A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Sabtu, 31 Oktober 2015

Hanya Seikhlas "Rela".




Lembut. Begitu sesumbut pelita sore ini mencoba  membuatku terhanyut.
Lepas. Begitu bisikan angin seolah membangunkanku dari lamunan bebas.

Kau membangunkanku untuk turut terlelap dalam doa panjangku, memintamu pada-Nya dalam bisu di sudut rahangku. Kau merayuku, berbisik padaku, seolah kau tak ingin lepas dari teriakan batinku.

Siapa yg tak merindukan hujan ditengah kemarau panjang? Lalu kau, 'peri' ku datang menjelma gerimis yg berbisik di antara bulir kehitaman. Wajahku, telah lama berdebu tiba-tiba saja gerimis malam itu mengusap peluhku yg lama terkikis jaman.

Sejatinya, aku kini lelah meminta. Aku telah pudar asa memohon pada Sang Kuasa. Meski aku telah rindu berkeluh kesah pada Sang Pencipta dan Pemilik Rasa. 

Aku lelah, memintamu terus kembali. Lantaran akhirnya, kau mudah disanjung lalu mudah pergi.

Kini tersisa hanya seikat rasa, seikhlas "Rela".



—DAPw, @tweetbatin




Jumat, 23 Oktober 2015

Ada Alasan.




Ada alasan kenapa aku harus bertahan hidup, saat semua tembok hidup menerkamku hingga tak punya sudut untuk tertawa dan menyembunyikan luka.

Ada alasan kenapa aku harus tetap bersenandung dalam hujan meski intrumen hujan telah berhenti memberiku nada.

Baik-baik kamu, di sana.



—DAPw, @tweetbatin




Mati Membeku.

Hai, Perempuan Beku.

Tanpamu, aku hanya bisa memanen pilu. Tanpamu, jiwaku berontak mengais rindu.



Perang beku bergulat dalam batinku telah membantai habis pasukan udara dalam paru. Sementara sang kelopak sayu tak mampu membendung mawar utk memerah. hingga bulir-bulir asmara, lelah, kantuk, takut, amarah juga rindu berguguran membuat satu lagi samudera. Terisak aku, pada musim hujan durja. Aku terlalu jatuh —terlalu dalam, hingga palung di bawah mataku menguning dan merekah. Aku terlalu dalam jatuh dalam kungkung asmara. Sekilat seperti Tuhan menepukkan alkisah-Nya, sekejap kau lalu pergi seenaknya. 

Mungkin hanya aku saja yg terlalu pencemburu. Tapi kau tak tahu, kau telah mencuri semua amarahku hingga yg kupunya hanya sabar yg akhirnya menerkamku. Kau mungkin tak selamanya untukku, tapi tahukah kau,
Suaramu kini tak akan pernah rela membiarkanku terlelap dalam kantukku.
Nafasmu kini terngiang sbg pembantai gelagak kecil tawaku.

Kenanganmu tak akan pernah lupa meninggalkan gambar-gambar sayu di pikiranku.

Tahu kah kau, setiap detik kisahku bersamamu tak pernah ragu utk menghantui malam dalam sudut kantukku. Sekali lagi, kau jadi hantu.

Baru saja kemarin kau buatku bersemi tersipu. Sampai-sampai rela kuteguk secangkir nyaman kopi dan kuhirup sebatang saja kretek hangat di malam pekat penuh kabut abu-abu. Lalu ku-sajak-kan mu dalam bait-bait riangku, kusulam sajak-sajak itu penuh rindu. 

Barang tak ada waktu kunikmati hangat sulaman sajakku, lantaran kau lalu sedingin itu, hempaskan sulamanku dalam tumpukan rindu.


—DAPw, @tweetbatin




Rabu, 21 Oktober 2015

Perihal Cinta.


Aku telah sadar beberapa kali dari mabukku, oleh celetuk renyah dari mereka para bibir selalu berusaha menerka, katanya, 




"cinta itu obat. Iya, obat dari segala penjuru rasa sakit. Juga kebulan asap rokok, yg begitu indah tak punya bentuk yg bisa ditiru. 

Kau tau itu bahkan datang untuk membunuhmu dari berbagai penjuru, tapi kau pura-pura tak peduli, kau tetap terjaga untuk terus menghirupnya, berharap itu bisa membebaskan jiwamu dari benalu rindu. 

Seperti cinta, kau tau itu bisa meledakkan kepalamu, meremas dadamu, meninju ulu hatimu, kapanpun Tuhan mau. Tapi kau tetap saja tak mau berhenti merasakannya."

Ia bisa pergi kapan saja Tuhan mau. Ia bisa mati rasa kapan saja ia lelah. Ia bisa saja temukan sandaran lain kapanpun ia mau. Ia bisa hilang kemanapun kabut menutupinya.

Tapi apa kau percaya, bahwa sebuah rasa yg kini membuatmu sebodoh ini, saat kau tak akan pernah peduli seberapapun sesak dadamu dibuatnya, seberapapun hikmat kepalamu tertunduk sayu, seberapapun lebarnya jahitan menyelinap dibalik kokohnya tubuhmu, adalah sebuah rasa yg kau percaya seperti kau percaya takkan ada yg membunuhmu meski kau berdiri di tengah persimpangan kereta.

Dan saat kau tau, cinta punya waktunya sendiri untuk memeluk atau membunuhmu, Kau akan menyerukan hingar bingar pada hati bimbangmu bahwa, "tenang, akhirnya akan baik saja." Tanpa sadar, perlahan kau tenggelam dalam rasa nyeri di rongga dadamu, kau tidur dengan embun di pelupuk matamu. Hingga saatnya, cinta yg membunuhmu.
Bukankah beringas?

Namun tak kah kau rasakan euphoria nya saat kau mendapati kupu-kupu biru beterbangan di perutmu tiap kau mengingat namanya?
Tak kah kau nikmati saat semua tingkah manisnya bahkan mampu membuat matamu tersenyum manis juga teriris?
Tak kah kau dengar ada kerumunan simfoni klasik di dadamu tengah menggiringmu utk menari dalam tidurmu?
Tak kah kau lihat pelangi bahkan mampu melukiskan warna di ujung-ujung bibirmu?

Iya, kau seindah itu. :)
Bahkan saat kau buatku marah, kau masih segalanya.
Tetaplah kau jadi sebuah alasan untukku terus berkupu-kupu, aku menyayangimu.


—DAPw, @tweetbatin


Selasa, 13 Oktober 2015

Sunyi Ini Merinti.




Belum lama ini, sempat terlintas untuk menghapus durja nirwana. 
Namun kabut pagi telah lebih dulu meninggi setara mata,
lalu aku menangis pada ego yg lama tak berwarna.
Lebih dulu, aku tergigit rasa nyeri di antara rongga dada,
Lantaran sunyi telah terlalu lama menepi di ujung asmara.

Mengapa begitu terasa, ini, sengsara?
Mengapa rindu dan asaku melulu tertahan tangis orang tua?
Sunyi ini lalu menahanku dari kabut yg mematahkan asa, 
Menyuapi rasa pada rasa, rasa demi rasa,

Inginnya, sudah, kusudahi semua aral demi aral untuk memelukmu dan meninggikanmu hingga sanubari.
Inginnya, aku saja yg menggerutu nyeri, mendesah pedih,
Mengerti rindu seperti ini takkan selesai jika, dan hanya jika, aku yg mati.


Tolong, sulam lagi durja nirwana, agar sunyi tak lagi meronta, meminta tinggal di dalam dada.


—DAPw, @tweetbatin



Minggu, 11 Oktober 2015

Setangan Penuh Kenangan.



Seteduh lambar menengadah pada kopi, dan imajiku kian malam kian meninggi.


Sudah lah, sudah larut. Langit sudah menua. Katup dua bibir ini sudah berlumuran butir-butir kopi tua. Sendi-sendi tumpuan, lutut juga siku, tak lagi mampu menopang sebuah tawa, tak lagi mampu mengusir rindu yg tak kunjung bersua.

Setangan penuh kenangan, lumur lara juga tawa, menggenggam sejuta detik saat aku terbumbung asmara. Sepasang mata ini jadi saksi, ada kau yg memilikiku sekujur jiwaku, berbisik untuk selama-lamanya, aku menunggu utk bisa bersamamu.

Dan ketika kau tak memiliki tubuhku yg penuh robek dan lubang, jemari ini tak akan pernah menyesali air mata yg jatuh cinta pada selembar kertas penuh asmara padamu. Aku akan selalu menuliskan asmaraku padamu, untukmu.

Aku, milikmu. Aku, dan kita.


—DAPw, @tweetbatin


Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates