A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Rabu, 28 Januari 2015

Gadis Berbibir Lumut.

Gadis Berbibir Lumut.

Tak begitu paham apa salah dan dosaku, hingga akhirnya harus ditelantarkan begini lagi. Aku yg merasa dibohongi, aku pula yg menelan pahit lagi. Kau mulai berhasil membuatku berhenti. Aku mulai benci. Tak sepatah kata pun aku akan percaya lagi. 

Kau tak lebih dari seorang nenek linglung yg tak mengerti betul apa yg telah kau ucap. Salahku aku iyakan, aku percaya. Omong kosong.

Apa kau tak benar-benar mengerti arti kata "sendiri" saat kau berucap? Apa kau benar-benar linglung saat kau bilang kau tak lagi cinta? Bukan hakku memang, tapi apa kau peduli ada hati yg mulai kau tinggikan tempatnya. Lalu kau bilang kau menyayanginya lagi, kau jatuhkan seonggok hati itu sedalam-dalam langit mengubur bumi.  

Kau anggap lelucon ludahmu sendiri. Dan bodohnya hatiku rela saja terlumuti ludahmu. Kau pikir lucu, sampai aku bisa terbahak hingga tersesak?

Haha! Sabdamu yg paling kuat adalah "tak ada yg tahu masa depan."
Kau tau itu hanya bualan alibimu saja untuk menutupi ketidakstabilan mentalmu. Saat kau tau aku bersamamu, hanya ada aku di ruang obrolan favoritmu, kau bilang kau telah lama berhenti merasakan sesuatu padanya. Kini, setelah kau sendiri yg menghapuskan aku, kau kembali padanya, yg kau tahu apa yg telah ia perbuat di jembatan itu, apa yg ia perbuat pada tanganmu pagi itu, apa yg ia hendak perbuat pada dirinya setelah kau meninggalkannya. Pria gila itu. Itu tak salah lagi adalah mentalmu.

Iya mentalmu. Yang memang tak pernah bisa dikata normal. Kau pikir aku sudah lupa kegilaan-kegilaan yg pernah sempat membuat jantungku gemetar malam itu? Malam di mana abangmu yg mewakilimu. Atau itu juga hanya sebuah bualan? Entahlah, mana lagi kata-katamu yg bisa kuandalkan.

Sejatinya aku sudah kebal saat ada ribuan lelaki yg mengaku telah menaklukkan hati orang tuamu dan berkata ia lah yg akan orang tuamu pilih. Aku tak peduli selama aku tahu hatimu tak semudah itu.

Tapi sekarang aku sudah mulai membuka mata, hatimu ternyata semudah bibirmu. Kau bilang kau ingin sendiri, ternyata kau tak melakukan itu. Hatimu bilang kau sudah tak menyayanginya lagi, ternyata kini berbalik arah.

Atau sebenarnya, aku tengah berpikir bahwa kau hanya anak ayam yg terkungkung dalam kandang? Entahlah, aku tak benar-benar percaya jika hanya sampai kita punya percakapan berdua, di mana aku akan membaca sendiri bagaimana jemarimu yg menjelaskan. Aku mulai penasaran. 

Tapi entahlah, apa hatiku masih sudi terkungkung pada hal-hal seperti itu yg bisa jadi akan berakhir sama seperti ini lagi. Aku tak mau lagi berurusan dgn hal sepertimu. Kau tahu, aku belajar sabar dari seorang pakar. Tapi kau juga perlu tahu, aku membatasi sakitku bukan sabarku. 

Aku tak perlu bicara denganmu. Kau tak perlu sembunyi dari orang tuamu atau darinya hanya untuk menjelaskan ini, just in case, kau masih peduli dan tidak begitu saja membiarkanku mati terpalu rasa ingin tahu.

Aku memang bukan seorang IT yg pandai membaca kode-kode semacam yg sering kau buat. Aku hanya seorang pria waras yg setidaknya masih peka dengan kode-kode wanita yg biasa di lontarkan, entah itu dari sekedar tweet atau retweet

Itu hanya jika kau masih mau kutunggu dan kuperjuangkan prosesny, jika dan hanya jika kau masih bermimpi. 
Jgn jadi wanita yg hanya bermoral dan bermental baik setelah ini, setidaknya hatimu tak malu pada anak-anak di lampu merah, sedang kau tengah menelantatkan seseorang dalam gilamu.
Salam bagi lumut yg tengah menjamuri bibir manis dan hati kakumu,


—DAPw, @tweetbatin.




Minggu, 25 Januari 2015

Terkukung di Ranah Rindu.

Terkukung di Ranah Rindu.

Satu, dua, tiga, hingga belasan, kau tau aku akan selalu mempunyai waktu untuk mengenangmu dalam sibukku. Lantaran sejuta hal dalam hari-hariku akan menyisahkan tempat teristimewa untuk mengingatmu. Aku bersabar. Meski adanya priamu yg mampu membuatku hanya mengenangmu dalam jarak dan sepiku.

Jarak. Sebesar apapun pertambahan jaraknya, aku masih belum bisa luput dari yang namanya asmara. Sudah bulat kuputuskan, sore ini akan ku arungi samudra awan menuju Kota Pekanbaru. Memulai yang baru, dengan tidak menghapus yang sudah berlalu. Aku tak bisa menghapus jarak,  aku hanya bisa menambah, berharap agar berkurang senduku.

Menghapus yang sudah berlalu? Bagaimana bisa? Bahkan setiap ku dengar gelagak tawa, yang terngiang hanya bahagiamu yg pernah ku buat untukmu. Mungkin kaulah yg handal sebagai penghapus masa lalu, sedang di bawah langit yg sama, aku masih terkurung rindu.

Hai, kamu. Jangan pernah berhenti menari dalam memoriku. Jangan berhenti membuatku terpana pada pasang surutnya dukaku. Jangan pernah lupa untuk tertawa, setidaknya nafas yg kau hela sebelum bahak akan membuatmu lupa akan keberadaanku. Aku tak ingin kau kenang, aku tak ingin kau rindukan. Aku saja lah yg merindu. Kau baik-baiklah saja di sana, bahagialah, bangunlah bahtera Nuhmu sendiri, mengalirlah. 

Aku akan hanya menunggu aba-aba saat kau tak lagi mencintainya. Hingga tiba waktunya Tuhan memberiku aba-aba untuk berhenti menunggu. Karena tanpa aba-aba itupun, kau tahu aku hanya bisa membatasi hatiku sampai di mana aku tak boleh menyentuhmu. Bahagialah kau, cinta, dalam lapang dadanya yg akan selalu sedia memelukmu saat haus rindumu. Bahagialah kau, cinta, dalam aliran dan arus deras yang akan menghempaskanku perlahan. Aku saja yg terjerembab, kau mengalirlah saja dengan bahagianya ia.

Lupa lah akan secerca hati yg selalu terkungkung kasmaran ini. Lupa lah bahwa tak akan ada lagi seorang dermawan yg membagi-bagikan kasihnya padamu ketika kau pun tak butuh. Dalam setiap jejak tangis penaku, aku hanya kasmaran padamu. Asal kau tahu.

Aku tak akan pernah lupa apa itu rindu, aku juga tak berencana untuk lupa. Dan hati yang sempat sejenak kau sentuh ini, hanya akan mengumandangkan namamu.

Terkungkung asmara tak perlu dientas, terjerembab rindu tak sempat berbalas,


—DAPw, @tweetbatin.



Boleh Kutambahkan Rindu?

Boleh Kutambahkan Rindu?


"Hai, apa kabar hatimu hari ini? Apa sedang berkeringat? Lelah menentukan pada siapa hatimu akan kau tambatkan? Haha, aku sudah tahu dari awal kau tak bisa hidup sendiri, sejak pertama kau bilang kau ingin sendiri? Aku tahu kau akan munafik dgn kata itu, aku hanya membatin saja. Kau haus akan teman hidup, kan?" Kutambahkan saja rindu ini, aku membencimu. Kau berdusta terlalu banyak. Kau bilang kau lelah dengan yang namanya kesempatan.

Aku tak benar-benar ingat tanggal di mana kau membalas pesanku, tapi yang aku tahu hari itu, hatimu kaku untukku, lantaran ia berjuang untukmu. Lalu hari-hari berikutnya, aku yg meluluhkan hatimu, meraih kembali sesuap demi sesuap kata sayang padaku, dan mulai kau kaku hati padanya. Kau bilang kau telah lama kaku hati. Luguku, aku mengiyakan.

Dan kini, lihatlah jemari lentikmu telah berhasil membawaku musnah dari peradaban hatimu itu, sekali lagi. Kau pandai mengusap peluhmu dan mengkhianati kata-katamu, namun kau tak pandai membersihkan ludahmu yang sudah terlanjur bersarang pada rahang hatiku. Aku sudah terlanjur percaya.

Hey, kamu! Kamu kekasih dari kekasihku, jaga ia baik-baik. Jangan sampai lagi pagi-pagi kau bangun dan menyadari ada sesuatu yg kau genggam itu hilang. Ia terlalu berharga untuk tidak kau hargai karyanya. Ia terlalu manis untuk kau lepas harkatnya. Bukan kaya yang ia mau, ia hanya butuh teman berjuang saat ia tahu semua orang menentangnya. Hey, kamu! Salam hormatku tak kuumbar begitu saja padamu. Biar ia yg mengeja.

Hai, kamu, yang sedang memulai kembali dengan kekasihmu, lekas sembuh. Dari infeksi yang kau sebabkan dengan menjilat ludahmu. 
Kau tahu aku akan menulis di sini, tak perlu kau baca pun tak apa. Aku sengaja menulis tak terlalu panjang, karena aku tahu itu bisa membuat matamu berbintang saat membacanya.

Tak usah kau baca pun tak apa, ini hanya sebagian dari seonggok rindu dan nestapa,

—DAPw, @tweetbatin

Namun Aku Jatuh Hati.


Hai, selamat pagi :) percaya tak percaya, lagu yang kau tunjukkan padaku, yang kini menjadi senandungku, baru saja menggugahku dari permadaniku. Terima kasih. :)

"
Aku bukan jatuh cinta, namun aku jatuh hati.
Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu.
Terkagagum pada pandangmu, caramu melihat dunia.
Kuharap kau kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu.
Ku tak harus memilikimu, tapi bolehkah selalu di dekatmu?"

Senandungkan itu untukku, cinta. Entah bagaimana aku harus memulai ini, lantaran sejatinya ini baru saja berakhir. Tapi bukankah semua yg ku katakan itu nyata adanya? Aku masih akan menunggu hari dimana hatimu akan hanya berteduh di bawah payungku.

Aku bukan jatuh cinta, namun aku jatuh hati. Cinta? Aku telah lama merasakan cinta, sampai kering kerongkonganku. Aku mengagumimu, tuturmu, tangan ringanmu, candamu. Lalu aku mulai melihatmu telanjang oleh kekuranganmu, aku lebih mengagumimu, I love you even more. Tapi apakah yg mampu membuatku bergerak? Kau bersamanya, aku jadi tak bisa lagi untuk menyanjungmu atas kagumku. Mau tak mau, aku yang harus diam. Dan dalam diamku, aku bahkan masih mengagumimu lebih. Aku kini tengah menindas segala rasa cinta untukmu, tak kurasa kau masih pantas. Dan di saat aku mengagumimu dalam diamku, aku mulai jatuh hati padamu sedikit lebih dalam.

Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu. Bagaimana seorang gadis mengucap kata "beliau". Aku tak bisa menyela ketika aku dengar tuturmu yg meninggikan hormatmu pada orang lain. Lalu ketika ku tahu, suaramu halus membawa segala puji dan perhatian, ketika voice note mu berdatangan satu per satu, apa yg bisa lagi kuulam? Tutur ceria itu... Apakah hanya ada untuk menindasku atau malah mengentasku?
Kau tahu aku benar-benar jatuh hati tentang bagaimana kau mengulur tangan di sebuah persimpangan di sana. Jangan pikir aku tak terlena dengan apa yg telah kau lakukan. Titip salamku untuk Mei, si manis, si penatih semangatmu.

Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia. Selebihnya dunia ini adalah kawanmu. Kau percaya akan kekuatan tolong-menolong yang dapat meninggikan derajat manusianya. Kau tak peduli berapapun pasukan di sana menganggapmu musuh yg mengahntarkan anak panah ke arahmu, kau masih saja mampu terbang melejit melewati garis di mana tak semua orang dapat mencapainya. Kau melihat dunia di dalam duniamu, kau menitikan segala pandangmu akan dunia, kau berkarya. Aku tak bisa menikmati karyamu, namun pasti lah jika ku mampu, mungkin akan membuatku merasa sempurna karna telah dan sedang jatuh hati padamu.

Ku harap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu Setiap langkah yg ku tempa, setiap kata yg ku eja, setiap lembar sari kehidupanku ku jalani, yang kutahu tujuan hidupku hanyalah dirimu. Memang, aku merasa iri denganmu atas segala macam pencapaianmu sedang aku masih terpaku melakukan yang orang perintahkan, menggambar apa yang orang inginkan, berbicara tentang apa yg ingin orang dengar. Tapi di sini, kau bisa lihat saja, bagaimana aku bisa melakukan apa yg hatiku perintahkan, aku menggambarkan apa yg mataku citerakan, berbicara tentang apa yg bibirku ingin senandungkan.


Ku tak harus memilikimu, tapi bolehkah ku selalu di dekatmu. Kau tahu ke mana hati ini mengarah. Kau tahu kemana hati ini ingin singgah. Dan setiap detik yang lekat pada setiap partikel ingatanku, mampu membuatku bersanding dengan hatimu. Iya aku tahu, memilikimu dengan hatimu adalah hal yang sukar kulakukan, maka aku memilih untuk menyimpanmu dalam sebuah bingkai memori yang akan selalu membuatku selalu merasa di dekatmu. Kau kini baru saja memulai bahagiamu kembali dengannya, lalu ku biarkan saja kau bahagia. Tapi bolehkahku mendekapmu dalam mimpiku agar ku pernah merasa sedekat saat urat nadi di tanganmu tengah berdenyut mengitari leherku? Bolehkahku mengenangmu dalam senjaku, menghamburkan kata rindu, memeluk anganku dan merasakan pacuan detak jantungku?

Senandung lagu, berbasuh peluh, berkerumun rindu,



—DAPw, @tweetbatin.



When He Came...

Alright, you are always right. That actually is what i really wanna say.
"You are the queen of everything"
You're great. I mean...you are the wonderful thing that has ever been happened in my life.
You've got everything you want. You've got perfect social life now and those awesome people as your bestfriends.
You've got everything you want. You wanna take a journey, then all of those boys are chasing after your heart. You only need to pick one that can comfort you. You've always got everything you want.
Im sitting here, through these snowdays and watching. Just watching how funny it is.

I say "how can you be so easy to get?"
Sometimes i think that you are so easy to get amazed of kindnesses. I mean, no one hates being good, everyone has good side. So why can you so easy to fall in love at someone's goodness? Why cant you stay in only one single heart?

And sometimes, i also think that you are only ensuring your self you are amazing for people. So you think you can get people's heart. You wanna see if you are amazing in people's eyes. Get attentions as much as you can. So you're trying to amaze people with your charms.

Or is it just you being so naif or unadorned or somthing? I mean...yeah, you dont really see that many people doing good because they want to achieve something. They want to achieve your attention.

Please, dont be so naif, you idiot! Look at him! It looks like he just wanna try you, whether you are that easy to get or you're not. He always can make you jealous just because he want you to adore him more and more! Look at him! He is not that totally 'naif' for that thing.
Now it seems i lose for more and more. He did it. He attracted you. He pulled you.
If i made you read this, you wouldn't believe me bc he has made you fall in love too hard.
And im here just falling too, but falling for you, over again and again.

you are the queen of everything you touch. And congratulations! You've 'touched' my heart until the deepest side of it. Then you just left like you are 'the queen'. You left me a scar that i never stop holding onto. 
Yeah, i mean, you really are the queen of my heart, and you have sworn on the aisle of my heart by your own words.
You meant it, you meant to touch my heart and wanted to be queen in it. Yes you did.
But i think you don't have a clue about what you've done to me. You are the only clueless kid in the world ever.

And now may be i am that naif kid, cause i can't ever get to move on from you. I need my whole lifetime to forget you, whereas people forget their exes too fast too easy. 



Unexpected and unbelieveable old love,
— DAP a.k.a @tweetbatin

Dua Sendok Empedu dan Seonggok Rindu Tak Kenal Malu

Dua Sendok Empedu dan Seonggok Rindu Tak Kenal Malu.

Kau Tau untuk Siapa Hati Bergeming. They say a few drinks can help me to forget you, but after one too many, I know that I'll never forget you.

Bandung, 25 Januari 2015, pada sore di pertengahan hujan kejam.

Pagi tadi, di antara lembaran cahaya matahari yang masih enggan masuk ke mataku, yang hanya bertengger di bulu mataku, menjadikan kesan bulu kucing di mataku, sebuah lonceng gereja bertumbukan dengan gendingnya, membangunkanku pada asam manis di lidahku, dengan seorang juru parkir gereja yang mengetuk kacaku. Aku bangun terkelebat malu dan bingung. Bingung, bagaimana bisa aku bangun dengan mobilku terparkir tepat di depan sebuah gereja. Malu, di depan sambahyangan sebuah agama, aku telah melakukan hal hina. Aku lantas menarik tuas tripotonic yang menentukan pengendalian mobil ini akan jadi manual atau matic. Mataku buram, perutku mual, mulutku masam, kakiku keju lantaran setengah malam bersanding dengan setengah botol jim beam yang yang ku beli di sebuah tempat penjual minuman malam. 

Aku bertengger pada bangku diterpa sengatan matahari dari selasar kaca tepat di sebelahku, di tengah riuh knalpot motor yang mengantar empunya mencari kesenangan minggu atau sekadar mencari penyokong hidup. Pada persimpangan jalan besar yang mengarah ke sebuah kegiatan mingguan, car free day, aku memutuskan memutar arah karena malu. Lantaran semestinya aku di sana, bersanding istri dan berbaris di tengah keluargaku, bukan malah di sini, menentang norma sendiri. Norma, di mana semalam aku tak mampu mengingat namamu, meski ku hafal betul wajahmu dalam pikiranku yang sempit tertindas ketidaksadaran. Norma, di mana harusnya aku merawat ia dengan baik, bukan malah bersanding dengan keanggunan jim beam. Norma, di mana hari ini semua warga kota mengikuti arus untuk menentang adanya kendaraan bermotor, aku bahkan duduk di dalamnya, memutar kota, membuang energi, membuat polusi knalpot dan paru-paru, menentang keangkuhanku. Padahal, harusnya aku merasa puas untuk tidak menjadikan kayu sebagai mata pencaharianku.

Lalu, satu per satu partikel ingatanku mulai berdatangan setelah tertutup kabut semalaman, kemarin bukan hari baik. Kemarin, hatimu mendua. Kemarin, harusnya aku sudah menduda darinya. Kemarin juga, aku telah bertekad untuk menunjukan padanya semua isi ponselku yang hanya bersimba nama dan belaian sayangmu. Tapi belum kulakukan. Mungkin siang hari ini. Mungkin juga besok. Mungkin juga, tak akan ku lakukan. Urat pipiku bergeming. Aku ingin lekas mengakhirinya, tapi ia belum sesempurna sesuai kodratnya, bukankah itu jadi tanggung jawabku dari awal? Dan aku belum bertindak, lantaran masih saja berpikir apa yg semestinya kulakukan terlebih dahulu.

"Bagaimana hatimu di situ? Apa sedang terluka? Apa sedang bermuram durja? Atau hanya sedang bahagia dengannya? Karena jika kau tahu, aku telah lama mendua tapi tak bisa bahagia. Tak bisa merasakan sinar secerah sinarmu menerpa hangat di kulitku." Bisikku terluka pada sebuah kaca di sebelah kananku, berharap Tuhan mau menyampaikan bisikanku. "Aku lelah, aku ingin memerangi kewajibanku."

Dari dedaunan kering yang meratap dan menyeret di kaca depan mobilku yang seolah ingin kusentuh, aku sadar aku telah jatuh pula, meratap pula, mengheningkan cipta pula. Hari ini, tak akan pernah sama lagi, tak akan lagi kau buat indah pagiku siangku berujung pada malamku. Meski mulai hari ini, yang akan terlihat sama, aku dalam sepatu but lusuhku akan menari mengitar di atas tanah kering dan mencari seonggok nasi, aku dalam kewajiban menjaga tubuh orang sedang tak mau lagi peduli tubuhku sendiri. Mulai hari ini, hingga hari kusentuh wajahmu dengan pandangan kasarku, akan ku tunjukkan tubuh ini mulai kering semenjak hari kau tak lagi memintaku menenggak sebotol dua botol air bening. Atau mungkin usiaku tak cukup untuk pandangan itu, karna kau tahu, aku hanya bersuap ketika kau yg mengingatkan, aku hanya akan menenggak ketika kau yang meneguhkan.

Sudah cukup, mau berapa tubuh lagi yg akan kubahayakan jiwanya? Mau berapa tahun lagi aku menderitakan batinku sendiri? Aku pikir aku hendak menyudahi, siang ini. Tapi belum sampai berakhirnya matahari siang, aku tak sabar untuk menyandingnya di sebuah bangku belakang mobilku, aku sudah tak kentara untuk lekas melihat wajahnya, memeluknya dalam rasa hausku, menyentuhnya pada kedinginan kata maafku. Aku bepacu dengan nafasku, tapi jantungku melaju tepat apa adanya, tak secepat seperti ketika kau hendak meninggalkanku. 
Aku merajuk menunjukkan dua onggok ponsel yang ku tahu, hanya ada ceceran namamu. Ia tak memerhatikan semuanya, ia meletakkannya kembali ke tempatnya. Aku melihat air terjun itu, dengan lekas ia mengalir. Lalu ia juga tunjukan seonggok ponselnya, menyodorkanku sebuah gambar buram tapi tak seburam itu ketika aku menyadari foto itu diambil pada malam hari dan terlihat sebuah bibir lelaki menyentuh pipi seorang perempuan. Kabur. Aku tak tahu apa ini hanya halusinasi mata, ataukah memang benar itu Naura?

Ia sengaja tak menghilangkan jejak itu, karena rupanya ia paham artinya dosa dan ingin lekas mengakhirinya. Aku hanya diam, bukan cemburu bukan iri. Aku tahu, karena hilangnya waktuku, aku telah kehilangan dia. Dan aku tahu harus ku mulai dari mana harga diriku sebagai lelaki yg setahun lalu meminangnya. Merasa tak berharga diri.

"Kamu tahu kita tidak akan bisa sama seperti sedia kala." Genang air matanya, berlinang ke bibirnya. Aku tak sampai melihatnya, aku hanya melirik saja cincin yang kutahu tak pernah ia lepas dari jemarinya. Ia melipat tangannya. 

"Aku minta maaf", lanjutnya. Aku hanya diam saja, hanya menduga-duga apa yg akan ia ucap selanjutnya. "Aku nggak pantas di maafkan, setidaknya aku sudah meminta."

Setidaknya aku juga telah meminta. Setidaknya aku juga berusaha mengucapkan kalimat itu. Lagi-lagi pertarungan batinku telah tertiup sangkakala dan lonceng peperangan. Dan ketika perang itu telah kuakhiri sendiri, aku kuat dalam kalah dan meminta berpisah. Tapi ia menolak. Lantaran menurutnya, Ayahnya tak pernah menerima seorang lelaki dengan sungguh-sungguh untuk sekedar mengajaknya berkencan. Aku juga, aku tak mau ibuku kecewa. Ibuku telah mencintainya, seperti menemukan kembali anak perempuannya yang lama hilang terkikis bumi. Lalu, aku sepakat hari itu juga. Tak akan ada apa-apa lagi antara kami berdua. Hanya sehelai status bertutup rindu pada yg lainnya.

Aku kini hanya tinggal menunggu aba-aba. Aku kini bersimbah luka. Aku kini akan menunggu di mana tempat aku bisa menemukanmu dalam telanjang hatimu tak tersentuh perjaka. Aku menunggumu hilang cinta kepadanya.

Serayanya jagat pun menemaniku menunggu, bulan redup tinggal kutunggu hujan berlalu,
Far and Eternal Love,

—DAPw, @tweetbatin

Rabu, 07 Januari 2015

Januari Kedua.

Januari Kedua.

Pukul 4 pagi buta, seorang yang pernah buta dan pernah mati, tengah menyusuri jalanan lengang tak berbekas rindu, Kota Kembang. Terbalut dalam pelindung kepala berkaca, aku menyusuri persimpangan demi persimpangan untuk sampai pada tempat yang aku sebut "Rumah Siapa". Aku tau aku tak akan melewatkan mulai malam itu hingga paginya, bahkan untuk memejamkan mata beberapa menit saja. Ada rasa terguncang sebuah momen benturan yang hanya ada dalam pikiranku. A friction. A light. A moment. Aku pun tak paham tentang kata-kata di dalam anganku ini. Terlalu semu, terlalu sendu. Aku bahkan tak tau ini rasa gembira, terlena, terguncang, ataukah sedikit tersayat.

Aku melihat embut tengah memeluk kaca mobil yang di parkir berjejeran di persimpangan terakhir di pemukiman Rumah Siapa. Aku juga melihat lelaki dan perempuan tengah saling rangkul dan saling tak mampu berjalan, tertawa terbahak dalam diamku. Lelaki dan perempuan yang mungkin baru saja mendapatkan malam paling bebas dalam hidup mereka. Dan aku tahu, itu bahkan bukan sebuah instrumen. 

Aku tak sakit, aku juga tak sehat. Sejatinya kakiku tak bergetar ketika menyentuh keramik di teras Rumah Siapa, tapi siapa sangka dinginnya lantai itu seperti sebuah instrumen yang masuk dari sela-sela jemari kakiku, mengiringi aliran darah hingga ke ubun-ubunku. Aku tak perlu mengetuk, pintunya tak pernah tertutup.

Bang Hasel. Sudah sadar dari tidurnya ketikan ia tahu aku akan mampir. Kusodorkan bungkus rokok, pertanda aku ingin bicara. Sepuluh, dua puluh, tiga puluh menit aku tak kunjung memulai. Bibirku kelu. Namun aku takut Bang Hasel lelah menantikan maksudku. Lalu kusodorkan cuplikan percakapan denganmu di tabletku. Ia hanya melihat sekilas, dan ia tahu siapa itu dalam cuplikan itu, padahal kunamai kontakmu dengan "World". Ia terkekeh kecil saja. Mungkin mencela, atau hanya menyela.

"Lagi sakit lu?",
"Nggak, Bang.."
"Lagi ngga rukun?"
"Biasa aja.."
"Lagi kesepian?"
....

Aku menatapnya dalam kelaparan, aku tidak mengiyakan, aku juga tidak menolak. Mungkin benar, aku hanya kesepian. Bang Hasel selalu mampu menggantungkam pertanyaan-pertanyaan bodoh itu mengambang diatas batas kemampuanku. Aku tak mampu menjawabnya. Aku juga tak suka kalau harus menerima kenyataan bahwa cepat atau lambat, akan ada yg mengakhiri, ada yg pergi, ada yg sedih dan ditinggalkan.

"Kamu Bam, kamu cuma lagi bosen. Bukan bosen sama Naura, mungkin kamu lagi bosen sama hidupmu yang sebenernya udah nikah tapi kerasanya kayak ngga punya siapa-siapa. Terus kamu lari ngejar dia, kamu cari-cari itu orang buat bikin kamu jatuh cinta. Tapi kamu salah orang. Orang itu noleh kebelakang, bukan berarti dia juga jatuh cinta lagi sama kamu. Bukan nggak mungkin kalo sebenernya kamu itu cuma dipikrannya, bukan lagi di hatinya. Bisa jadi, dia melasin kamu."

Seketika luntur semua aliran darahku yang mengalir tanpa tuju, amburadul. Terkoyak. Ia benar, semuanya benar, aku juga memikirkan hal yang sama.

"Kamu masih mau aja main sebuah game, padahal kamu tau kamu bakal kalah. Dan kamu baru aja berenti main game, yang kamu tahu kamu bisa menang."

"Kamu lagi nyoba-nyoba buat jatuh cinta sama orang yang pernah bikin kamu kalah di sebuah game. Ibarat kamu berdiri diatas rel, dan kamu percaya kalo kereta yang ngelewatin rel itu nggak bakal nabrak kamu."

Malaikat kah?
Malaikat kah Bang Hasel bisa tau persis rasanya?
Semenjak dari pertama kau jawab pesanku untuk pertama kalinya setelah januari pertama,
Aku tahu aku tidak akan berjalan dengan cara jalan yang sama, semua akan terasa begitu berat di telapak kakiku.
Aku tak akan bernafas dari udara yg sama, semua akan terasa begitu sesak dan mengoyak.
Jantungku tak akan lagi berdetak dengan detak yang sama. Bergemuruh dan tak teratur sebagimana layaknya.
Pikiranku tak akan berhenti melayang. Layang tanda aku tengah menikahimu dalam diamku.
Bahkan ketika aku tahu, tak seharusnya aku membuka ruang percakapan denganmu dan mengucapkan selamat pagi pada matahari.
Bahkan meski aku tahu matahari itu akan tetap terbit meski aku tak menyapanya.
Tapi disana, aku telah bersabar menahan nafas dan lalu menyapamu pagi ini.
Dan aku tahu aku telah lagi-lagi jatuh bersimpuh, gugur dan terpelungkup.
Dan akan selalu begitu selamanya di matamu.

Rasa sayang kah ini yang aku punya untukmu? Kalau iya, kenapa terdengar begitu naif?
Rindu sesaat kah ini yg aku tunjukkan? Kalau iya, kenapa aku tak tahu kau juga punya rindu yg sama atau tidak?
Aku merasa tak pantas diri untuk mendambamu. Aku terlalu semu, menurutmu.

Dan pada akhirnya aku akan tahu ini berakhir seperti apa. Apa tidak bisa kau beri aku kesempatan untuk aku saja yang meninggalkanmu? Sehingga aku tak perlu patah hati untuk hal yang sama. Aku hanya ingin semangat hidupku kembali lagi, agar tak selalu merasa ditinggalkan, agar tak selalu merasa lemah dan tertindas dan terhimpit. Aku meminta.

Unfortunate heartbreak,
Love,


—DAPw, @tweetbatin




Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates