A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Senin, 06 Juli 2015

Dihisapnya Secangkir Kopi.

Dihisapnya Secangkir Kopi

Dihisapnya secangkir kopi, lalu lahirlah harfiah dalam hati.

(Quotes are originally by DAPw, pics are by unknown)


Di antara kami yg tersesat di tengah gurun perkotaan dengan hiruk pikuk sedemikian rupa penatnya, kami haus melihat hijau hamparan gunung, kilaunya pasir dan busa ombak, dan membirunya sungai lepas. Tatkala kami harus begegas rapi di pagi hari, menatap dan membatin bahwa matahari di ufuk nanti yg akan menyerap setiap tenaga yg kami tenggak. 

Kami sendiri belum tahu ke mana darah kami hendak mengalir. Tapi selama sang pujaan masih bertengger di kerumunan detak nadi ini, kami belum mengenal letih. Kini kami, para lelaki mencoba membudak demi masa depan agar tak lagi kami tangisi. Letih? Pasti.

Setidaknya sebelum kami mampu menggeser surya mendekati cakrawala, kami punya sedikit waktu menari mengitari jenuhnya kota. Bukan untuk hijaunya gunung, bukan lagi ombak, apa lagi sungai yg liar arusnya. Hanya bertengger menikmati hitam putih kopi dengan cangkirnya. 

Kami, para pria tak minta utk diberi seelok-eloknya perempuan dengan mata semegah surya. Bukan kulit secerah mutiara. Bukan lagi bersarat berlian jarinya. Kami hanya mampu memimpikan wanita berhiaskan noda kopi di kemeja putih kami yg ia kenakan, saat sang surya pun belum mampu menggugah kami dari madunya. Wanita dengan bibir lembut yg mampu menggugah kami berdiri tegak diantara ribuan pria lainnya. Wanita yg punya nyali meracik secangkir kopi yg membuat kami semangat menuai kata-kata indahnya.

Lihat kan, seberapa letihnya kami hari ini? Jangan kalian anggap gurauan semata  ini. Namun bukan ribuan biji berlian, bukan lagi jabatan, apa lagi perempuan. Hanya perlu beberapa biji kopi yg mampu membuat bualan kami terdengar seperti impian. Sederhana bukan?



—DAPw, @tweetbatin


Share This

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates