A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Kamis, 03 September 2015

Gadis Ini.


" Seindah-indah bentangan alam bumi pertiwi, takkan jadi indah jika tak ada hamparan senyum wanita yg menhiasi. "

Bukankah manis, seduhan lembut secangkir hitam kopi pekat malam ini? Bukan, aku memang bukan pecinta kopi dengan pemanis. Tapi betul, manis kopi ini ketika gadis ini lagi-lagi mengusik malam-malam yg mengusikku bagaikan masaku sudah tak membujang. Lagi. 

Betul saja, gadis ini mencuri kunci dibawah bantal tidurku untuk ia gandakan tiap malam. Hingga malam-malam setelahnya, aku hanya bisa terjaga menorehkan kata-kata dibawah bantalku untuk tidak lagi mencuri kunci tidurku, agar aku tak lagi gagal tidur karnanya.

Ia sesederhana itu takkan mampu membongkar kerumitan yg terjulur sepanjang dahiku. Ia akan mengerti, tapi ia takkan takkan mampu membongkarnya. Setangguh-tangguhnya gadis ini tak mampu membaca serenta-rentanya pundak ini. Ia mampu mengusapnya, tapi ia takkan bisa memikulkan bebannya.

Gadis sendu ini, memilih utk menangis lagi karnaku, ketimbang ribuan lelaku bermulut candu yg dapat membuatnya tertawa lebih  gigih. 
Gadis riang ini, memilih utk menunggu lebih lama lagi utk berdebar dadanya saat bersamaku, ketimbang pujangga-pujangga di alam ini yg mudah ia gapai tangannya untuk menari. 
Gadis pemilih ini, lebih memilih buruh rantau penuh liku, ketimbang jajaran pemuda berseragam atau berdasi.
Gadis cemerlang ini, lebih memilih utk berakhir bersimpuh pada mimpi akan anak-anakku, ketimbang bermimpi jadi khayalannya jutaan pejudi hati.

Lantaran, "aku memilih tantangan.", katanya. Namun sungguh, ia hanya seorang gadis yg terlalu muda utk mengerti liku garis dahiku, mengerti aliran keringat yg melintasi legam pundakku. 

Aku hanya perlu sedikit lebih bersabar mengingatkannya, "hey sayangku, manisku, sejatinya hidup yg kau pilih, adalah hidup yg tak mudah. Kau bilang tantangan, mungkin sebelum mencapai kenikmatan, kita akan butuh beberapa perjuangan."

Aku mengerti betul kemana keringat lelah di dahinya akan mengalir. Aku mengerti betul bahwa setiap keringat akan jatuh atau hilang menguap. Aku mengerti betul manakala harus berjuang menjadi pilihan yg bisa diandalkan. Aku mengerti betul isyarat orang tua kami, utk melanjutkan hidup sesuai pilihan yg telah mereka tangguhkan.

Siapa yg takkan jatuh cinta pada gadis ini? Bahkan ibuku, yakinku, akan jatuh bersimpuh dalam tatapannya, seperti anaknya yg rela siang malam mengunci hati dari para pesolek dari penjuru negeri. Anaknya yg tiap malam terjaga oleh cumburu cemas dan gemas lantaran si gagah berseragam di sana telah gigih dan mampu membuatnya lebih bahagia. 

Hai gadis pencuri tidur, nyaman itu bukanlah lantaran. Aku atau dia, jangan engkau buai pada pilihan. Jika kau memilih bahagia, maka nanti, yakinlah, itu bukanlah hal yg perlu kausayangkan.

Completely yours,



—DAPw, @tweetbatin. 


Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates