A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Sabtu, 21 Maret 2015

Dengar Aku Tanpa Hingar Bingarmu.

Dengar.


(Quotes is originally by me)

Dengar lah dengar, ada sebuah detak yg lama tak kunjung kau dengar. Aku tak mampu sangkali jika kau dapat melihatku di sini, kau akan temukan wajahku mebiru dan nanar. Dengarkan suara tetesan halilintar dalam mata ini yg menyambar, ketika aku tahu lelakimu kini tengah mempertahankanmu dan memperlakukanmu dengan benar.

Irama hujan yg pernah ku senandungkan, alunan sunyi aksara dari puisi-puisi yg kunadakan, aroma getirnya surat-surat lusuh yg kuhembuskan... tak kunjung kau hiraukan.

Dengar. Biduan-biduan kecil tengah berdendang dibawah kelabu sinar rembulan tertutup awan dan tengah meriuhkan suara hujan. Hanya mereka hama-hama itu yang sepertinya menghiraukan.

Kau tak tahu kan rasanya berbaring di sini membaca semua aksara-aksara manismu? Kau tak pernah tahu rasanya duduk sendiri menelan rindu, sambil menikmati setiap pertunjukkan saat otakku mulai memutar kembali manisnya gambaran sewaktu masih bersamamu.

Nanar. Aku terus mencoba tak berair mata saat kupandangi lekat-lekat wajah pucatmu yg sedang bersanding bahagia dengan lelakimu. Kau terlihat sangat pucat, meski kau terlihat bahagia. Ku tarik ulur nafasku hingga saatnya aku hanya bisa mengulur tanpa bisa kutarik kembali. 

Ku dengar, di sini ada yg membisikkan, bahwa mungkin takkan lagi terasa jika aku meminta pada Yang Kuasa untuk membuatku tiada.

Kau tahu rasanya mati saat raga masih bernyawa? Kau tahu rasanya hidup tanpa nada yg benar benar bisa memberiku tawa? Kau tahu rasanya mati rasa saat semestinya banyak yg harus dirasakan dalam kelamnya jiwa?

Ah, rasanya, aku masih saja berlari di sini, takut terhimpit bayang yang kian memanjang. Aku terus berlari dari keacuhanmu yg kian ku sangkali. Sekali dua kali, aku telah mencoba menghidupi hidupku dengan penuh nyali. Namun di sana, kurasa kau tak lagi mengkiraukan hidupnya sebuah rasa.

Coba dengar ini. Kau dan aku sama-sama tak tahu kenapa aku bisa jatuh hati seperti kini. Yg kau dan aku tahu, kita pernah menyulam mimpi seiring rasa yg dulu tumbuh tak terpungkiri. Rasa tanpa alasan, tanpa mengharap imbalan, tanpa lantara, tanpa meminta balasan dan hanya ada satu pengecualian; kau hanya mampu ku rindukan.

Ketika sang fajar mulai mulai muncul dari ufuk surganya, dengan cemburu mengusir cahaya-cahaya kecil kota, rindu ini pun semakin menjadi nyata. Kini hama-hama malam tengah berganti dengan kicauan burung yg menyanyikan nyanyian surga. Aku harus segara bersiap-siap untuk lekas bahagia demi seorang wanita. Menjalani sandiwara hidup, meski tengah matinya batin seorang pria.

Batinku yg mulai teramat sangat terbiasa dengan hingar bingar bualan wanita, lantaran batinku sudah berkarat dan mulai binasa,



—DAPw, @tweetbatin


Rabu, 18 Maret 2015

Rain.

Rain.





"It rains here and it rains there, and it rains in my bedroom, it rains everywhere. No one can ever get to know the rhyme of the rain. But When it rains, everything's so right that makes anything else seems so wrong. Loving rain even when the sun burns too hot, is like i love you even when you're impossible to be mine."

Hi, moon. Nothing else i want to ask you but, "how are you today?", "have you had your breakfast?", "how's your feeling today?", "are you happy there without me?", "do you love the world today?". But still, i don't want to ask directly, cause you will never answer, i know.

Do you love the world today? Even if sun shines too bright too hot that it burns your skin and brain? Even if it rains everywhere you go and makes wet everything or it just makes you stuck at somewhere you are? Or even if it's cloudy out there that it can bring out your worst memory or daydream?

Because i love the world today. I love my world where i have to play a role for people i love. I love your world wherever you're standing by right now. 

And let me tell you, no one loves rain like i do. I love rain so much. I love rain even if it's shiny day. I love rain even it brings out all memories about you. Summer is coming, i miss rain already. I miss rain like i miss you. I miss rain while i should hate it because i know, rain brings you in memories that i shouldn't remember. Rain could bring me down and also bring you to me.

I'm not afraid of being wet by the rain. I'm not afraid of my skin getting darker by the sun. I'm not afraid of sleeping under the naked sky without clouds as my blanket. I'm not afraid of pain of watching the moon all night long. I'm not afraid of being blurry-eyed while counting the stars when I'm waiting for you. I'm not aftaid of losing you when you're gone.

Because, no matter how far this life would take me, i know that the world would always bring you back to me. I never lose you like i actually do. I see you in rain, i see you in sunshine, i see you under the naked sky with moon stars glooming. I see you everywhere my mind goes.

I never lose a single thing. I never lose a faith. In you. And let the rain washes away all the pain of yesterday,
Rainy love,



—DAPw, @tweetbatin




Jumat, 06 Maret 2015

Jangan Menyisakan Yang Membuatku Rindu.

Jangan Menyisakan Yang Membuatku Rindu.



Aku tahu kau sudah lelah bermimpi. Kau sudah selesai dengan urusanmu denganku dan memilih pergi tak meninggalkan bekas di sini. Aku sangat mengerti kau tengah jauh-jauh melangkah pergi. Menyeret semua persendian hidup yg tak terkendali.  Dengar, jangan meninggalkan bekas untukku di sini.

Dengar, kau pergi aku tak apa. Meski kau telah berjanji kau akan bersamaku sampai tua. 

Kau berjanji padaku saat dua tahun lalu aku tiba-tiba tebangun tengah malam dan cepat-cepat menyuruhmu berjanji kau tak akan meninggalkanku. Kau berkata, "Iya, sayangku. Aku berjanji untukmu," dan ku dengar suara manismu bergembira karna kau tau segitunya aku menyayangimu. Dan kau pun tahu, tak akan pernah kau temukan seorangpun yg mampu menyayangimu seperti caraku menyayangimu dalam diamku. 

Aku mengerti kau telah selesai denganku. Aku merasa kau begitu, jadi aku berusaha baik-baik saja untukmu. Tapi kumohon,
Ketika kau mengemas baju hangatmu untuk kau pakau bersama priamu, dan buku-buku favoritmu untuk kau bacakan pada priamu, 

jangan lupa kau bawa satu mimpi di mana hanya kita berdua tersenyum tanpa keluh. Mimpi yg tak menghiraukan remuknya hati saat ada kata-kata "aku tak lagi mencintaimu, aku mencintai yg baru". 

Jangan lupa ambil semua nafas yg kau hirup pada setiap malam kau tertidur dengan suara nafasku.

Jangan lupa bawa semua lagu yg pernah kunyanyikan pada gitar yg senarnya terputus di tengah lagu.

Jangan lupa ambil semua ciuman tanpa sentuhan yg kau perawankan dan kupatenkan.

Jangan lupa bawa semua pelukan dan detak jantungku yg dulu ingin kau dengarkan.

Aku sudah cukup sengsara saat semua hal yg kulihat di setiap sudut di dunia ini, mengingatkanku akan betapa letihnya kau bersamaku. Dan setiap hal-hal kecil bagian dari apa yg kulihat secara nyata, mereka tak menyerah untuk mengingatkanku akan manisnya senyummu.

Jangan meninggalkan setitikpun untukku. Jangan hanya aku yg merugi dan tertusuk manisnya duri masa laluku. Aku sudah cukup binasa batinku saat kutahu kau tengah bersama idaman baru,
Aku yg tak pernah kau persiapkan untuk kau tinggalkan,


—DAPw, @tweetbatin


Rabu, 04 Maret 2015

Tidakkah Kau Rasa Cukup? (Sahabatku Jatuh Cinta)



Catatan kecil ini terinspirasi dari seorang sahabat lamaku yg tengah terhimpit rasa pada sahabat baru. Boleh kan, kugambarkan sedikit kisah tentang sahabatku? Tak melulu tentang rindu padamu, Wulan-ku?

***

Sore ini, haus rasanya mata ini untuk menenggak hamparan awan yg teduh di ujung cakrawala sana. Aku pulang dan membuka pintu dengan perasaan tak rela berpisah dari dekatmu. Kakiku gemetar saat kutahu engkau, sahabat yg terus membuatku menyulam rasa, nyatanya telah bersinggah di hati idaman lain. Kuharap seketika aku bisa jatuh di situ dan menangis sekencang-kencangnya meski kau pun tak pernah tahu.

Kuletakkan sejenak beban di punggungku dan mencoba menyeringai senyum pada seisi rumah. Meski kurasa cukup bagiku untuk terus berpura-pura kuat dan bersandiwara bahwa jiwa ini tak mudah goyah. Nyatanya, aku tak kuat sendirian menanggung beban berat dalam tas yg kujinjing tinggi dalam hatiku. Aku masih tak percaya, kau sahabatku, tengah bahagia mengulum asmara.

Aku mengusap peluh, dan kubasuh semua keluh. Aku menatap cermin dan berkaca menelan candu. 

Ini wajahku, apa tak cukup manis untuk dapat kau pandangi agar kau bisa merasa beruntung berada di dekatku?

Ini lah mataku, apa tak cukup sayu untuk berbagi keheningan saat ku tahu kau tengah sendiri menanggung beban di kepalamu?

Ini senyumku, apa tak cukup megah untuk bisa membuatmu ikut menyeringai tawa segarmu?

Ini bibirku, apa tak cukup sejuk aksara-aksara yg biasa kusulam tiap pagi untuk menyapa semangat pagimu dan pengantar tidurmu?

Ini pundakku, memang tak cukup tegap untuk kau sandarkan segala beban duniamu. Tapi apa pundakku belum cukup tenang untuk sekedar kau sandarkan kepalamu dan kusilahkan kau berpeluh keluh dan kesah saat dilema hatimu?

Ini dia jemariku, memang tak cukup lentik untuk kujentikkan pada dawai-dawai yg bisa mengguncangkan dunia. Tapi apa tak cukup lembut jemariku untuk sekedar mengusap peluhmu dan mencanangkan tinggi-tinggi sanubarimu ketika sedang layu?

Malah kau lebih memilih untuk memasrahkan ujung jemarimu disentuh oleh dia kekasih barumu. Pundakmu untuk kau teguhkan sebagai tempat bersandarnya. Bibirmu untuk kau rayu dia. Senyummu untuk membuatnya merasa berbunga-bunga. Matamu untuk kau pandangi lekat-lekat matanya. 

Kau sahabatku, segitu buta kah kau sampai kehadiranku setiap hari hanya kau anggap sebagai angin lalu? Segitu tuli kah kau saat kata demi kata yg kuucap hanya bertanda bahwa aku telah lama jatuh hati padamu. 

Kau sahabatku,
"aku jadi merasa bodoh telah mengharap asmara yg sama pada hatimu. Aku salah karna mestinya aku tahu diri aku tak pantas bagimu dan kau tak akan memantaskan aku."

Lalu, boleh kah ku sudahi lelahku mengharap untuk kau hiraukan rasaku? Aku akan berjalan dengan waktu yg kian menghimpit dada ini. Aku akan berjalan mondar-mandir mencari ujung jalan yg layak kusinggahi selain engkau. Aku akan mencoba memantaskan diri untuk diberi sejuta rasa oleh hati-hati yg masih terbuka. 

Aku mulai berpetualanh dalam patah arang jiwaku. Mencari selembar kertas yg bisa kutuliskan cerita baruku. Menyiapkan hati ini teguh-teguh untuk nanti dapat jatuh hati pada rasa yg baru.

Bagi dan oleh sahabatku, cukupkan lah hatimu dan mulailah merindu asmara yg baru,



—DAPw, @Tweetbatin


Minggu, 01 Maret 2015

Semestinya Kita.

Semestinya kita berkawan dengan semesta.



"Samudera masih berombak sama saat kita tak lagi bersama. Langit masih membumbung  sama ketika kau tak lagi memberiku aksara. Bintang dan rembulan masih berkelip sama dengan cahaya yg begitu-begitu saja. Matahari kian lama kian menunggu tua. Sepertinya semestapun belum bisa menemukan cara untuk menyatukan kita."

Kau berteduh ketika hujan pun masih enggan turun. Kau takut tak bisa temukan jodohmu saat usiamu mulai termakan tahun. Kau ragu pada matahari ketika awan tengah tinggi membumbung. Kau gentar saat Ibumu dan semua orang mulai menyayikan lagu tentang keberadaanku yg kian lama beralun. 

Ibumu dan Ibuku sepertinya seirama. Mereka berdua mendustakan kita untuk bersama. Mereka ragu masing-masing kita bisa saling bahagia. Sepertinya semesta menjawab "iya" saat Ibuku memintaku untuk berhenti menderita. 

Kali ini, Ibumu, Ibuku dan semesta sepertinya tak berkawan denganku. Mungkin aku kurang menambah doa dan harapan padamu. Atau Sang Pencipta menginginkanku berhenti mencarimu di sela hidupku?

Salam rindu untuk Ibumu, dan pada hal-hal kecil olehku yg dulu sempat menyalakan tawamu,


—DAPw, @tweetbatin

Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates