Aku, D. Abarra Putra, tengah menantikan kabar dari seorang teman yang akan berkata kau disana masih sukar meninggalkan rindumu, masih saja berpeluk boneka lethek oleh bau peluh dan tangismu.
Aku, seorang merindu, tengah menuliskan kabar rindu padamu. Aku mulai lelah mondar-mandir Pekanbaru-Batam. Di Kota Pekanbaru, aku tak benar-benar bisa bekerja keras, yang ada hanya duduk dan menghitung Jurnal Laba-Rugi atau hanya sesekali menunggu pelanggan datang di sebuah Store yg aku dan abangku dirikan. Jadi aku memutuskan untuk menyewa sebuah tempat tinggal di daerah Sekupang, Kota Batam dan membeli mobil bekas murah dari Singapura. Dan mulai meraba pekerjaan yg harusnya sudah lama kupegang sendiri, agar aku tahu seluk-beluk dan sengsaranya jadi mandor abal-abal, agar aku paham dari mana datangnya uang.
Kabarku, di sini, Kota Batam, tak benar-benar melakukan hal yg lebih baik dari yg pernah kau semangati. Seringnya menelantarkan pekerjaanku untuk sekadar memeluk rindu dan bertanya kabarmu di sana. Aku, kini hanya setengah raga karna tak pernah berhenti terjaga oleh asap di paru-paruku. Kini hanya setengah jiwa karena sebagian lain telah terbawa alam khayal di mana kau akan menerimaku. Hanya setengah hati aku menghidupi hidupku, karena setengah hatiku telah patah arang tak tahu jalan pulang.
Meski tak perlu ku tanya kabarmu pun, aku sudah tahu, kau baik-baik saja dengan bahagiamu itu. Sedang di sini, aku terkekang rindu dan memudar oleh tua, akan tinggal selamanya di sini, sampai Tuhan menginginkanku berpindah ke hatimu seperti sedia kala.
Tak tahu harus dari mana aku harus bangun dan memulai hari. Aku saja tidur hanya jika ku tak sengaja. Ini hanya gambaran kecil saja tentang apa yg seringnya kulakukan di kota yg sengaja aku datangi untuk membuang penat dan rindu, mencari suasana baru.
Pagi. Aku mencoba menguatkan raga dan mata dengan secangkir besar kopi hitam tanpa gula. Hingga matahari menyelinap di antara pagi buta dan bertumbukan dengan tirai jendela, aku mengumpulkan niat-niat dan rencana akan apa yg harus kulakukan. Dan apabila telah datang hari di mana sebuah kapal telah tiba dan apabila telah selesai melalui proses perpajakannya, aku yg lalu bertanggung jawab akan ke mana lagi muatan-muatan itu akan bertengger.
Siang. Ragaku telah lupa bagaimana rasanya lelah sisa kemarin. Aku telah jauh meninggalkan peraduan yg kusebut kontrakan. Aku mungkin telah sampai di perbatasan, mengitari dermaga-dermaga kuning tempat bersandar kapal-kapal raksasa yg berisi segudang benda konyol yg mereka sebut ponsel, yg daftarnya terlebih dahulu mampir di badan Bea, dengan membawa papan dada dan lembaran kertas bercorak kode dan centangan. Aku tak melakukan banyak, aku hanya di beri bagian pengecekan dan persiapan distribusi. Setelah barang-barang yg di periksa, box-box tersebut akan dimuat kembali ke dalam beberapa container sesuai dengan kota-kota yg meminta. Aku bekerja sama dengan Mas Reno—akrab kupanggil Bang Nonok, ia sebagai pengelola dan persiapan pajak barang masuk di perusahaan yang baru berdiri pada tahun 2010 dan baru meraksasa pada 2013. Dan aku yg bertanggung jawab mengeluarkan barang dari pelabuhan.
Sore. Saat siang hariku telah meluluh lantakkan energiku, aku akan duduk bersandar pada kursi teras yang tak pernah tertata. Menyisakan sedikit waktu untuk berguyur air hangat. Lalu kembali pergi untuk membuat sajak-sajak tentang kesepakatan. Memeriksa bahwa semua yg telah aku iyakan adalah tepat dan tidak merugikan siapapun, tidak pula negeriku. Dan memberi konfirmasi pada perwakilan pemilik saham terbesar di PT distribusi yg terdapat segelintir lembar nama bapakku di dalamnya —sengaja nama beliau yg aku kokohkan sebagai salah satu pemegang saham, tanda baktiku untuk nama beliau, bahwa semua sudah siap disalurkan ke Pekanbaru, Jakarta, Samarinda, Banjarmasin, dan beberapa kota lain.
Malam. Apa itu malam? Rasanya aku tak punya batas, mana malam mana pagi. Kadang hanya pertemuan dengan segelintir pria yg mendaftarkan nama storenya untuk menampung barangku di sana. Memastikan angka agar tak ada yg merugi. Atau hanya bertemu dengan orang-orang baru di lingkungaku, membuat gelagak tawa semu penutup rindu. Menikmati malam dan tak peduli apa itu makna lelah. Iya. Aku menikmati setiap detik perjalanan pulang yg aku susuri tiap malamnya. Aku menikmati lampu-lampu jalanan yg berwarna sephia jatuh di ubun-ubunku. Karena setiap kali aku melihat cahaya lampu itu, aku yakin itu cahaya yg sama yg berpendar di setiap jalan menuju tempatmu, rumahmu. Dan begitu hanya ada lampu serta langit diatasnya, yg mampu membuatku merasa dekat denganmu.
Ah, tapi rasanya, akan lebih nikmat... Jika saja aku bisa bersandar lelah pada kasur tak beranjang dan bahagia melihat namamu bermunculan di ponselku, melihat bagaimana kalimat-kalimatmu membuatku tersenyum lega. Melihat bagaimana chat mu mengusik jantungku berdebar tanpa khawatir kau akan jatuh hati kepada pria lain. Melihat gambar wajahmu yg menggugah semangatku lagi.
Biarlah biar, aku saja yg berkhayal seperti itu. Biar jantungku saja yg memompa pertarungan antara logikaku yg ingin aku lekas menghentikan khayal itu, dengan batinku yg masih merindukan kata-kata manis pengusap peluhku. Kau tak perlu khawatir, aku akan baik saja, pasrah pada asap yg akan membunuhku perlahan atau mati menua menjadi lapuk.
Kucukupkan salam rindu ini, dari ujung negeri, memastikan aku tak terlalu mengekang tubuhku terlalu keras. Tubuhku kurasakan mulai sedikit melemah, karna kau tau, apa yg aku lakukan di Bandung untuk mengabdi pada bapakku, itu jauh lebih berat ketimbang di sini, mengabdi untuk pukih hatiku.
Aku, D. Abarra Putra, bermaksud menyampaikan setengah dari apa yg tengah ku biasakan untuk bertahun-tahun selanjutnya,
Rinduku,
—DAPw, @tweetbatin


Tidak ada komentar:
Posting Komentar