Pekarangan Belakang. (Kenangan manis Itu)
Ia secantik itu tak cukup untuk merobohkan dinding yg pernah kubangun lantaran sebuah cinta. Ia semelas itu meminta masih tak mampu menurunkan sanubari yg kucanangkan setinggi-tingginya rasa.
Dan barang rasa di pekarangan belakang itu masih terasa sangat indah. Terlihat manis, tertata dan menggugah. Menggugah untuk terus kupandangi lekat-lekat agar tak mudah lepas. Lalu kini akan kuabadikan menjadi perkara yg tak pernah kau buat tuntas.
Mungkin aku bisa bersamanya. Aku juga bisa memenggal semua rasa dan bersatu padu padanya. Tapi aku tak yakin hati ini bisa baik-baik saja. Aku memang bisa berbohong pada sebuah nyawa, tapi aku ragu aku bisa memendam bahagia yg kudamba demi bahagianya. Aku sudah terlalu lama tak bahagia. Sekiranya kini inginku istirahatkan hati ini sembari mengikhlaskanmu dalam rengkuhan seorang pria. Sampai saatnya nanti aku mampu dengan tulus menyulam bahagianya ia.
Lelaki dengan rasa yg tumbuh membelukar liar di pekarangan belakang. Aku ingin kau tahu bahwa aku masih mendamba satu kisah untuk dapat terulang, mendamba satu lagi kesempatan untuk dapat selamanya kau kenang,
—DAPw, @tweetbatin.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar