A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Jumat, 11 Juli 2014

Langit Sore Terjebak di Matanya

Langit Sore Terjebak di Matanya.


Kami tak pernah serukun saat tiba masanya aku mengenalnya lebih baik lagi. Ia datang mengantarkanku makanan. Ia sering mengantarkan makanan untukku. Tak seperti biasa, aku melihat matanya yang baru saja disinari matahari sore, aku tak ingin ia langsung pulang. Langit biru dan gugusan kapas yang seolah masih beterbangan di matanya, seakan memberitahuku untuk menahannya. Aku menyambutnya dengan senyum megahku di teras rumahku. Tak kuat batinku untuk tidak menggapai tangannya dan mengajaknya untuk menetap sore itu. Hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya. Selalu aku biarkan ia berpamit pada ibuku setiap ia mengantar makanan. Manis senyumnya menyambut tanganku sore itu. Sore dengan langit terbaik yang terjebak di matanya. Aku mulai membiarkannya masuk ke rumahku. Tak terasa, kubiarkan ia masuk lebih jau lagi ke hidupku. Sesuatu terjadi. Sesuatu yang tak pernah ku biarkan terjadi sebelumnya, aku mulai membuka hati untuknya.

Aku membiarkan tv ku menyala dan membiarkan ia terpaku pada benda itu, malah bukan padaku. Tak apa, aku masih bisa menikmati langit sore di matanya. Iya, aku tak bisa berhenti menatap seluruh wajahnya. Manis sekali rasanya di mataku. Ia membuka cardigannya dan mulai mengikat rambut hitam kecoklatan yang ujungnya ikal mengatung di hatiku. Melihatnya dari sisi samping dan menemukan belang di lengannya. Tak apa, belang itu masih tak mampu menarik mataku lepas dari matanya. 

Tuhan, cobaan atau nikmat-Mu kah ini?
Mengapa terasa begitu asin padahal manis?
Engkau buat aku terpaku pada mata sore dengan langit hebat itu...
Engkau buat aku mendapati pucuk hidungku di halus pipinya...
Engkau buat aku menikmati manisnya sore itu bagai gulali dalam sebuah irama.
Apa Engkau hanya menguji kalimatku untuk wanita yang dahulu?
Apa Engkau ingin menguji kalimat setiaku?
Aku memang pernah berikrar bahwa Wulan akan jadi satu-satunya dan tak akan kucari yang lain. Tapi Engkau tahu, Tuhan, aku tidak mencari yang lain saat Wulan yang pergi, Engkau yang membawa Naura datang padaku saat tak ada yg mewakili.

Ah, tapi sekarang ia adalah kenyataan yg masih belum bisa aku terima. Aku yang belum terima kenyataan bahwa ia adalah wanitaku dan aku masih terus berlari menghindarinya. Mungkin aku hanya takut dikata pecundang, yang tak teguh pada ikrarnya. Mungkin aku hanya takut seseorang tengah berbicara tentang karma karena aku tak segera menemui orang itu. 

Aku, mataku, hatiku, pikiranku, berkecamuk hebat dan tak ada yg bisa melerai. Kecuali jika aku beranjak ke kamarku dan meraih gumpalan kapas, berpikir untuk sejenak meluruskan punggungku.

Dan aku pikir aku salah telah meletakkan rasa takutku tepat di ujung amarahku. Aku tahu, aku hanya takut. Aku hanya takut kau, Wulan, tak akan kembali memelukku dalam hidupku, meski sepucuk angan sekalipun. Aku takut apa yang selama ini kutakutkan menjadi nyata, aku membalik lidahku dan mulai membuka lengan untuk idaman lain. Dan benar, inilah aku, pria yang selalu menyangkal adanya rasa diantara dua hati. Aku tak merasa cukup benar dan masih menyangkal bahwa aku tengah menyukai gadis idaman lain selain kau, Wulan. Aku telah patah dan terbelah. Wajahku legam memerah. Nafasku tersumbat dan terengah-engah. Masih terus lari dan tak mau terima kenyataan, tak mau tahu.

Lalu ia datang padaku, di atas kasurku. Kubiarkan ia meraih lenganku dan mengusapnya. She wondered what just happens to me. I smiled, i gave a shit, i led her inside my house, i stared at her beautiful eyes all the time. she slowly asked what was going on with me with a lot of peaceful voice. She held my hand so i was gonna fly with that, but i was standing on earth. I let her ran her fingers onto my chest. And there she was, she always got me say things i don't wanna talk about, just by looking into my eyes. She went deeply and i made her cry. I realized I hurted her, once again.

Aku tak pernah membandingkannya denganmu, aku juga tak pernah menyamakannya denganmu. Tak pernah bermaksud menyakitinya, karena tahu hidupnya sudah cukup banyak menyakitinya. Ia mengerti arah bicaraku dan ia menangis dihadapanku. Siapa aku beraninya membuat mendung mata yang punya sinar mentari sore hari itu? Siapa aku, maunya aku membuat mata lembut itu menghujani cakrawala di pipinya? Ia mendapati bahwa memang sejatinya aku tak pernah benar-benar berusaha melupakanmu. Kubiarkan perasaanku untuknya mengatung begitu saja, dan selama ini aku hanya mengijinkannya berdiri di depan pintuku dan tak kubiarkan ia masuk hatiku. Ya, aku belum membiarkannya masuk hatiku, hanya mataku dan pikiranku. Ia tahu aku belum mampu mengusik hasratku untuk bisa bersamamu. Ia tahu, setiap kali aku menatap dalam-dalam matanya, aku teringat oleh setiap bait puisi yang pernah kau bacakan, aku teringat semua warna cahaya yang menerpaku saat kau buat aku senang, aku teringat semua nada lagu yang kau nyanyikan untukku saat aku benar-benar lemah. Ia tahu. Kuceritakan semuanya, dan ia bilang ia mengerti. Kami berdua menangis, kami berdua menangisi hal yang sama dari perasaan yang berbeda. Aku yang takut, dia yang ingin masuk.

Kami berdua terisak dan ia rasa itu lucu karena ia tak pernah melihat seorang lelaki menangis seperti itu, hanya karena seorang wanita yang tak mampu kutemui. Kini ia tertawa kecil dan mulai mengusap pipinya. Entahlah, aku hanya merasa lugu dalam tawanya. Tiap kali aku mengingatmu hanya dalam ceritaku, aku hanya dapat berangan untuk dapat memilikimu. Aku merasa penuh. Aku merasa tumpah, mungkin luber. Luber angan-angan. Naif dan klise sudah jadi nama tengahku. Cakrawala pundakku pun tak mampu menahan luberannya, aku tetap tak bisa berbuat apa-apa untuk muncul dihadapmu. Tapi setidaknya aku sudah berusaha, meskipun aku tau kau mau lihat, dan malah ia yang tergoda untuk menghargai usahaku. 

Ya sudah, toh ini sudah berakhir lama. Meski aku masih dirundung duka.
—DAP, @tuanbatin
Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates