A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Selasa, 19 April 2016

Saat Kau Terjatuh dalam Tatapku.

Surat rindu padamu, saat kau jatuh manis dalam tatapku. Kini tersisa beribu cemburu, juga sesal bercampur abu. 

Di matamu, telah bersemayam ribuan senja. Di wajahmu telah bermain seribu pesona. Kini aku tengah merasakan asmara menggiringku hingga nirwana.

Aku tak bisa menggapai senyummu, tidak bila lewat lukisan tentang dirimu. Bisa saja kala itu aku menyapamu, memungut kembali sejuta langkah yg kutempuh utk menjauh darimu agar sengsara tak lagi bertengger di hidupmu. Bisa saja kala itu aku menegurmu, memutar kembali haluanmu, mendapatkan hatimu. Bisa saja, kala itu kuingatkan lagi tentang tangismu menuju fajar kala itu, "kau bilang, jika, dan hanya jika satu langkah aku mendekat padamu, kau tak akan pernah melepasku. Kini aku telah berderap ribuan langkah ke arahmu, kau masih tak menjemputku." dan berkata, "lihat aku, ampuni aku, aku baru sampai. Namun kini aku menjemputmu, jangan tanyakan kenapa aku baru sampai."

Lalu Sang Ilahi mengizinkanku untuk sekali lagi, tersenyum geli, pada sebuah lentera di dalam hati. Gemericik manis senyummu hingga kini masih mampu menerbangkan kupu-kupu jingga di ujung setiap nadi.

Baru kali ini, jatuh hati membuatku merasa waras. Entah dimensi mana lagi yg harus ditempas. Yang pasti, aku tengah jatuh hati.

Bersemayam. Berbisik pada lintang. Memberi aba-aba bagi sang rembulan. Meminta pada Yang Menciptakan. Agar duniaku tak melulu ditampar kehampaan.

Runtuh. Beratapkan angit-langit polos tak berhembuskan riangmu. Beralaskan gelutik manja rasa rindu ingin berdua yg memegangku kukuh. Hanya mampu memandangi dahimu dari jauh. Dari dunia yg kekal akan masa lalu denganmu yg telah sepuh. 

Termayam geli batin ini. Padamu aku menjatuhkan rasa telah beratus ribu kali. Namun siapa tahu, kali ini semesta mengaminkanmu utk kumiliki. Sekali lagi.



Dari ini, aku terbangun mendapati bahwa
Telah lama, aku menimbun rindu
Telah jauh, aku membenamkan rasa pada hati yg lama tak berpandu.

Aku tau kau tak menangkapku di matamu kala itu. Aku tau bahkan tak lagi hatimu berkata rindu padaku. Dan lagi-lagi, aku tahu kau kini telah bersamayam manis dengan pemandumu yg baru. 

Namun jika hari ini aku jatuh cinta pada selembar kertas tanpa tinta dihadapku, itu karna aku baru saja menemukanmu. Di sela tumpukan rindu. Di bawah timbunan rasa sesalku. Menginginkanmu. Dan sekali lagi, mendoakanmu kembali jatuh hati padaku. 

Lelaki bodoh mana lagi, yang tersenyum bodoh saat melihat seorang pemandu baru tengah menggapai jari-jarimu? Aku,


—DAPw, mengaminkanmu pada duniaku.
(Tw: tweetbatin | ig: setangkai)





Kamis, 14 April 2016

Skenario Tuhan Tak Pernah Mati.

Skenario Tuhan Tak Pernah Mati.

Pernahkah kau tau cerita tentang daun jatuh yg membenci angin? Jika iya, tolong jelaskan bagaimana bisa ia membenci angin yg menuipnya jatuh bersemayam dengan dedaunan kering lainnya hingga mati menjadi sari pati, terguyur gerimis lalu dibangkitkan kembali dalam diri sebuah individu baru. Akar yg lebih kokoh. Batang yg lebih tangguh. Daun yg lebih teduh.

Hari ini kau jatuh terjerat asmara. Esok kau terpesona. Lusa kau mungkin patah.

Namun setidaknya kau bisa jadi individu baru —atau Hidup di setiap jiwa-jiwa yg haus disentuh. Kau bangkit lagi dan tumbuh. Dengan kaki yg lebih kokoh. Dengan dada yg lebih tangguh. Dan dengan tatapan yg lebih teduh. Sedari kau belajar saat jatuh, saat itu kau tengah belajar bengkit dan berdiri diatas jiwamu yg pasti sembuh. Dalam proses itu, kau tengah memantaskan dirimu bagi individu-individu yg akan siap menuai buah-buah manismu.

Hari ini kau mungkin jatuh. Memang kau dipersiapkan untuk itu. Tapi jangan lupa bahwa Tuhan punya seribu alasan untuk membuatmu bangkit berdiri sejengkal lebih tinggi dari hari sebelum kau jatuh.

Setidaknya kisahmu belum berlalu. Masih ada seribu bahagia yg bisa kau pilih utk jadi penutup kisahmu.


—DAP
(Twitter: tweetbatin | ig: setangkai)








Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates