Dengar.
Dengar lah dengar, ada sebuah detak yg lama tak kunjung kau dengar. Aku tak mampu sangkali jika kau dapat melihatku di sini, kau akan temukan wajahku mebiru dan nanar. Dengarkan suara tetesan halilintar dalam mata ini yg menyambar, ketika aku tahu lelakimu kini tengah mempertahankanmu dan memperlakukanmu dengan benar.
Irama hujan yg pernah ku senandungkan, alunan sunyi aksara dari puisi-puisi yg kunadakan, aroma getirnya surat-surat lusuh yg kuhembuskan... tak kunjung kau hiraukan.
Dengar. Biduan-biduan kecil tengah berdendang dibawah kelabu sinar rembulan tertutup awan dan tengah meriuhkan suara hujan. Hanya mereka hama-hama itu yang sepertinya menghiraukan.
Kau tak tahu kan rasanya berbaring di sini membaca semua aksara-aksara manismu? Kau tak pernah tahu rasanya duduk sendiri menelan rindu, sambil menikmati setiap pertunjukkan saat otakku mulai memutar kembali manisnya gambaran sewaktu masih bersamamu.
Nanar. Aku terus mencoba tak berair mata saat kupandangi lekat-lekat wajah pucatmu yg sedang bersanding bahagia dengan lelakimu. Kau terlihat sangat pucat, meski kau terlihat bahagia. Ku tarik ulur nafasku hingga saatnya aku hanya bisa mengulur tanpa bisa kutarik kembali.
Ku dengar, di sini ada yg membisikkan, bahwa mungkin takkan lagi terasa jika aku meminta pada Yang Kuasa untuk membuatku tiada.
Kau tahu rasanya mati saat raga masih bernyawa? Kau tahu rasanya hidup tanpa nada yg benar benar bisa memberiku tawa? Kau tahu rasanya mati rasa saat semestinya banyak yg harus dirasakan dalam kelamnya jiwa?
Ah, rasanya, aku masih saja berlari di sini, takut terhimpit bayang yang kian memanjang. Aku terus berlari dari keacuhanmu yg kian ku sangkali. Sekali dua kali, aku telah mencoba menghidupi hidupku dengan penuh nyali. Namun di sana, kurasa kau tak lagi mengkiraukan hidupnya sebuah rasa.
Coba dengar ini. Kau dan aku sama-sama tak tahu kenapa aku bisa jatuh hati seperti kini. Yg kau dan aku tahu, kita pernah menyulam mimpi seiring rasa yg dulu tumbuh tak terpungkiri. Rasa tanpa alasan, tanpa mengharap imbalan, tanpa lantara, tanpa meminta balasan dan hanya ada satu pengecualian; kau hanya mampu ku rindukan.
Ketika sang fajar mulai mulai muncul dari ufuk surganya, dengan cemburu mengusir cahaya-cahaya kecil kota, rindu ini pun semakin menjadi nyata. Kini hama-hama malam tengah berganti dengan kicauan burung yg menyanyikan nyanyian surga. Aku harus segara bersiap-siap untuk lekas bahagia demi seorang wanita. Menjalani sandiwara hidup, meski tengah matinya batin seorang pria.
Batinku yg mulai teramat sangat terbiasa dengan hingar bingar bualan wanita, lantaran batinku sudah berkarat dan mulai binasa,
—DAPw, @tweetbatin





