan selama ini, hanya akan jadi kenangan di sebuah reuni dua sahabat yg dulunya pernah saling menguatkan.

Jangan takut. Ketika masa itu datang pun, kau akan mendapati mataku sayu memandangmu, mungkin kau masih akan menemukan cintaku ada di sana. Namun itu cinta bukan lagi rasa untuk menggodamu bersanding denganku. Itu cinta adalah rasa yg selama itu terkubur hidup-hidup sebelum waktunya mati.

Akan jadi apapun ini, aku tengah menikmati setiap jengkal prosesnya. Aku menikmati benar. Bukan lagi proses menunggu aba-aba lalu berjuang, tapi proses hidup yg tak pernah bisa ku tebak. Yg pasti, aku akan telah mengawini kesendirianku dan akan beranak pinak kesunyian. Aku mencintai kesendirianku, seperti aku menginginkan hanya kau yg aku mau untuk dampingi aku dalam damaimu. Aku akan berdamai dengan masa depanmu, bahagiamu.



Surat-surat yg tertunda ini biar tak kau baca, masih ada beberapa pasang mata yg mengabadikan keteguhanku. Surat-surat ini, nanti di masa depan, hanya akan kau pandang sebagai puing-puing masa lalumu. Dan surat-surat yg terkubur oleh bahagia dan masa depanmu ini, pernah jadi saksi atas bahagianya seorang lelaki yg sejenak memelukmu dalam rengkuhan rindu.

Rasa terbaik yg pernah kumiliki,
Menyanjungmu dan menyayangimu,



—DAPw, @tweetbatin


Sabtu, 07 Februari 2015

Kau Terbaik.

Kau Terbaik.



Hai Rembulanku, kau perempuan terbaik yg pernah kucintai. Kau perempuan yg punya hati terbaik untuk kusayangi.

Terima kasih telah sempat singgah dan menjadi bagian dari setiap sari hidupku. Terima kasih telah mau menyempatkan untuk memantaskan diri untuk ku singgahi. Terima kasih telah menyempatkan diri untuk sabar dan kuat bagiku. Terima kasih telah memberiku kuat dan hati ini. Terima kasih telah sempat membuatku pernah merasa jadi yg terbaik di hatimu. Terima kasih telah merawatku dan hatiku saat tanganmu tak mampu. Terima kasih untukmu perempuan yg sedang dalam rengkuhan hatiku. Terima kasih kau pernah hadir, meski akhirnya kau pergi. Terima kasih.


Lelaki berpatah arang sejauh sanubari meniadakan senja dan mendatangkan rembulan,
Menyayangimu,


—DAPw, @tweetbatin

Senin, 02 Februari 2015

Setengah Aku, di sini.


Setengah.

Aku, D. Abarra Putra, tengah menantikan kabar dari seorang teman yang akan berkata kau disana masih sukar meninggalkan rindumu, masih saja berpeluk boneka lethek oleh bau peluh dan tangismu. 



Aku, seorang merindu, tengah menuliskan kabar rindu padamu. Aku mulai lelah mondar-mandir Pekanbaru-Batam. Di Kota Pekanbaru, aku tak benar-benar bisa bekerja keras, yang ada hanya duduk dan menghitung Jurnal Laba-Rugi atau hanya sesekali menunggu pelanggan datang di sebuah Store yg aku dan abangku dirikan. Jadi aku memutuskan untuk menyewa sebuah tempat tinggal di daerah Sekupang, Kota Batam dan membeli mobil bekas murah dari Singapura. Dan mulai meraba pekerjaan yg harusnya sudah lama kupegang sendiri, agar aku tahu seluk-beluk dan sengsaranya jadi mandor abal-abal, agar aku paham dari mana datangnya uang. 

Kabarku, di sini, Kota Batam, tak benar-benar melakukan hal yg lebih baik dari yg pernah kau semangati. Seringnya menelantarkan pekerjaanku untuk sekadar memeluk rindu dan bertanya kabarmu di sana. Aku, kini hanya setengah raga karna tak pernah berhenti terjaga oleh asap di paru-paruku. Kini hanya setengah jiwa karena sebagian lain telah terbawa alam khayal di mana kau akan menerimaku. Hanya setengah hati aku menghidupi hidupku, karena setengah hatiku telah patah arang tak tahu jalan pulang.

Meski tak perlu ku tanya kabarmu pun, aku sudah tahu, kau baik-baik saja dengan bahagiamu itu. Sedang di sini, aku terkekang rindu dan memudar oleh tua, akan tinggal selamanya di sini, sampai Tuhan menginginkanku berpindah ke hatimu seperti sedia kala.

Tak tahu harus dari mana aku harus bangun dan memulai hari. Aku saja tidur hanya jika ku tak sengaja. Ini hanya gambaran kecil saja tentang apa yg seringnya kulakukan di kota yg sengaja aku datangi untuk membuang penat dan rindu, mencari suasana baru. 

Pagi. Aku mencoba menguatkan raga dan mata dengan secangkir besar kopi hitam tanpa gula. Hingga matahari menyelinap di antara pagi buta dan bertumbukan dengan tirai jendela, aku mengumpulkan niat-niat dan rencana akan apa yg harus kulakukan. Dan apabila telah datang hari di mana sebuah kapal telah tiba dan apabila telah selesai melalui proses perpajakannya, aku yg lalu bertanggung jawab akan ke mana lagi muatan-muatan itu akan bertengger.

Siang. Ragaku telah lupa bagaimana rasanya lelah sisa kemarin. Aku telah jauh meninggalkan peraduan yg kusebut kontrakan. Aku mungkin telah sampai di perbatasan, mengitari dermaga-dermaga kuning tempat bersandar kapal-kapal raksasa yg berisi segudang benda konyol yg mereka sebut ponsel, yg daftarnya terlebih dahulu mampir di badan Bea, dengan membawa papan dada dan lembaran kertas bercorak kode dan centangan. Aku tak melakukan banyak, aku hanya di beri bagian pengecekan dan persiapan distribusi. Setelah barang-barang yg di periksa, box-box tersebut akan dimuat kembali ke dalam beberapa container sesuai dengan kota-kota yg meminta. Aku bekerja sama dengan Mas Reno—akrab kupanggil Bang Nonok, ia sebagai pengelola dan persiapan pajak barang masuk di perusahaan yang baru berdiri pada tahun 2010 dan baru meraksasa pada 2013. Dan aku yg bertanggung jawab mengeluarkan barang dari pelabuhan.

Sore. Saat siang hariku telah meluluh lantakkan energiku, aku akan duduk bersandar pada kursi teras yang tak pernah tertata. Menyisakan sedikit waktu untuk berguyur air hangat. Lalu kembali pergi untuk membuat sajak-sajak tentang kesepakatan. Memeriksa bahwa semua yg telah aku iyakan adalah tepat dan tidak merugikan siapapun, tidak pula negeriku. Dan memberi konfirmasi pada perwakilan pemilik saham terbesar di PT distribusi yg terdapat segelintir lembar nama bapakku di dalamnya —sengaja nama beliau yg aku kokohkan sebagai salah satu pemegang saham, tanda baktiku untuk nama beliau, bahwa semua sudah siap disalurkan ke Pekanbaru, Jakarta, Samarinda, Banjarmasin, dan beberapa kota lain.

Malam. Apa itu malam? Rasanya aku tak punya batas, mana malam mana pagi. Kadang hanya pertemuan dengan segelintir pria yg mendaftarkan nama storenya untuk menampung barangku di sana. Memastikan angka agar tak ada yg merugi. Atau hanya bertemu dengan orang-orang baru di lingkungaku, membuat gelagak tawa semu penutup rindu. Menikmati malam dan tak peduli apa itu makna lelah. Iya. Aku menikmati setiap detik perjalanan pulang yg aku susuri tiap malamnya. Aku menikmati lampu-lampu jalanan yg berwarna sephia jatuh di ubun-ubunku. Karena setiap kali aku melihat cahaya lampu itu, aku yakin itu cahaya yg sama yg berpendar di setiap jalan menuju tempatmu, rumahmu. Dan begitu hanya ada lampu serta langit diatasnya, yg mampu membuatku merasa dekat denganmu.

Ah, tapi rasanya, akan lebih nikmat... Jika saja aku bisa bersandar lelah pada kasur tak beranjang dan bahagia melihat namamu bermunculan di ponselku, melihat bagaimana kalimat-kalimatmu membuatku tersenyum lega. Melihat bagaimana chat mu mengusik jantungku berdebar tanpa khawatir kau akan jatuh hati kepada pria lain. Melihat gambar wajahmu yg menggugah semangatku lagi.

Biarlah biar, aku saja yg berkhayal seperti itu. Biar jantungku saja yg memompa pertarungan antara logikaku yg ingin aku lekas menghentikan khayal itu, dengan batinku yg masih merindukan kata-kata manis pengusap peluhku. Kau tak perlu khawatir, aku akan baik saja, pasrah pada asap yg akan membunuhku perlahan atau mati menua menjadi lapuk.

Kucukupkan salam rindu ini, dari ujung negeri, memastikan aku tak terlalu mengekang tubuhku terlalu keras. Tubuhku kurasakan mulai sedikit melemah, karna kau tau, apa yg aku lakukan di Bandung untuk mengabdi pada bapakku, itu jauh lebih berat ketimbang di sini, mengabdi untuk pukih hatiku.

Aku, D. Abarra Putra, bermaksud menyampaikan setengah dari apa yg tengah ku biasakan untuk bertahun-tahun selanjutnya,
Rinduku,



—DAPw, @tweetbatin



Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates