A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Minggu, 23 Maret 2014

Gembel.

Aku tidak mengerti sampai kemarin, kenapa "gembel"? Kenapa tidak yg lain? Hingga hari ini aku paham betul, kenapa sebutan itu yg kau berikanl padaku.
Apa yg kau pikirkan tentang kata itu? Gelandangan, miskin, tak punya tujuan, luntang lantung sendirian? Rupanya sebutan itu tak lain adalah gambaran yg ingin kau berikan padaku di masa depan.

Gelandangan. Seperti orang yg berbuat sesukanya dan berteriak " YOLO, hidup cuman sekali kan?!". Merokok sekuatnya, minum semabuknya, menyanyi sebahagianya. Tapi ya benar, ya begitulah aku sekarang. Aku perokok, aku tidak minum tapi aku mabuk, aku menyanyi tapi tak bahagia.

Miskin. Tak punya harta, katanya. Memelas dan memohon belas kasih. Merasa iri melihat mereka yg beruntung. Iya, aku bekerja. Di usiaku kini, aku sudah mampu menghasilkan uang jajanku sendiri. Meskipun bukan aku sendiri yg turun tangan, tanganku tak cukup tulang untuk digerakkan. Tapi tak bisa kupakai uang jajanku untuk sekadar berkencan denganmu. Memelas belas kasihmu, untuk kembali dan kembali, sedikit memaksa meski aku tahu kau tak akan memberi lagi. Lalu, merasa iri pada ia yg sekarang beruntung ada di tempatku dulu. Merasakan gelisah

Tak punya tujuan. Haha. Geli rasanya. Aku pikir baru kemarin aku impianku melayang disela sayap malaikat hitam. indah dan nyaman namun tak terlihat. belum. Merasakan indahnya belahan dunia eropa dan musim seminya. Aku pikir disana lah aku akan mengawali mimpiku, memulai dari nol. Sembuh, sekolah dan indahnya kerja paruh waktu, pulang dan mengabdi pada tatanan orang tua dan tanah air, lalu meminangmu dan memimpinmu, menyahur hutang bahagiamu yg ketika muda kau gadaikan untuk bersamaku, memiliki malaikat malaikat pagi yg riuh, menggenggam tanganmu, layu menua dan berguguran di sampingmu. Indah, meski ku tahu itu tak semudah itu. Pasti banyak rintangan. Tapi yg kuhadapi sekarang bukanlah rintangan, tapi sebuah akhir. Jadi betul, impianmu dengannya adalah kiamat bagi impianku. Cukup.

Luntang lantung sendirian. Aku punya ibu dan naura yg kurasa cukup untuk menemaniku sampai dadu kehidupan terlempar tentang siapa yg akan berpulang lebih dulu. Setidaknya aku juga punya teman bermain playstation, haha. Tapi hidup dengan naura dan playstation adalah hidup tentang menjalani hidup yg sekarang tanpa berangan untuk yg akan datang. Tak bisa berangan, tak dapat menggayuh dan menjulang, hanya berjalan sekadarnya orang biasa. Bagaimana bisa aku menilai hidup tanpa sebuah impian? Jadi jika dijalani, hanya aku sendiri saja yg bermimpi? Lalu yg menemaniku didalam mimpiku siapa? Apa enaknya mimpi sendirian? Lengang, luntang lantung, mimpi kosong, mimpi duduk di trotoar. 

Orang bilang, nama adalah sebuah pengharapan dari yg memberinya. Jadi aku tahu tujuanmu dalam hidupku kini. Membawaku pada sayap malaikat hitam tanpa menemui malaikat malaikat pagiku —jun, arla, trian. Gembe-lah aku sekarang.


Love, gembel from yesterday


—DAP a.k.a @tweetbatin

Senin, 17 Maret 2014

Aku terluka? Tidak.



Terluka katamu? Haha tidak. Maksudnya, tidak perlu bertanya kau sudah tahu jawabannya. Luka apanya? Aku malah kau buat bahagia. Aku malah hidup di hidupku yg kau warnai. Apa aku pernah mengeluh dengan warna warna itu? Tidak, sekalipun.

Tanyakan aku apa waktu itu aku bahagia, maka aku akan menjawab iya. Aku bahkan terlalu bahagia untuk kehilanganmu. Orang menilai aku terlalu cinta dengan diriku sendiri. Orang bilang aku tak mau melepasmu karena aku takut sakit akan kehilanganmu. Orang bilang cinta itu membuatku egois dengan mengekangmu. Mungkin benar, aku terlalu takut merasakan sakit, siapa yg mau sakit? Tapi orang tak pernah tahu kenapa aku takut kehilanganmu, kenapa aku mengekangmu. Dan orang tak pernah tahu bagaimana sakitnya harus berpura pura turut bahagia saat ia mampu membuatmu jauh bahagia. Ini yg sedari dulu aku takutkan, sebenar benarnya.

Kau bilang hidupku kedepan masih sangat panjang, aku tak perlu menetap dan terjebak, aku bisa mendapatkan yg lebih baik di depan. Aku tak melihat secuilpun sketsa dari masa depan yg lebih luas setelah kau tinggalkan. Aku mengkerut. Hidupku pucat. Dulu aku terlalu takut sakit untuk melepasmu. Sekarang aku tak peduli berapapu aku menyakiti diri hanya untuk mendapat kabarmu.
Remuk rasanya ketika kau bilang aku tak bisa lagi mendapat kabar darimu. Remuk rasanya ketika kau bilang ialah lelaki yg akan kau nikahi. Remuk rasanya ketika aku tidak lagi menjadi cita citamu. Remuk rasanya ketika aku membayangkan ia yg akan merangkulmu tidur di dadanya. Cekung ulu hatiku membayangkan nama anak anakmu bukan jun arla atau trian. Lalu aku tertawa dalam tangisku. Lalu kau bahagia dalam tangisku.
*aku nangis kejer nulis ini, ndel :D*
Bukan, bukan tangis karena terluka. Ini tangis bingung karena tak tahu harus apa malam esok saat aku tahu ia sedang memelukmu tidur dalam dadanya. Lalu aku tertawa lagi sekarang. Menertawakan lucunya tidurku malam itu yg seolah aku memelukmu disaat orang lain yg tak pernah bermimpi memelukmu dalam tidurnya, dia yg sesungguhnya memelukmu.

Andai saja aku bisa seperti lelaki lain yg dengan mudahnya masa bodoh dengan mantan yg sudah menikah dan tak akan terbayang hal bodol spt itu. Sendainya aku mampu dengan mudah melupakanmu dan menggantikanmu sesukaku. Seandainya aku lelaki yg dengan mudah mencumbu gadis gadis sesukaku tanpa pedulikan kau. Seandainya aku lelaki yg dengan mudah memasukkan tititku kesana kemari. Tak ingatkah kau, saat aku bilang, naura telah menciumku dan aku hanya diam saja? Kau bilang aku seperti gigolo, haha. Kau menyuruhku untuk tak dengan mudah memberikan tubuhku pada orang lain. Kau menyuruhku untuk tetap perjaka saat aku menikah nanti. Tak tahu kah kau, waktu itu aku ingin sekali mengatakan bahwa aku inginnya kamu yg akan kunikahi?

Kini telah berbeda. Bedebah. Semua terlihat sama ketika belum ada dusta dan ketidak jujuran. Semua terlihat sama ketika rinduku berkobar tanpa henti dan engkau turuti. Semua terasa berbeda saat kau tak meninggalkanku tanpa sebab. Semua terlihat sama ketika kau tak bosan dengan hidupmu denganku. Semua terasa sama ketika perempuan itu kau jadikan alasan penutup kau menunggalkanku. Kini dustamu berbuah manis bagimu. Kau bahkan telah jauh berhasil mendapatkan CALON SUAMIMU. Lelaki yg baru kau temui kutilan hari, telah kau ajak menikah, dengan modal kenyamana dan kemiripan sifatnya. Disini aku hanya tertawa masam, dengan telinga tak berlubang. Telinga tak berlubang, tak mau mendengarkan nasihat orang. Dan aku masih ingin berujung seperti Pak Bambang.


Aku menyayangimu, dari ujung lidahku hingga ketepian nuraniku, hingga ke ujung umurku.



—Love, DAP a.k.a @tweetbatin

Rabu, 12 Maret 2014

Belajar.

Iya, aku merasa ini hanya cobaan bagiku. Kurasa Tuhan hanya mengetesku seberapa pantas aku bagimu. Tuhan seolah menjanjikanmu padaku kelak jika aku mampu bersabar melewati ini. Sabar. Mungkin benar katanya, aku terlalu egois dan kekanakan. Mungkin disini lah aku belajar apa itu keasabaran.
Sabar. Tentang bagaimana aku harus menahan amarah saat kutahu ia sedang membelaimu. Tentang bagaimana aku harus tetap menunjukkan perhatian dan usahaku meskipun aku tahu akan ada yg melarangmu menghubungiku. Tentang bagaimana harus menahan hasrat untuk memilikimu. Tentang bagaimana harus menunggu dengan tenang.

Namun terkadang, aku merasa, doa ibukulah yg didengar Tuhan, untuk semakin menjauhkanku darimu. Lebih tepatnya dari kasih sayangmu. Tuhan menjauhkanku darimu, berpisah dan tak berjodoh, melamun dan kesepian, tangis tawa seperti orang gila. Tapi aku yakin jika itu doa ibuku, pastilah beliau mendoakan untuk masa depanku yg lebih baik. Meskipun kurasa, kamulah yg paling pas untuk masa depanku. Beliau tak pernah bermaksud untuk melukai perasaanku dan membuatku lebih hancur lagi. Akulah yg hancur sendirinya.

Tapi biarlah! Kita lihat saja apa yg Tuhan maksud untuk kita. Dan apapun maksud Tuhan dengan semua ini, jun adalah jun, arla adalah arla, trian tetaplah trian. Mereka akan jadi mutiaraku kelak.
Kalaulah Tuhan mentakdirkan aku berjodoh dengan yg lain, anak anakku akan tetap ku beri nama nama itu. Ataupun kalau Tuhan tak mentakdirkan aku bertemu jodohku di dunia, anak anak panti kelak yg akan kuberi nama nama itu.

Dan siapapun mereka, anak dari siapapun mereka, aku akan mencari seribu kesempatan untuk memberitahu mereka bagaimana nama nama itu terbuat, apa arti dari nama nama itu. Dan sesibuk apapun aku dalam menjadi ayah kelak, aku akan salau meluangkan waktu sebelum mereka tidur hanya untuk menceritakan sebuah cerita yg kurasa tak pernah ada ujungnya, dengan atau tanpa jodohku.

Junio Delanda Evan Putra dan Triandelan Octavian Dimas Putra. Akan jadi anak anak lelakiku, matahariku, ksatriaku, harapanku. Jika kamu yg akan jadi ibu mereka, aku akan dengan senang hati menceritakan kisah tentang ibu mereka. Aku akan meyakinkan mereka bahwa ibu mereka benar benar seorang playgirl, idaman semua pria dijamanku, belia ayu nan unik, gadis kepala batu, tak peka, namun banyak lelaki menginginkannya. Aku lelaki tak rupawan, tak kaya, tak punya kepandaian, dengan peperanganku, mampu mendapatkan hatimu. Dan inilah aku, ayah mereka, telah mendapatkan perempuan terhebat mereka, kamu. Sehingga mereka dapat melihatku sebagai pahlawan mereka, kelak ketika mereka tumbuh dan mengerti. "Kalian tahu, mandel kalian itu sempat jatuh hati beberapa kali pada beberapa pria. Mereka semua punya kelebihan, mereka pantas bila bersanding dengan mandel, ketimbang pambel yg sudah jelek, hitam, bodoh juga tak kaya. Pambel tak ada apa apanya. Tapi lihat, mandelmu jatuh hati lagi pada pandel yg sabar dulu nungguin dia pacaran sama orang lain." Hmm, kau bisa bayangkan bagaimana sombongnya nada bicara dan mimik muka ku saat mengatakan itu. Sombong depan mereka, bangga karena.
Aku akan menciptakan mindset para lelakiku, dimana lelaki harus memulai dari nol, dari ketidakmampuan, dari ketidakpunyaan, dari perjuangan dan kesabaran.

Tereshia Arlanda Nawang Putri. Akan jadi putri tunggalku, bintangku, harapanku. Jika kamu yg akan melahirkannya, aku akan dengan senang hati menceritakan betapa gagahnya aku dan masa mudaku. Pesonaku bagai pangeran, aku mampu mendapatkanmu. "Mandelmu itu, dulu lugu, mangkanya mudah sekali terpikat oleh orang lain. Banyak yg suka sama mandelmu, pambel sampai kualahan. Pambel dulu ganteng, pinter pula. Gak sedikit juga yg suka sama pambel. Tapi pambel sayang sama mandel, jadi meskipun mandel sama pambel sama sama banyak disukain orang, pambel tetep mau perjuangin mandel, dulu". Sehingga Arla bisa memandangku sebagai pangeran rupawan yg dengan hebatnya mampu membuat ibunya jatuh hati lagi dan lagi. Mindset yang akan kutanam pada gadisku adalah bagaimana menghargai sebuah keputusan, menghargai sebuah perjuangan, menyelami apa itu kesetiaan yg pantas untuk dijaga terus menerus. 

Haha konyol memang. Tapi itulah imajinasiku. Aku juga tak bisa mengendalikan imajinasiku tentang itu. Kubiarkan, entah kemana. Melambung setinggi tinggi nya, yang kusebut, perencanaan dari masa depan. Karena otakku tak hanya menghasilkan satu macam rencana. Tapi bermacam macam, banyak kemungkinan lain yg aku pikirkan, meskipun akhirnya ku kembalikan pada Yang Kuasa. Satu hal, jun arla dan trian adalah hal terindah yg pernah kau beri tahta di dalam pikiranku, juga hatiku. Tak pernah hatiku sebahagia itu ketika kamu bilang kamu akan hidup denganku untuk mereka. 
"Teruslah bermimpi, Bam! Sebelum kau tidur terlalu panjang dan terlalu nyenyak untuk mempunyai mimpi." Aku terus bermimpi mumpung bisa, sebelum mati sia sia.
Aku memang seorang pemimpi. Bahkan sebelum kamu pun aku punya mimpi. Tapi tak pernah punya keyakinan. Tapi bersamamu, aku punya banyak mimpi dengan banyak keyakinan didalamnya. Tak pernah senyata itu. Tak pernah se-bergairah itu untuk bermimpi sebelumnya. Ketika keyakinan adalah kunci mutlak untuk impian yg akan terwujud, kaulah keyakinan bagi impian impian itu. Kaulah nyawa bagi impianku.

Impian tetap impian jika aku tak mampu menggapainya. Jikalah memang impianku untuk bisa bersamamu kelak berakhir hanya sebagai angan, aku masih punya jun arla dan trian, merekalah angan yg pernah kau beri.
Jika kita tak berjodoh, kisah yg akan kuceritakan hanya akan menjadi dongeng nyata dari masa lalu sang pendongeng. Hanya akan jadi cerita pengantar tidur yg entah mereka pikir itu nyata atau tidak, kelak biarkan mereka yg berimajinasi.

Yesterday Love,


—DAP a.k.a @tweetbatin



Telepon.



Malam ini, malam dimana aku bisa mendengar suaramu, setelah sekian lama tak dapat ku dengar. Entah apa yg terlintas, aku yg sedang dalam rangka menindas segala macam pengeluaran biaya selama disini, tiba tiba terpikir untuk menelpon nomormu. Hanya untuk mendengar suaramu...meski hanya dua detik. Rasa rinduku tujuh bulan tertinggal, terbayar lunas sudah dengan dua detik suaramu. Entah apa yg terpikirkan. Aku pernah melakukan ini dulu, nekad pagi pagi menelponmu, dan sama, suaramu...menghanyutkan dalam derasnya aliran darahku, membakarku tepat di jantungku. Hanya suaramu.

Beberapa hari setelah Idul Fitri, 2010. Aku tak sampai hati menunggu untuk menelpon nomormu yg kudapat dari temanku. Hingga sampai pagi hari tak jemu aku dan tak terkantuk aku memikirkan bagaimana aku harus memulai denganmu. Dan aku ingat betul pagi itu. Pagi yang masih sedikit ungu. Dengan kabut pagi ala pedesaan di penghujung kemarau. Aku lantas memberanikan diri datang pada selasar ruang tamu rumah Eyang Putriku. Masih saja lengang. Harum sejuk pagi bercampur dengan aroma ruangan yg hampir semua adalah kayu, khas jawa. Ruang tamu yang kuning berbalut ungu pagi hari. Aku duduk di kursi kayu coklat tua dekat jendela yg masih berembun. Dan para rewang Eyang Putri baru saja datang dari pasar untuk berbelanja. Aku terus memandangi layar handphonek dan terus mengusapnya dengan ibu jariku. Butuh setengah jam untuk membuat keputusan. Tak tahu apa yg aku pikirkan, aku lalu menekan tombol panggil. Dan jadilah kali pertama aku mendengar suaramu. Hanya butuh beberapa detik, bisa saja menggebuh jantung tua ini dan seakan berkata dalam hati " disinilah kisahku akan dimulai"

Lalu hari ini, sore ini. Berat hati tak karuan menahan rindu tak memiliki suaramu dalam satu indera yg peka pada kerinduan. Sore hari yg beranjak gelap dengan cepat. Dan lagi lagi jendela yg berembun. Hatiku juga, berembun. Pilu, panas membakar hidungku. Line-ku tak kau baca, aku takut kau telah memblokirku dari salah satu jejaring itu. Takut bukan lain dan tidak bukan. Membuatku mematikan emosi jiwaku, memadamkan api pembakar nyaliku, dan dua detik juga telah melunasi kerinduanku berbulan bulan. Suara kantukmu, suara serak khas kantukmu. Hanya beberapa detik mampu merobohkan setengah jantung tua ini, sampai aku bekata dalam hati, "disinilah kisahku harus berakhir".

Dua momen yg hampir sama, aku menelponmu dalam keadaan kau masih tertidur. Dan kau mengangkat telponku dengan suara serak khas kantukmu, suara yg sama. Serak pada bagian "ha" dan desahan pada bagian "lo". Sama persis seperti kala pagi itu. Dan jantungku berdegup sama pada porsinya. Porsi degupan yg membuatku ngilu pada setiap titik urat nadiku, nyata. Itu yg benar aku rasakan. Namun bedanya, pagi itu aku memulai semuanya, dan sore ini aku bertanya akankah berakhir senja ini. Senja yg terlalu dini bagi kisah ini. Pagi itu tuan pemilik hatimu belum juga datang, aku juga belum terlambat datang. Tapi senja ini, kurasa sudah ada pemilik hatimu, sehingga kurasa haram bagiku menyentuh hatimu.

Ngilu batinku rasanya. Napasku terasa bedesakan brutal tak pada porsinya. Aku menahan linangan bulir di mataku, sekuat tenaga. Berusaha mengambil napas kesejukan di musim ini. Dan sekali lagi. Momen benturan antara nafasndan detak jantung yg tak teratur, momen benturan dari kedua katup kelopak mata yg tak bisa menahan linangan bulir kejantananku —air mata, momen benturan hatiku untuk terus atau mencukupkan kesusahan hati ini.

Tak bisa aku membayangkan bagaimana hidupku kelak saat kau telah dinikahi olehnya. Akankah hidupku akan tenang, tentram, sejahtera dan sentosa? Ataukah hidupku hanya akan menjadi dongeng yg lukanya dibiarkan menganga?

Mudah ya, kau buat aku bersumpah untuk memperjuangkan hidup denganmu berdua, kau janjikan suci hati dan ragamu untuk hidup berdua bersamaku, lalu kau ingkar mulutmu sendiri dan menyuruhku ingkar pada sumpahku sendiri. Dengan sangat tak berdosa kau menyuruhku untuk mencari wanita lain agar aku bahagia kelak. Bagaimana orang bisa kenyang dengan menjilat ludahnya sendiri? Lalu bagaimana aku bisa bahagia dengan mengingkari sumpahku sendiri.
Berjanji untuk menjadi teman hidup mungkin bagimu sangat mudah, karena otakmu terlalu dangkal untuk mengukur satu janji satu sumpah, kau terlalu anak kecil. Kau lebih memilih bahagiamu sendiri dan menjilat ludahmu. Kau pikir menjilat ludahmu bisa membuatmu bahagia, lalu bahagia bisa membuatmu kenyang?
Tapi janji macam itu hanya kuucapkan sekali seumur hidupku, pada satu orang yg kukira datang tidak untuk menjilat ludah. Apa pernah kau berpikir sampai seumur hidup seseorang yg kau suruh berjanji? Lalu kau hanya mengucap maaf dengan acuh? Lupa kah kau, pelajaran sekolah dasar tentang apa itu janji? Kata maaf itu seakan jadi proposal untuk mengingkari janji. Lupakah kau bahwa janji itu dibayar bukan dengan kata maaf untuk mengingkari? Pernahkah guru Bahasa Indonesia favoritmu mengajari bahwa mengingkari janji adalah dengan membuat proposal?
Lalu bagaimana nasib janji yg kau tinggalkan? Janji yg kau acuhkan? Lalu bagaimana dengan manusia yg hanya punya satu buah "seumur hidup" untuk sumpahnya?
Tak lihatkah kau, wanita wanita yg lebih sempurna darimu seolah memintaku bersumpah hal yg sama? Tapi coba lihat jawabanku, "kau perlu menunggu "seumur hidup"ku yg lain untuk membuatku bersumpah seperti itu". 

Lalu kau pikir ini cinta apa? Cinta monyet? Cinta sejenak? Ataukah cinta monyet sejenak? Haha kau pikir kau siapa? Memang adakah monyet yg mengakuimu sbg bangsanya? Monyet saja memandang hina cinta seperti itu.
Hingga aku tau, kau terlalu muda untuk mengucap janji seperti itu. Kau terlalu tak mau sakit untuk memperdulikan perasaan orang lain. Itu mungkin sebabnya kenapa kau tak lekas dewasa. 


the unfortunate Love,
—DAP a.k.a @Tweetbatin
Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates