Iya, aku merasa ini hanya cobaan bagiku. Kurasa Tuhan hanya mengetesku seberapa pantas aku bagimu. Tuhan seolah menjanjikanmu padaku kelak jika aku mampu bersabar melewati ini. Sabar. Mungkin benar katanya, aku terlalu egois dan kekanakan. Mungkin disini lah aku belajar apa itu keasabaran.
Sabar. Tentang bagaimana aku harus menahan amarah saat kutahu ia sedang membelaimu. Tentang bagaimana aku harus tetap menunjukkan perhatian dan usahaku meskipun aku tahu akan ada yg melarangmu menghubungiku. Tentang bagaimana harus menahan hasrat untuk memilikimu. Tentang bagaimana harus menunggu dengan tenang.
Namun terkadang, aku merasa, doa ibukulah yg didengar Tuhan, untuk semakin menjauhkanku darimu. Lebih tepatnya dari kasih sayangmu. Tuhan menjauhkanku darimu, berpisah dan tak berjodoh, melamun dan kesepian, tangis tawa seperti orang gila. Tapi aku yakin jika itu doa ibuku, pastilah beliau mendoakan untuk masa depanku yg lebih baik. Meskipun kurasa, kamulah yg paling pas untuk masa depanku. Beliau tak pernah bermaksud untuk melukai perasaanku dan membuatku lebih hancur lagi. Akulah yg hancur sendirinya.
Tapi biarlah! Kita lihat saja apa yg Tuhan maksud untuk kita. Dan apapun maksud Tuhan dengan semua ini, jun adalah jun, arla adalah arla, trian tetaplah trian. Mereka akan jadi mutiaraku kelak.
Kalaulah Tuhan mentakdirkan aku berjodoh dengan yg lain, anak anakku akan tetap ku beri nama nama itu. Ataupun kalau Tuhan tak mentakdirkan aku bertemu jodohku di dunia, anak anak panti kelak yg akan kuberi nama nama itu.
Dan siapapun mereka, anak dari siapapun mereka, aku akan mencari seribu kesempatan untuk memberitahu mereka bagaimana nama nama itu terbuat, apa arti dari nama nama itu. Dan sesibuk apapun aku dalam menjadi ayah kelak, aku akan salau meluangkan waktu sebelum mereka tidur hanya untuk menceritakan sebuah cerita yg kurasa tak pernah ada ujungnya, dengan atau tanpa jodohku.
Junio Delanda Evan Putra dan Triandelan Octavian Dimas Putra. Akan jadi anak anak lelakiku, matahariku, ksatriaku, harapanku. Jika kamu yg akan jadi ibu mereka, aku akan dengan senang hati menceritakan kisah tentang ibu mereka. Aku akan meyakinkan mereka bahwa ibu mereka benar benar seorang playgirl, idaman semua pria dijamanku, belia ayu nan unik, gadis kepala batu, tak peka, namun banyak lelaki menginginkannya. Aku lelaki tak rupawan, tak kaya, tak punya kepandaian, dengan peperanganku, mampu mendapatkan hatimu. Dan inilah aku, ayah mereka, telah mendapatkan perempuan terhebat mereka, kamu. Sehingga mereka dapat melihatku sebagai pahlawan mereka, kelak ketika mereka tumbuh dan mengerti. "Kalian tahu, mandel kalian itu sempat jatuh hati beberapa kali pada beberapa pria. Mereka semua punya kelebihan, mereka pantas bila bersanding dengan mandel, ketimbang pambel yg sudah jelek, hitam, bodoh juga tak kaya. Pambel tak ada apa apanya. Tapi lihat, mandelmu jatuh hati lagi pada pandel yg sabar dulu nungguin dia pacaran sama orang lain." Hmm, kau bisa bayangkan bagaimana sombongnya nada bicara dan mimik muka ku saat mengatakan itu. Sombong depan mereka, bangga karena.
Aku akan menciptakan mindset para lelakiku, dimana lelaki harus memulai dari nol, dari ketidakmampuan, dari ketidakpunyaan, dari perjuangan dan kesabaran.
Tereshia Arlanda Nawang Putri. Akan jadi putri tunggalku, bintangku, harapanku. Jika kamu yg akan melahirkannya, aku akan dengan senang hati menceritakan betapa gagahnya aku dan masa mudaku. Pesonaku bagai pangeran, aku mampu mendapatkanmu. "Mandelmu itu, dulu lugu, mangkanya mudah sekali terpikat oleh orang lain. Banyak yg suka sama mandelmu, pambel sampai kualahan. Pambel dulu ganteng, pinter pula. Gak sedikit juga yg suka sama pambel. Tapi pambel sayang sama mandel, jadi meskipun mandel sama pambel sama sama banyak disukain orang, pambel tetep mau perjuangin mandel, dulu". Sehingga Arla bisa memandangku sebagai pangeran rupawan yg dengan hebatnya mampu membuat ibunya jatuh hati lagi dan lagi. Mindset yang akan kutanam pada gadisku adalah bagaimana menghargai sebuah keputusan, menghargai sebuah perjuangan, menyelami apa itu kesetiaan yg pantas untuk dijaga terus menerus.
Haha konyol memang. Tapi itulah imajinasiku. Aku juga tak bisa mengendalikan imajinasiku tentang itu. Kubiarkan, entah kemana. Melambung setinggi tinggi nya, yang kusebut, perencanaan dari masa depan. Karena otakku tak hanya menghasilkan satu macam rencana. Tapi bermacam macam, banyak kemungkinan lain yg aku pikirkan, meskipun akhirnya ku kembalikan pada Yang Kuasa. Satu hal, jun arla dan trian adalah hal terindah yg pernah kau beri tahta di dalam pikiranku, juga hatiku. Tak pernah hatiku sebahagia itu ketika kamu bilang kamu akan hidup denganku untuk mereka.
"Teruslah bermimpi, Bam! Sebelum kau tidur terlalu panjang dan terlalu nyenyak untuk mempunyai mimpi." Aku terus bermimpi mumpung bisa, sebelum mati sia sia.
Aku memang seorang pemimpi. Bahkan sebelum kamu pun aku punya mimpi. Tapi tak pernah punya keyakinan. Tapi bersamamu, aku punya banyak mimpi dengan banyak keyakinan didalamnya. Tak pernah senyata itu. Tak pernah se-bergairah itu untuk bermimpi sebelumnya. Ketika keyakinan adalah kunci mutlak untuk impian yg akan terwujud, kaulah keyakinan bagi impian impian itu. Kaulah nyawa bagi impianku.
Impian tetap impian jika aku tak mampu menggapainya. Jikalah memang impianku untuk bisa bersamamu kelak berakhir hanya sebagai angan, aku masih punya jun arla dan trian, merekalah angan yg pernah kau beri.
Jika kita tak berjodoh, kisah yg akan kuceritakan hanya akan menjadi dongeng nyata dari masa lalu sang pendongeng. Hanya akan jadi cerita pengantar tidur yg entah mereka pikir itu nyata atau tidak, kelak biarkan mereka yg berimajinasi.
Yesterday Love,
—DAP a.k.a @tweetbatin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar