Sekedar Tentang Dunia Saat Kau Tak Kembali.
Aku pernah dengar dari suatu tempat, "semua yg pernah pergi, meskipun kembali, tak akan pernah sama lagi."
Entahlah, aku suka sekali mendengar senandung dari kalimat itu. Dalam hati, memang agak berat untuk meng-iya-kan kalimat itu. Namun akhirnya kalimat itu mampu memenangkan akal sehatku.
Kala itu, saat kita masih menjadi dua manusia bernafaskan udara atas nama asmara, aku melihat duniamu terlalu sempit jika hanya ada aku-aku saja yg mewakili dunia luarmu. Dan duniaku terlalu luas dengan melihat 3/2 lingkar matamu membentuk senyum segaris dengan bibirmu. Sampai ketika ada palung yg terlalu dalam, dan semakin lama semakin dalam, merobek partikel udara bernama asmara kita.
Hingga dua tahun, kau dan aku, tak bisa menyangkali bahwa hujan selalu berhasil membawa peluh di pelupuk mata dan rindu di ambang roma. Kita kembali membangun jembatan untuk mengabaikan palung pemisah kita.
Aku tetap kukuh ingin bersamamu meski aku tahu, aku bisa kapan saja jatuh. Aku tetap kukuh, membangun kembali duniaku di mana hanya ada lingkar mata dan bibirmu yg sekaligus membentangkan bulan di hidupku di dalam situ.
Setelah dua tahun, kau kenal dunia luarmu yg luas itu, kau mungkin pernah tersesat sendiri tanpaku. Kau mungkin sudah lihai menari dan menangis dalam hujan sendiri. Kau mungkin pernah bernanah dimakan hama-hama di musim kemarau, sendiri. Lalu aku seperti capung yg memcoba menyelinap ditengah-tangah hamparan duniamu yg begitu luas, aku sadar akan sesuatu. Bahwa aku yg kini tersesat di belantara hutanmu, aku tak bisa menemukan 'diri'mu yg selalu aku rindu. Intinya, di dalam keterasinganmu di duniamu tanpaku, duniamu membuatkanmu pribadi yg tak pernah aku temui sebelumnya.
Kau bukan kau yg dulu mengindahkan racun dari mulut orang. Kau sibuk membangun rupa dan tingkah hanya karna penghibur barumu bergaya baru. Kau terus terlena menutupi petaka dalam hatimu yg aku sebut rindu. Kau teguh tak ingin kuperjuangkan tapi seolah kau masih mengikatku pada janjiku. "What do you mean?"
Sedang tentang duniaku, lima tahun lalu, duniaku begitu luas dengan dirimu di dalamnya. Dan ketika kau pergi, aku sadar, ternyata dunia luarku begitu sempit. Hingga semua musim yg pernah ku lalui, bukan lain adalah namamu. Hingga semua teman lama yg pernah kujumpai, mereka selalu menjadi alarm tentang kenanganmu. Hingga capung-capung betina yg hinggap di hidupku membuatku selalu merasa, mereka bukan kamu.
Aku kini membujang, mengeluh-eluhkan masa di mana aku akan bisa berkata padamu, "semua yg pernah pergi, meskipun kembali, tak akan pernah sama lagi. Maka jangan kembali, karna kali ini, aku yg akan pergi."
Masih saja berjuang mencari keberanian untuk meneriakkan kalimat itu pada hatiku sendiri.
—DAPw, @tweetbatin


