A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Senin, 23 Februari 2015

Pekarangan Belakang. (Kenangan Manis Itu)


Pekarangan Belakang. (Kenangan manis Itu)


(Originally pics by me)

Hai, rembulan penuh bualan. Apa kabarmu di dalam rangkuhan lalakimu? Di depanku kini ada seorang wanita terperanga terpaku pada semak belukar yg tengah tumbuh membludru di dalam diriku. Jemarinya yg seolah meringik ingin cepat-cepat kusentuh setengah hatiku. Matanya yg menjerit termakan peluh yg terulur waktu. Tulang bahu yg mengapit dadanya itu kiluhat makin mendesak nafasnya untuk terus terisak tak kunjung berlalu.

Ia secantik itu tak cukup untuk merobohkan dinding yg pernah kubangun lantaran sebuah cinta. Ia semelas itu meminta masih tak mampu menurunkan sanubari yg kucanangkan setinggi-tingginya rasa.

Dan barang rasa di pekarangan belakang itu masih terasa sangat indah. Terlihat manis, tertata dan menggugah. Menggugah untuk terus kupandangi lekat-lekat agar tak mudah lepas. Lalu kini akan kuabadikan menjadi perkara yg tak pernah kau buat tuntas.

Mungkin aku bisa bersamanya. Aku juga bisa memenggal semua rasa dan bersatu padu padanya. Tapi aku tak yakin hati ini bisa baik-baik saja. Aku memang bisa berbohong pada sebuah nyawa, tapi aku ragu aku bisa memendam bahagia yg kudamba demi bahagianya. Aku sudah terlalu lama tak bahagia. Sekiranya kini inginku istirahatkan hati ini sembari mengikhlaskanmu dalam rengkuhan seorang pria. Sampai saatnya nanti aku mampu dengan tulus menyulam bahagianya ia.

Lelaki dengan rasa yg tumbuh membelukar liar di pekarangan belakang. Aku ingin kau tahu bahwa aku masih mendamba satu kisah untuk dapat terulang, mendamba satu lagi kesempatan untuk dapat selamanya kau kenang,


—DAPw, @tweetbatin.

Share This

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates