A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Selasa, 10 Mei 2016

Setengah Rindu.

Setengah pagi dan separuh rindu.



Lalu langit di seberang jendela sana belum juga menjingga, masih terkungkung cakrawala. Rasa nyeri diantara bentangan pundakku kini memanggil kepalaku untuk turut tenggelam dalam dada. Seketika itu lalu udara menusuk melalui rongga hidung hingga ubun-ubun lalu menjalar ke pelupuk mata. 

Merangkak melirik kawan sebelah lengan, tengah terdiam berdilema dengan batinnya sendiri. Dan tak ingin berbagi. Dirayu perempuannya, malah muram dari dagu hingga dahi.

Bisa saja kutumpahkan semua keluh dan peluh di sana. Bisa saja aku menenggelamkan diri pada kubangan air mata. Bisa saja kulontarkan jerit batin tampa suara. Namun harus ada satu pagi jingga yg harus kulalui tanpa sara.

Kau pernah bilang, adanya jarak antara kau dan aku semata-mata hanya demi memberi ruang untuk rindu. Agar rindu tertuang jelas lewat cangkir seorang dermawan spasi agar hidup tak jadi kaku. 

Namun kini rupanya kau terlalu terbiasa, hingga jengah akhirnya melanda, dan rindumu yg sengaja kau pelihara kini tak tersisa apa-apa. Dan kini memang sudah waktunya rindu berganti hati. Kini aku yg terjamahi rindu tanpa terwakili.

Cepat atau lambat, semua rindu pada akhirnya akan jadi semu. Entah berakhir pada temu, atau rindu yg akhirnya berpadu dengan jenuh dan ragu. Bahkan mungkin berakhir seperti abu yg hanya berpasrah pada cemburu. Dan akhirnya, hanya Pemilik Semesta-lah yg tau dimana berakhirnya rinduku.

Sementara ini aku pasrahkan rindu pada cemburu tak tau diri. Entah nanti.




—dap
[tw: @tweetbatin]







Share This

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates