Ajari aku bahasamu. Ajari aku mengambil hatimu, agar tak melulu kau kasihani aku.
Kopi pagi serta cangkirnya saja sudah mampu membuat semangatku meninggi kali ini. Membuat jemariku merangkak semakin lemah di atas bantalan papan tombol penuh energi. Menarik mataku berdiri dan menari-nari mengitari ruangan dengan penuh nyali. Lalu mengapa, hati ini masih saja belum cukup lincah mengikuti gerakmu yg memanah mata ini?
Dan apabila telah datang waktunya semua tanyaku tentang perasaanmu padaku kini telah mengusik tarianmu dan membuatmu ingin menjamahi sudut kebuntuan hatimu, maka ajari aku menari sepertimu. Ajari aku menari tanpa menginjak kakimu. Ajari melukisi sudut buntu itu.
Kenapa tak kau biarkan saja tandu gorong-gorong di jiwamu terbuka? Agar air keruhnya tak melumurimu dalam gelapnya mata saat terbuka. Perlukah namaku yg di atas nisan? Agar matamu terbelalak bahwa ada seorang lelaki yg kian mencintaimu, tak butuh balasan atau sekalipun belas kasihan.
Tapi apa aku tak bahagia? Tidak, aku bahagia. Mengapa aku bisa bahagia saat aku tahu bahkan kau sudah tak sanggup membiarkan rasamu tumbuh membelukar, bahkan saat aku tahu, mungkin tak setitikpun rindu tertera?
Mungkin karna kurasa Tuhan masih mau mendengar pinta seorang pendosa sepertiku yg gemar menyundut tangis di antara doa. Mungkin karna Tuhan masih ingin tahu seberapa besar syukurku saat hariku kau lukiskan tawa.
Semoga Tuhan beri kita sabar yg lebih besar. Semoga Tuhan lapangkan dada kita untuk menampung rasa yg bisa kapan saja membumbung. Semoga Tuhan memberatkan nafas kita saat tangan-tangan kita terangkat mengusap syukur.
Ajari aku mengerti bahasamu, agar aku mampu memintamu untuk mengajariku sekali lagi menari mengitari hatimu.
—DAPw, @tweetbatin.


