A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Jumat, 06 Januari 2017

Jangan Begitu Membenciku.

Minggu lalu, ibumu bilang padaku bahwa

Ketika hujan menyapa senja, kau hanya tertunduk seperti matahari kala senja dan hujan tengah menerpa; kehilangan warna.
ketika malam tak kunjung bawakanmu selimut kantuk, kau hanya terbaring dengan gerimis dan petir di matamu. 
Ketika pagi telah terbit, sering engkau terbawa suasana saat berceloteh ringan dengan Ibumu, bercerita tentang kebiasaan lamaku yg engkau tau. Seakan lupa, bahwa kita telah lama tak bersama. Lalu kau diam salah tingkah.
Ketika duniamu terlalu melelahkan, dan lututmu begitu lunglai, kadang dalam tidurmu kau sebut namaku dengan suara paraumu. 

Apakah itu cinta di antara engaku dan dia? Atau hanya benci yg sementara kau tunda.

Betapa lucunya kau ini. Kau sendiri yg memilih pergi. Engkau pula yg rasakan perih.

Setiap kali kau nodai bibir lembutmu memakiku, kau makin terlihat terlalu menyayangiku.

Jika nanti nyatanya kau teringat tentangku di sela sore ceriamu;



Jangan coba engkau sembunyi di balik pintu saat nanti aku datang membawakan nenekmu seikat Bunga Desember kesukaanmu.
Jangan engkau ganggu aku berbincang sore, menemani nenekmu memandangi langit tua dengan sedikit rindu pada kakekmu.
Jangan engkau mengintip kami -
dari tirai jingga kamarmu, ketika aku tengah terbawa haru dan memeluk nenekmu.
Jangan kau undang lelakimu untuk mengusirku,
Jangan kau lupa akulah andalan bapakmu.

Meski jika kau lupa bukan lagi aku impianmu.

Ampuni aku jika aku telah membayangimu.
Karna aku telah mengampunimu bahwa kau terlalu berisik di kepalaku bahkan saat aku telah jadi milik wanita lain.

Kau pun tau, bahkan jika kekasihmu mengetuk pintu depan rumahku membawa serdadu perang pun, darah dan derajat kejayaanku tak akan turun.
Karna semua orang akan tahu, jika tumpah darahku, gugur lututku, itu hanya karna wanita sepertimu.


—dap

Selasa, 10 Mei 2016

Setengah Rindu.

Setengah pagi dan separuh rindu.



Lalu langit di seberang jendela sana belum juga menjingga, masih terkungkung cakrawala. Rasa nyeri diantara bentangan pundakku kini memanggil kepalaku untuk turut tenggelam dalam dada. Seketika itu lalu udara menusuk melalui rongga hidung hingga ubun-ubun lalu menjalar ke pelupuk mata. 

Merangkak melirik kawan sebelah lengan, tengah terdiam berdilema dengan batinnya sendiri. Dan tak ingin berbagi. Dirayu perempuannya, malah muram dari dagu hingga dahi.

Bisa saja kutumpahkan semua keluh dan peluh di sana. Bisa saja aku menenggelamkan diri pada kubangan air mata. Bisa saja kulontarkan jerit batin tampa suara. Namun harus ada satu pagi jingga yg harus kulalui tanpa sara.

Kau pernah bilang, adanya jarak antara kau dan aku semata-mata hanya demi memberi ruang untuk rindu. Agar rindu tertuang jelas lewat cangkir seorang dermawan spasi agar hidup tak jadi kaku. 

Namun kini rupanya kau terlalu terbiasa, hingga jengah akhirnya melanda, dan rindumu yg sengaja kau pelihara kini tak tersisa apa-apa. Dan kini memang sudah waktunya rindu berganti hati. Kini aku yg terjamahi rindu tanpa terwakili.

Cepat atau lambat, semua rindu pada akhirnya akan jadi semu. Entah berakhir pada temu, atau rindu yg akhirnya berpadu dengan jenuh dan ragu. Bahkan mungkin berakhir seperti abu yg hanya berpasrah pada cemburu. Dan akhirnya, hanya Pemilik Semesta-lah yg tau dimana berakhirnya rinduku.

Sementara ini aku pasrahkan rindu pada cemburu tak tau diri. Entah nanti.




—dap
[tw: @tweetbatin]







Selasa, 19 April 2016

Saat Kau Terjatuh dalam Tatapku.

Surat rindu padamu, saat kau jatuh manis dalam tatapku. Kini tersisa beribu cemburu, juga sesal bercampur abu. 

Di matamu, telah bersemayam ribuan senja. Di wajahmu telah bermain seribu pesona. Kini aku tengah merasakan asmara menggiringku hingga nirwana.

Aku tak bisa menggapai senyummu, tidak bila lewat lukisan tentang dirimu. Bisa saja kala itu aku menyapamu, memungut kembali sejuta langkah yg kutempuh utk menjauh darimu agar sengsara tak lagi bertengger di hidupmu. Bisa saja kala itu aku menegurmu, memutar kembali haluanmu, mendapatkan hatimu. Bisa saja, kala itu kuingatkan lagi tentang tangismu menuju fajar kala itu, "kau bilang, jika, dan hanya jika satu langkah aku mendekat padamu, kau tak akan pernah melepasku. Kini aku telah berderap ribuan langkah ke arahmu, kau masih tak menjemputku." dan berkata, "lihat aku, ampuni aku, aku baru sampai. Namun kini aku menjemputmu, jangan tanyakan kenapa aku baru sampai."

Lalu Sang Ilahi mengizinkanku untuk sekali lagi, tersenyum geli, pada sebuah lentera di dalam hati. Gemericik manis senyummu hingga kini masih mampu menerbangkan kupu-kupu jingga di ujung setiap nadi.

Baru kali ini, jatuh hati membuatku merasa waras. Entah dimensi mana lagi yg harus ditempas. Yang pasti, aku tengah jatuh hati.

Bersemayam. Berbisik pada lintang. Memberi aba-aba bagi sang rembulan. Meminta pada Yang Menciptakan. Agar duniaku tak melulu ditampar kehampaan.

Runtuh. Beratapkan angit-langit polos tak berhembuskan riangmu. Beralaskan gelutik manja rasa rindu ingin berdua yg memegangku kukuh. Hanya mampu memandangi dahimu dari jauh. Dari dunia yg kekal akan masa lalu denganmu yg telah sepuh. 

Termayam geli batin ini. Padamu aku menjatuhkan rasa telah beratus ribu kali. Namun siapa tahu, kali ini semesta mengaminkanmu utk kumiliki. Sekali lagi.



Dari ini, aku terbangun mendapati bahwa
Telah lama, aku menimbun rindu
Telah jauh, aku membenamkan rasa pada hati yg lama tak berpandu.

Aku tau kau tak menangkapku di matamu kala itu. Aku tau bahkan tak lagi hatimu berkata rindu padaku. Dan lagi-lagi, aku tahu kau kini telah bersamayam manis dengan pemandumu yg baru. 

Namun jika hari ini aku jatuh cinta pada selembar kertas tanpa tinta dihadapku, itu karna aku baru saja menemukanmu. Di sela tumpukan rindu. Di bawah timbunan rasa sesalku. Menginginkanmu. Dan sekali lagi, mendoakanmu kembali jatuh hati padaku. 

Lelaki bodoh mana lagi, yang tersenyum bodoh saat melihat seorang pemandu baru tengah menggapai jari-jarimu? Aku,


—DAPw, mengaminkanmu pada duniaku.
(Tw: tweetbatin | ig: setangkai)





Kamis, 14 April 2016

Skenario Tuhan Tak Pernah Mati.

Skenario Tuhan Tak Pernah Mati.

Pernahkah kau tau cerita tentang daun jatuh yg membenci angin? Jika iya, tolong jelaskan bagaimana bisa ia membenci angin yg menuipnya jatuh bersemayam dengan dedaunan kering lainnya hingga mati menjadi sari pati, terguyur gerimis lalu dibangkitkan kembali dalam diri sebuah individu baru. Akar yg lebih kokoh. Batang yg lebih tangguh. Daun yg lebih teduh.

Hari ini kau jatuh terjerat asmara. Esok kau terpesona. Lusa kau mungkin patah.

Namun setidaknya kau bisa jadi individu baru —atau Hidup di setiap jiwa-jiwa yg haus disentuh. Kau bangkit lagi dan tumbuh. Dengan kaki yg lebih kokoh. Dengan dada yg lebih tangguh. Dan dengan tatapan yg lebih teduh. Sedari kau belajar saat jatuh, saat itu kau tengah belajar bengkit dan berdiri diatas jiwamu yg pasti sembuh. Dalam proses itu, kau tengah memantaskan dirimu bagi individu-individu yg akan siap menuai buah-buah manismu.

Hari ini kau mungkin jatuh. Memang kau dipersiapkan untuk itu. Tapi jangan lupa bahwa Tuhan punya seribu alasan untuk membuatmu bangkit berdiri sejengkal lebih tinggi dari hari sebelum kau jatuh.

Setidaknya kisahmu belum berlalu. Masih ada seribu bahagia yg bisa kau pilih utk jadi penutup kisahmu.


—DAP
(Twitter: tweetbatin | ig: setangkai)








Senin, 29 Februari 2016

Aku Memanggilmu.

Aku Memanggilmu.



Waktu senja yg belum juga terbungkus malam. Waktu senyummu di kepalaku masih saja terlihat muram. Waktu semua yg kita harapkan kini semakin buram. Belum lagi, waktu malam telah berpasrah berendah diri pada Sang Pemilik Alam.

Layaknya yg tertera pada suratku yg lalu, aku telah jengah mendapati hayatku masih menantikan aba-aba darimu. Sedang raga ini telah lama tewas termakan cemburu yg begitu lucu. Aku bahkan sudah lama tak lagi mendengar suara harapanmu padaku.

Sudah kupasrahkan garis-garis takdirku pada Sang Pencipta. Bukan lagi pujangga, kini aku hanya akan jadi luka dan penikmat rasa. Rasa bagaimana ia diciptakan untuk sempat singgah, entah sementara atau selamanya. Aku kini juga menikmati bagaimana aku pada akhirnya berdamai dengan ibunda.

Aku memanggilmu. Di sela rindu akan hangat sapamu.
Aku memanggilmu. Dalam khayalku yg meniadakan wanitaku dan lelakimu.
Aku memanggilmu. sembari menelanjangi raut wajahnya yg sengaja ia teduhkan untukku.
Aku memanggilmu. Di antara hangat parasnya di setiap sudut dan raut wajahnya, kadang alu menyelipkan rindu padamu.
Aku memanggilmu. Pada barisan senja yg kini memaparkan diri pada kepasrahanku pada kiblatku.


Dan apa bila malam telah jatuh di depanmu, mohon ingatkanku lagi bahwa tak sepantasnya aku masih mengharapmu setelah perempuanku. Ingatkan aku lagi, aku tak perlu menyelipkan rindu disela kantukku.


Aku memanggilmu tanpa henti, dengan layu, di antara sorak gembira ibuku atas kedatangan perempuanku.



—dap. @tweetbatin (ig: setangkai)




Senin, 01 Februari 2016

Terjerembab Makna.

Terjerembab Makna. 



Tentang bagaimana mata kita tak saling jatuh cinta, dan tentang hati kita yg saling terjerembab asmara.

Kali ini, datang dari pusat keramaian kota di mana semua orang terlihat kehilangan jiwa mereka. Di mana semua orang berjalan mengitar. Menginjak ubin yg sama berulang ulang kali. Terpana pada patung-patung yg dikemas dengan jubah dengan cara yg sama. Dan ternganga dengan cara yg sama pada badut pesta yg jiwanya tersesat di dalam kepala mereka.

Di tengah-tengah semua pertunjukkan itu, ada seorang bujangan yg bibirnya berhiaskan nada. Bahkan sekecap bibirnya itu menyumbangkan aura bagi seluruh penjuru di gedung ini. Ia pun belum tahu, senandung melodi tanpa rupa telah mengundang semua mata yang berlalu melewatinya. Atau ternyata dia tahu, namun matanya terlalu nyaman pada rasa takut untuk menatap setiap mata yg terpana pada kerumunan melodinya.

Semua penjuru, telah tersihir olehnya, bahkan jiwa-jiwa yang melayang dalam tatapan penuh kagum telah rela menjadi budak suaranya. Adele, Hello. Hampir semua orang menguncup, meringis, menganga pada waktu yg sama dengannya. Turut berbagi tenaga tanpa jiwa. Sekali lagi, jiwa mereka disandera oleh patung-patung yg dikemas dalam jubah.

Semua orang saling berpapasan pada satu sisi. Dan ketika tatapan seorang lelaki tepat jatuh di depanku pada seorang perempuan, aku melihat mereka mengucap kata yg sama dalam melodi yg sama. Aku heran, mereka tak jua saling jatuh cinta. Aku hanya bisa tergeleng layu sembari menundukkan mataku, dan lingkar geli di bibirku. Terpikirkan satu makna yg jatuh padaku bahwa;

"Bahkan mungkin mereka para lelaki yg sebegitu beruntungnya bisa menjatuhkan tatap bagi seorang wanita, tak lekas bersapa atau jatuh cinta. Malah aku, yg bisa dibilang bejawan ini, bisa begitu terlena jatuh hati bahkan tanpa menjatuhkan tatap padamu. 
Mereka lelaki yg sudah sedemikian beruntungnya bersanding dengan perempuannya, terlihat tertunduk lemas lantaran ia tak mampu merasakan rindu. Sedangkan aku, aku tak perlu jadi cecunguk yg bersembunyi dibalik bidangnya dadaku, tangguhnya pundak, atau malu-malu di belakang tubuh perkasaku hanya untuk mengungkapkan rindu."


Lebih dari itu, aku hanya sebatang rokok yang berasap. Dan kadang hanya sesumbut asap dari sebatang rokok dan secangkir kopi. Hidupku dihabiskan untuk memperhatikan objek yg kutangkap lewat mata dan telinga. Dan selebihnya, kau pun tak perlu menaruh perhatian lebih pada hidupku dari apa yg tak perlu kau dengar dan tak pernah lihat.

Aku tahu kau tak lagi menerka makna. Dan aku pun tak peduli apakah kau masih peduli dari sana.




Salam acuhku bertanya pada kabarmu.

—DAPw, @tweetbatin





Senin, 18 Januari 2016

Jengah.

Jengah.

Pagi buta. Senin. Delapan Belas Januari. Enam Belas.





Dari hati, pada hati. Yang merasa masih punya hati. 

Aku bejawan rintih dari sesengguk kopi. Aku masih takut terlelap ketika malam jatuh di depan mataku dan kadang, mimpi-mimpi tentangmu mengejarku terlalu jauh. Hingga aku sering terseret terlalu jauh dalam ketakutan melihat wajahmu bahkan dalam tidurku.


Entah bagaimana lagi harus memulai surat demi surat untuk dikirim ke tempatmu kini. Entah bagaimana lagi memebuang muak melihat potretmu tengah bersanding manis dengannya yg meminangmu lebih dulu. Entah dari mana, aku harus menepuk pipimu, menampar sanubarimu, menyadarkanmu tentang bagaimana kemarin kita berdua memulai lagi. 
Tentang bagaimana kita telah setuju sama-sama meninggalkan setengah dari urusan dunia yg belum jua merestui.
Tentang bagaimana bajingan ini telah rela mengampunimu setelah kau hianati.
Tentang bagaimana dengan mudahnya aku hanyut terguyur asmara hanya dengan sesumbut kata maaf setelah lelaki lain yg kau kencani.

Aku tahu, kala itu aku tengah telanjang bulat, tengah bergulat dengan ramainya duniaku hingga aku tak punya sehelai benang untuk mengikatmu. Aku benar-benar tak punya apa-apa kala itu. Aku hanya mampu berlari sekencang-kencangnya untukmu. Aku hanya mampu meneguk air putih sebanyak yg kau minta kala itu. Aku hanya mampu menyudahi asap ternikmatku dari pintamu. Aku hanya mampu mengakhiri kisahku dengan wanita lain saat aku tau itu membakarmu dlm cemburu.

Bukankah lucu, saat aku se-manut itu demi Anda, malah Anda pergi seenaknya? Tanpa ada kata, tanpa kau beri pelita.
Bukankah dari semua kisah di kerumunan dunia, wanita lah yg tau seperti apa rasanya derita?
Namun, kenapa malah kini aku yg harus merasakan lumpuhnya batin saat kau benar-benar khianat dengan seorang pria?

Aku jengah. Harus terbujur kaku oleh rasa cemburu yg harusnya tak perlu kurasakan saat aku tau kau yg pergi.
Aku jengah. Menatap potretmu memandangnya dari mata tajammu yg tak pernah kuijinkan berselingkuh.
Aku jengah. Akan amarah padamu yg harusnya tak perlu membakarku lantaran kau bukan lagi wanita yg pantas menyita waktu senduku.
Aku jengah. Harus berpura-pura bahagia dengan wanitaku sedang hati ini tertunduk rindu padamu.
Aku jengah. Harus mengais sisa-sisa keikhlasan dunia untuk cepat-cepat menemuimu, malah ia lebih dulu memenangkan hati Ibumu utk meminangmu.

Kau tau, aku tak pandai mengungkapkan lukaku tiap aku tau aku tak bisa jadi yg terbaik yg bisa kau kenang. Aku tau kau tak mau aku datang utk memintamu sembuhkan bekas-bekas cakaranmu. Lalu aku berlari, dengan membawa perih, menuju hati lain yg kosong untuk kuisi dengan cara terbaikku.

Yg tersisa kini hanyalah lelah, yg menyulut jengah, lalu mengobarkan amarah. Dan di penghujung setiap malamku, aku selalu terbujur layu oleh luka yg terlanjur digerumuti nanah dan dosa. Dosa lantaran tak seharusnya aku masih memuja wanita yg kini resmi milik seorang pria.

Lupakan tentang "semoga kita tak akan ada habisnya."
Jangan hiraukan jika kau kuingatkan tentang "semoga kita diaminkan dunia."

Bahagia ya, kau. Selalu dalam doaku, selalu terkelun dalam rindu. Dan sedikit tak peduli tentang kau dan lelaki barumu.



—DAPw, milikmu.








Minggu, 17 Januari 2016

Hutang Darah.

Hutang Darah.




Pertengahan hari. Saat itu, angin tengah sibuk-sibuknya menyebarkan semerbaknya aroma samudera. Aku tengah duduk bersandar pada samping Mushollah kecil di ujung dermaga. Seluruh badanku telah rata diragati peluh bercampur amarah. Hari itu mataku bercucuran peluh lantaran sudah kunyatakan mata ini tak bertengger satu mili pun selama tiga hari, begitu juga esoknya. Jadi kawanankupun tak akan tahu jika aku sesungguh-sungguhnya sedang mengelus duka.


Aku lelah harus bertanggung jawab atas kesalahan yg tanganku tak pernah lakukan.
Aku lelah, Tuhan, terikat pada satu pilihan yg sedari awal tak pernah terlintaskan.
Aku lelah harus menjadi korban nasib, budak waktu, dan buruh upah bualan.
Aku lelah berandai-andai bahwa harusnya raga ini dapat memilih bersamanya ketimbang mati terkungkung hutang.


Semua pikiran busuk itu terjerembab di awang-awang mataku yg tengah terpaku pada sesosok fatamorgana di ujung jalan. Tidak setelah bidadari termuliaku menabuhkan suara lembutnya pada gendang telinga yg mulai mengeras oleh ribut angin dan harapan.

Seperti biasa, aku jatuh pada kesimpulan bahwa aku hanyalah bocahnya Ibuku. Memelas, manjaku, tanpa perlu basa-basi,
"Ibu, aku lelah. Semakin keras aku berusaha mengayuh roda sepedahku, semakin sepedah ini ingin membuatku terhantam dan terjatuh.
Ibu, aku mengantuk. Tapi semaking keras aku berusaha memejamkan mata, semakin deras air mata ini beradu dengan pilu dan berperang dengan peluh."
Dan sekeras apa pun aku berusaha menjauhkan ponsel dari bibirku, ia tak akan bisa dibohongi bahwa aku tak terisak tersedu. Malu, aku lah anak tertangguh Ibu.

Saat itu juga, Ibuku tak juga mampu membohongiku bahwa ia tidak tersedu. Isaknya sangat dalam menghunus peredaran darah di kantung telingaku. Terasa seperti setiap urat nadiku ditarik dari ujung jemariku.
Mati saja kau ini, Bam! Tak ayal semua orang pergi, kau hanya pembawa tangis.

Pelita pengusap peluh itu lalu berbisik pada telingaku yg terhunus pilu oleh sedunya,
"Kamu ini, anak laki-laki tertangguh yg pernah dimiliki seorang Ibu. Mau kamu ditawar dengan harga sejumlah seluruh harta dunia, Ibu engga mau. Jangan ngeluh, Ibu tau yg kita alami ini berat memang. Tapi kunci surga yg terselip disela jari kaki Ibu, Ibu janji, engga perlu kamu cari, pintu surga-lah yg bakal jemput kamu, Bam."




Hati manusia yg lahir dari rahim mana yg tak gemetar rasanya saat mengendengar bahwa ia dilahirkan untuk dijemput pintu surga?


Semakin sore, semakin panjang bayang kakiku. Kakiku yg lemas terhunus rasa sesal telah mengeluh pada Berlian-ku. Aku sibuk sendiri menata nafasku, menyembunyikan tangisku agar terdengar seperti gelagak tawa bagi yg diluar sana. Aku tak begitu mendengar apa yg disampaikan Ibuku, hingga satu celah aku mengerti arah bicaranya yg kukemas mentah-mentah dalam batinku.

Ibu tak minta kau bayar hutang darah yg Ibu keluarkan untuk membiarkanmu bersapa salam pada dunia. Ibu tak minta kau mengiyakan semua rasa kerinduan pada perempuan itu yg kau tutupi dari Ibu. Namun, berpuluh-puluh tahun Ibu mengenal Bapakmu, Ibu tak pernah tahu ia meneteskan air mata, tak juga saat Ninikmu meninggal. Kecuali pada dua saat. Pertama, ketika kau akan lahir sedang Bapakmu masih terkurung dari restu Ninikmu, yg belum juga luluh oleh kehadiran Abangmu. Bapakmu berusaha keras, entah bagaimanapun, ia harus hadir saat kau lahir. Kedua, saat kau telah remaja, kau ingin menukar nyawamu untuk menebus rindu pada gadismu. Kau bersikukuh tak mau bertemu obatmu, sebelum kami mengijinkanmu pergi dari rumah menemui gadis itu. kala itu bukan main derasnya air yg tak pernah kulihat dari dua bejana terkuat di dunia, sedang tubuhmu sama rentanya seperti saat kau baru lahir.
Tolong kau, anakku, bayar air mata Bapakmu, demi Ibu. Biar Abangmu jadi urusan Ibu.


****

Dan sedari itu, aku, anak laki-laki nya Bapak dan bocah cengengnya Ibu, tak akan sanggup menghianati air mata Bapakku, hutang darah pada Ibu, atau pintu surga yg dijanjikan Ibu. Tak boleh sedikitpun menyerahkan nafas Bapakku pada kawanan serigala yg dibutakan oleh dusta dan yg telah diadu domba. Semua inilah lantaran mengapa membabu pada tiga pencakar langitpun, hidupku masih menanggung susah.

Aku tak memilihmu, bukan berarti sudah tak tersisa sedikitpun asmara dalam hatiku. Bukan berarti juga aku tak ingin memilihmu. Namun, kau, ataupun dunia sekalipun, tak akan pernah mengerti bagaimana mereka para biadab yg duduk menjabat di atas hak Bapakku, bisa kapan saja mendengungkan ajal bagi keluargaku.



Kutuliskan ini. Kusisihkan badai sejenak untuk membuatmu melihat sedikit lebih jelas, tentang Singa di dalam tempurung kepalaku, dan bocah cengeng dalam rongga dadaku. Bukan untuk membuatmu melihatku seperti malaikat. Tapi untuk kau pandang sebagai manusia utuh seperti manusia lain, yg kadang tak punya banyak pilihan. Atau sama sekali tak ada pilihan.  Bahkan sekalipun harus memilih pilihan yg harusnya ditanggung oleh pundak lain.

Dari sekian banyak kau mengeluh bahwa kau telah lelah, sejatinya aku telah jauh lebih jengah. Kau bilang kau lelah dituntut jadi yg terbaik, aku di sini berjuang agar setidaknya keluargaku tak tercabik.

Hidupnya sebuah asmara bak sesumbut pelita. Lilin-lilin yg kau tanam dalam jiwa, telah berkobar menyatu padu dalam doa.


Kau, sang pelita malam, dewi rembulan, Doakan aku selalu, ya. Mintakan Tuhan mau mencukupkan tidurku.

Rinduku bersimbah darah,




—DAPw, milikmu.








Selasa, 12 Januari 2016

Bagian (3) dari Hidup.

Bagian Ketiga dari Hidup.



Menunggu.

Di balik setiap tawaku, akan terdengar melodi sumbang melambangkan nada tunggu.

Menunggu utk siap dicaci maki. Menunggu utk siap membuka diri.
Menunggu utk sekadar ditemani.
Menunggu utk memaafkan masa lalu dan memperluas hati.
Menunggu masa lalu utk rela tak lagi dihidupi.
Menunggu orang baru menyapu bersih sisa-sisa nanar yg mewabah menggerogoti.
Atau 
menunggu takdir yg membawaku mendekap hangat matamu setelah miliyaran hitungan jemari.
Menunggu dengan sabar, kapan nanar ini berhenti menyakiti, ketika kulihat lagi potretnya menggenggam tanganmu saat dinginnya pagi.
Menunggu masa, ketika ia yg jutaan malam berbaring lembut di ambang sanubari, menyeringaikan senyum termegahnya pada satu malam yg kuhadiri.
Menunggu singa-ku melepaskan diri mendekap pandangannya tak lebih dari sejengkal tatap mata ini.

Namun aku yakin, waktu tak akan menghianatiku. Orang bilang, sesuatu yg hebat butuh lebih banyak waktu. Aku belajar sabar, sembari terus membenahi diri yg akan jadi cerminan dari pendampingku.

Waktu juga tak akan bisa membodohiku, karna sumpah, aku akan menuntut upahku selama menjadi budak sang waktu!

Hari ini, mungkin orang-orang sudah ribuan kali menelan racun sepanjang hidupnya, dengan harapan hatinya tak lagi bernanah karna sering terluka. 
Berharap racun-racunnya membawa mereka melewati waktu-waktu menunggu bagi mereka. Mungkin aku juga memasukkan racun dalam tubuhku, berharap utk tidur sampai waktuku terbangun adalah tepat di sebelahmu, tepat di dalam rengkuhanmu.

Jangan menunggu setengah jiwa. Sedang jiwamu kini diambang dua rasa. Hidupku sudah penuh prahara pembawa nanah. Dan berhentilah membuat lubang di hidupku hanya lantaran kau sudah berhenti menyatakan cinta.

Kutitip rinduku, pada celah terbaik saat megahnya pagelaran hujan membawa semilir sendu.


Dariku, aku yg menuang sesendok sendu pada kopi pagi tanpa rengkuh.
—DAPw. @tweetbatin








Sabtu, 09 Januari 2016

Begitu Dalam.

Begitu Dalam.

(Tak ada gambar, adanya hanya amarah yg gemuruh menampar.)


Tentang aku, 'dia'ku, kau, 'dia'mu, dan 'dia'nya. Terjebak dalam satu bundaran di ujung kaki langit yg sama. Tak tau bagaimana, terus berputar hingga membuat lubang besar di bumi ini. Menjadikan perputaran angin bisu berlari kebingungan harus berhembus ke mana lagi. Bingung pada sanubari siapa kata rindu ini mestinya dibisiki.

Hujan turun, di sana, dan di sini. Kesana-kemari. Membuat jemariku menggerutu kaku ingin meninju langit di atas sini. Sebab aku dendam, pada awan hitam yg tak mau kujadikan topeng utk tutupi batin yg kini letih. Mendung itu tak mau menangis utkku yg tak mungkin menangis di hadapan gadis ini.

Sejatinya, aku telah lama menantikanmu membuka pintu tanpa malu dan membacakan puisimu pada dunia. Namun, saat duniamu sudah terbuka, malah sajak tentang dia melulu yg kau puja.

Ah, entahlah. Ternyata mimpi itu tak lagi kau pendar. Angan kita tak lagi sejajar. Mulai masa ini, tiap kali kudengar namamu, aku tak mau lagi kau buat dadaku bergetar.

Doakan aku bahagia dengannya. Doakan aku mampu usaikan puisiku utkmu.

Aku lelah harus marah, entah pd siapa.



—DAPw, @tweetbatin






Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates