Aku pernah dengar dari sebuah forum diskusi keagamaan kecil oleh pemuda lokal di masjid dekat rumahku. bahwa sebenarnya tugas seorang istri dahulu di jaman nabi, hakikatnya bukanlah mengurusi urusan rumah tangga seperti masak, cuci baju, cuci piring, membereskan rumah. Tapi hanyalah melayani suami di atas ranjang. Dan pekerjaan rumah diatas ialah seorang suami yg mestinya mengerjakannya. Namun jika istri yg mengerjakannya, akan dianggap bahwa istri hanya membantu meringankan tugas suami padahal suami juga harus mencari nafkah. Mungkin karena perbedaan budaya di Indonesia, mangkanya jadi kebalik. Bisa jadi.
Aku setuju sekali dengan gagasan itu. Lupa kah kau, sebelum aku mendengar gagasan itu aku selalu bilang, "nanti kalau kita menikah, jangan larang aku untuk membantumu mengerjakan pekerjaan rumah. Seperti mengepel, nyapu, bahkan mencuci bajupun aku sanggup. Kamu hanya perlu masak dan mengurusi anak anak. Nanti aku yg mengantarkan mereka sekolah sembari aku berangkat kerja. Istirahat makan siang aku akan pulang dan menjemput mereka pulang kalau sempat. Sorenya, aku tak mau tau, kau sudah harus wangi untuk membukakan aku pintu, sepulang aku bekerja, untuk menyambutku di depan pintu, mencium tanganku, bersedia untuk aku ciumi seluruh wajahmu dan anak anakku.
Ketika kita masih punya waktu berduaan setahun sebelum punyai jun arla maupun trian, kau hanya perlu menyambutku di kamar, melucuti pakaianku lalu aku membersihkan diri, lalu kita habiskan waktu sore hari bersama diatas ranjang, ataupun hanya sekadar berpeluk hangat di ruang tv. Saling menceritakan apa yg telah kita lalui hari itu, atau menceritakan perkembangan, berbalut cium dan rangkul. Aku pikir, aku tak akan bosan dengan hal hal indah seperti itu, tapi entah bagaimana denganmu.
Salahkah aku semuda ini, seliar ini, bermimpi tentang kehidupan keluarga yg akan ku bangun dengan keringat dan darahku sendiri ini? Di hidupku, dari tiga setengah tahun lalu, hal yang paling aku cita citakan hanyalah menikahimu, kelak.
If we married, i would love to kiss you every morning, bahkan kalau kamu bau jigong sekalipun. Bayangkan riuhnya kamar kita di pagi hari, riuh akan ketentraman hati. Akan sesekali aku bertanya dengan suara bass, suara khas kantukku, "ini jam berapa, sayang?", menggema hingga sudut sudut ketentraman kamar kita. Atau kamu yg bertanya dengan suara malasmu beserta desahan setelah menguap, "udah jam lima lho sayang, kamu gak siap siap kerja, ta? Bangun yuk, sholat", sambil mengusap cakrawala dipunggungku yg dapat kau jamah. Lalu, aku hanya berbalik kearahmu, untuk sekedar mencuimmu meski mataku masih tertutup, atau memelukmu untuk kembali membenamkan wajahmu di dadaku dalam sejuknya pesona pagi kita. Atau merangkulmu, seakan mengajak, "ayo kita saling menguatkan untuk menjalani hari ini, aku temani kamu, aku menguatkanmu, karena aku suamimu." Bayangkan betapa bangganya wajahku merangkulmu, rasa bangga yg kumiliki turut pula memelukmu.
Di waktu luang, jika kau mengajakku untuk sekadar mengitari kota, aku akan mengantarmu sebahagiamu kemana kamu ingin. Atau hanya ada satu janji di malam minggu untuk sekadar makan malam bersama. Atau hari minggu hanya kita sedang berdua saja di rumah, sama sama terrlalu malas untuk beranjak dari ranjang, kita hanya perlu menghabiskan setengah hari untuk ngobrol, tertawa, cium, peluk, make out. Then i will kiss you like you are the most wanted thing in life. Lalu kau akan melihat bagaimana aku telah menginginkanmu selama ini untuk temani hidupku, bukan dalam hitungan tahun, tapi puluhan, selamanya. Kau akan melihat caraku memelukmu dalam kehangatan dan kesejukan. seakan aku yg tak pernah rela hati melihatmu dicumbu bahagia oleh lelaki lain sebelumnya, lalu aku memilikimu kembali untuk pelukan itu. Sejatinya pelukan itu hanya sisa penghabisan tangis batinku karena hatimu telah terjamah orang lain. Luka seperti itu seakan tak pernah luput dari pikiran gelapku meski nanti kau kembali padaku dan berkata kau tak pernah mencintainya seperti kau pernah menyayangiku, berkata aku lah yg tertangguh di hatimu. Kata kata untuk merayuku, menguatkanku, memujaku. Kata kata yg sama seperti yg pernah kau ucap ketika aku bertanya tentang Fajar, Diego dan Andra —mantanmu sebelumku. Aku tahu kau tak pernah suka kalau aku masih sering mengungkit masa lalumu, perbuatanmu. Dan iya, aku akan rela tak membahas masa lalumu dan perbuatanmu, karena aku tak ingin membuatmu merasakan sakitnya, tak ingin membuatmu merasa sakit dan bersalah. Lalu aku akan dewasa menyikapi pikiran gelap seperti itu yg suka muncul dgn tiba tiba, dgn mengusap rambutmu dan menciummu di keningmu. Aku akan sekuat tenaga untuk tidak menngucurkan air mata betapapun sakitnya, agar kau tak bertanya. Aku membayangkan selama ini bagaimana rasanya mencium keningmu yg mungkin telah terjamah bibir nista orang lain, apakah akan sama seperti yg pernah ku bayangkan dulu?
Disitu lah titik lemahku. Sakit rasanya. Tapi aku akan menerimamu dengan semua masa lalumu, seperti kau menerimaku dengan masa laluku. Dan apalah arti, katakanlah kalaupun benar, tubuhmu telah jauh terjamah, jika aku menginginkan hatimu seutuhnya. Tapi nyatanya mungkin tubuhmu tak pernah terjamah, tapi hatimu yg telah, tak hanya terjamah, tapi juga pernah tergenggam kuat oleh orang lain. That what kills me the most. I am always dying to that.
Semoga itu semua mendewasakaku, melupakan sakit hatiku tanpa mengurangi rasaku menghargaimu. Dan berharap aku akan selalu bisa membuatmu merasa jadi wanita yg paling diinginkan, membuatmu merasakan hangat dan sejuknya pagi pagi kita dan tak membuatmu bosan untuk sekadar bercengkrama denganku setiap hari dihidupku hingga nanti kita tak saling punya suara.
"Temukan pasangan yg asik untuk diajak membicarakan semua hal. Dimana mengobrol dengannya membuatmu lupa waktu. Karena kelak ketika sudah tua dan tak mampu melakukan apa apa, kalian hanya bisa mengobrol berdua."
Konyol memang, aku tak tahu kenapa aku mengejarmu untuk menjadi pendampingku. Aku hanya berkeyakinan bahwa kau satu yg bisa membuatku nyaman saat membicarakan tentang semuanya. Bahkan aku yakin kau wanita yg akan membuatku nyaman di masa tuaku, saat aku tak mampu mengerjakan apapun kecuali membicarakan semua hal bersamamu.
Hopeful Love,
— DAP, @tuanbatin
