A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Selasa, 10 November 2015

Saya.

Saya.



Saya. Anak rantau dari sebuah belantara tua. 
Saya. Kerap di panggil oleh Tuan tanpa selembar sua. 
Saya. Yang hatinya tak kunjung merdeka jua. 
Saya. Kerap mati suri setiap kali ditinggikan lalu dijatuhkan sekehendak hatinya.

Lalu bolehkah saya sedikit mengacuhkan ia pada jejak tilas hujan semalam? Bolehkah saya sendiri yg menyudahi rindu ini utk segera mata kita saling memandang? Akan kah rindu seperti ini akan sudah ketika tangan kami berjabat namun hati kita tak saling bersalaman?

Takkan cukup, rindu selembar langit mengepul, kasih setinggi badai membumbung, hanya terurai sekelebat senyum sembari berlalu saat hati ini laparnya membusung. Hati yg masih ingin saling memiliki, hati yg sudah terlalu lama saling menanti, hati yg terlalu kerap terganti dan akhirnya juga kembali.

Tahukah kau, Bulan, saya telah lelah kembali utk kau buat pergi. Saya telah lelah bersembunyi dibalik rindu yg tak jua kau miliki. Sudahi, sudahi egomu, lelaki barumu itu mohon kausudahi.

Sambutlah saya dengan hati-hati, dgn genap atau ganjil hatimu, akan saya bawa seribu benang untuk kita rajut sekali lagi. Akan kita cari dan sudahi benalu dalam hati, akan indah akhir kita nanti. Bebaskan saya, dr rasa dendam akan terbalasnya rindu yg merintih sunyi.

Meski saja, Tuan saya belum restu kita.


—DAPw, @tweetbatin





Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates