A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Kamis, 30 Juli 2015

Ajari Aku Bahasamu.

Ajari aku bahasamu. Ajari aku mengambil hatimu, agar tak melulu kau kasihani aku.



Kopi pagi serta cangkirnya saja sudah mampu membuat semangatku meninggi kali ini. Membuat jemariku merangkak semakin lemah di atas bantalan papan tombol penuh energi. Menarik mataku berdiri dan menari-nari mengitari ruangan dengan penuh nyali. Lalu mengapa, hati ini masih saja belum cukup lincah mengikuti gerakmu yg memanah mata ini?

Dan apabila telah datang waktunya semua tanyaku tentang perasaanmu padaku kini telah mengusik tarianmu dan membuatmu ingin menjamahi sudut kebuntuan hatimu, maka ajari aku menari sepertimu. Ajari aku menari tanpa menginjak kakimu. Ajari melukisi sudut buntu itu.

Kenapa tak kau biarkan saja tandu gorong-gorong di jiwamu terbuka? Agar air keruhnya tak melumurimu dalam gelapnya mata saat terbuka. Perlukah namaku yg di atas nisan? Agar matamu terbelalak bahwa ada seorang lelaki yg kian mencintaimu, tak butuh balasan atau sekalipun belas kasihan.

Tapi apa aku tak bahagia? Tidak, aku bahagia. Mengapa aku bisa bahagia saat aku tahu bahkan kau sudah tak sanggup membiarkan rasamu tumbuh membelukar, bahkan saat aku tahu, mungkin tak setitikpun rindu tertera?

Mungkin karna kurasa Tuhan masih mau mendengar pinta seorang pendosa sepertiku yg gemar menyundut tangis di antara doa. Mungkin karna Tuhan masih ingin tahu seberapa besar syukurku saat hariku kau lukiskan tawa.

Semoga Tuhan beri kita sabar yg lebih besar. Semoga Tuhan lapangkan dada kita untuk menampung rasa yg bisa kapan saja membumbung. Semoga Tuhan memberatkan nafas kita saat tangan-tangan kita terangkat mengusap syukur.

Ajari aku mengerti bahasamu, agar aku mampu memintamu untuk mengajariku sekali lagi menari mengitari hatimu.




—DAPw, @tweetbatin.

Senin, 06 Juli 2015

Dihisapnya Secangkir Kopi.

Dihisapnya Secangkir Kopi

Dihisapnya secangkir kopi, lalu lahirlah harfiah dalam hati.

(Quotes are originally by DAPw, pics are by unknown)


Di antara kami yg tersesat di tengah gurun perkotaan dengan hiruk pikuk sedemikian rupa penatnya, kami haus melihat hijau hamparan gunung, kilaunya pasir dan busa ombak, dan membirunya sungai lepas. Tatkala kami harus begegas rapi di pagi hari, menatap dan membatin bahwa matahari di ufuk nanti yg akan menyerap setiap tenaga yg kami tenggak. 

Kami sendiri belum tahu ke mana darah kami hendak mengalir. Tapi selama sang pujaan masih bertengger di kerumunan detak nadi ini, kami belum mengenal letih. Kini kami, para lelaki mencoba membudak demi masa depan agar tak lagi kami tangisi. Letih? Pasti.

Setidaknya sebelum kami mampu menggeser surya mendekati cakrawala, kami punya sedikit waktu menari mengitari jenuhnya kota. Bukan untuk hijaunya gunung, bukan lagi ombak, apa lagi sungai yg liar arusnya. Hanya bertengger menikmati hitam putih kopi dengan cangkirnya. 

Kami, para pria tak minta utk diberi seelok-eloknya perempuan dengan mata semegah surya. Bukan kulit secerah mutiara. Bukan lagi bersarat berlian jarinya. Kami hanya mampu memimpikan wanita berhiaskan noda kopi di kemeja putih kami yg ia kenakan, saat sang surya pun belum mampu menggugah kami dari madunya. Wanita dengan bibir lembut yg mampu menggugah kami berdiri tegak diantara ribuan pria lainnya. Wanita yg punya nyali meracik secangkir kopi yg membuat kami semangat menuai kata-kata indahnya.

Lihat kan, seberapa letihnya kami hari ini? Jangan kalian anggap gurauan semata  ini. Namun bukan ribuan biji berlian, bukan lagi jabatan, apa lagi perempuan. Hanya perlu beberapa biji kopi yg mampu membuat bualan kami terdengar seperti impian. Sederhana bukan?



—DAPw, @tweetbatin


Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates