Aku tidak mengerti sampai kemarin, kenapa "gembel"? Kenapa tidak yg lain? Hingga hari ini aku paham betul, kenapa sebutan itu yg kau berikanl padaku.
Apa yg kau pikirkan tentang kata itu? Gelandangan, miskin, tak punya tujuan, luntang lantung sendirian? Rupanya sebutan itu tak lain adalah gambaran yg ingin kau berikan padaku di masa depan.
Gelandangan. Seperti orang yg berbuat sesukanya dan berteriak " YOLO, hidup cuman sekali kan?!". Merokok sekuatnya, minum semabuknya, menyanyi sebahagianya. Tapi ya benar, ya begitulah aku sekarang. Aku perokok, aku tidak minum tapi aku mabuk, aku menyanyi tapi tak bahagia.
Miskin. Tak punya harta, katanya. Memelas dan memohon belas kasih. Merasa iri melihat mereka yg beruntung. Iya, aku bekerja. Di usiaku kini, aku sudah mampu menghasilkan uang jajanku sendiri. Meskipun bukan aku sendiri yg turun tangan, tanganku tak cukup tulang untuk digerakkan. Tapi tak bisa kupakai uang jajanku untuk sekadar berkencan denganmu. Memelas belas kasihmu, untuk kembali dan kembali, sedikit memaksa meski aku tahu kau tak akan memberi lagi. Lalu, merasa iri pada ia yg sekarang beruntung ada di tempatku dulu. Merasakan gelisah
Tak punya tujuan. Haha. Geli rasanya. Aku pikir baru kemarin aku impianku melayang disela sayap malaikat hitam. indah dan nyaman namun tak terlihat. belum. Merasakan indahnya belahan dunia eropa dan musim seminya. Aku pikir disana lah aku akan mengawali mimpiku, memulai dari nol. Sembuh, sekolah dan indahnya kerja paruh waktu, pulang dan mengabdi pada tatanan orang tua dan tanah air, lalu meminangmu dan memimpinmu, menyahur hutang bahagiamu yg ketika muda kau gadaikan untuk bersamaku, memiliki malaikat malaikat pagi yg riuh, menggenggam tanganmu, layu menua dan berguguran di sampingmu. Indah, meski ku tahu itu tak semudah itu. Pasti banyak rintangan. Tapi yg kuhadapi sekarang bukanlah rintangan, tapi sebuah akhir. Jadi betul, impianmu dengannya adalah kiamat bagi impianku. Cukup.
Luntang lantung sendirian. Aku punya ibu dan naura yg kurasa cukup untuk menemaniku sampai dadu kehidupan terlempar tentang siapa yg akan berpulang lebih dulu. Setidaknya aku juga punya teman bermain playstation, haha. Tapi hidup dengan naura dan playstation adalah hidup tentang menjalani hidup yg sekarang tanpa berangan untuk yg akan datang. Tak bisa berangan, tak dapat menggayuh dan menjulang, hanya berjalan sekadarnya orang biasa. Bagaimana bisa aku menilai hidup tanpa sebuah impian? Jadi jika dijalani, hanya aku sendiri saja yg bermimpi? Lalu yg menemaniku didalam mimpiku siapa? Apa enaknya mimpi sendirian? Lengang, luntang lantung, mimpi kosong, mimpi duduk di trotoar.
Orang bilang, nama adalah sebuah pengharapan dari yg memberinya. Jadi aku tahu tujuanmu dalam hidupku kini. Membawaku pada sayap malaikat hitam tanpa menemui malaikat malaikat pagiku —jun, arla, trian. Gembe-lah aku sekarang.
Love, gembel from yesterday
—DAP a.k.a @tweetbatin
