Gadis Berbibir Lumut.
Tak begitu paham apa salah dan dosaku, hingga akhirnya harus ditelantarkan begini lagi. Aku yg merasa dibohongi, aku pula yg menelan pahit lagi. Kau mulai berhasil membuatku berhenti. Aku mulai benci. Tak sepatah kata pun aku akan percaya lagi.
Kau tak lebih dari seorang nenek linglung yg tak mengerti betul apa yg telah kau ucap. Salahku aku iyakan, aku percaya. Omong kosong.
Apa kau tak benar-benar mengerti arti kata "sendiri" saat kau berucap? Apa kau benar-benar linglung saat kau bilang kau tak lagi cinta? Bukan hakku memang, tapi apa kau peduli ada hati yg mulai kau tinggikan tempatnya. Lalu kau bilang kau menyayanginya lagi, kau jatuhkan seonggok hati itu sedalam-dalam langit mengubur bumi.
Kau anggap lelucon ludahmu sendiri. Dan bodohnya hatiku rela saja terlumuti ludahmu. Kau pikir lucu, sampai aku bisa terbahak hingga tersesak?
Haha! Sabdamu yg paling kuat adalah "tak ada yg tahu masa depan."
Kau tau itu hanya bualan alibimu saja untuk menutupi ketidakstabilan mentalmu. Saat kau tau aku bersamamu, hanya ada aku di ruang obrolan favoritmu, kau bilang kau telah lama berhenti merasakan sesuatu padanya. Kini, setelah kau sendiri yg menghapuskan aku, kau kembali padanya, yg kau tahu apa yg telah ia perbuat di jembatan itu, apa yg ia perbuat pada tanganmu pagi itu, apa yg ia hendak perbuat pada dirinya setelah kau meninggalkannya. Pria gila itu. Itu tak salah lagi adalah mentalmu.
Iya mentalmu. Yang memang tak pernah bisa dikata normal. Kau pikir aku sudah lupa kegilaan-kegilaan yg pernah sempat membuat jantungku gemetar malam itu? Malam di mana abangmu yg mewakilimu. Atau itu juga hanya sebuah bualan? Entahlah, mana lagi kata-katamu yg bisa kuandalkan.
Sejatinya aku sudah kebal saat ada ribuan lelaki yg mengaku telah menaklukkan hati orang tuamu dan berkata ia lah yg akan orang tuamu pilih. Aku tak peduli selama aku tahu hatimu tak semudah itu.
Tapi sekarang aku sudah mulai membuka mata, hatimu ternyata semudah bibirmu. Kau bilang kau ingin sendiri, ternyata kau tak melakukan itu. Hatimu bilang kau sudah tak menyayanginya lagi, ternyata kini berbalik arah.
Atau sebenarnya, aku tengah berpikir bahwa kau hanya anak ayam yg terkungkung dalam kandang? Entahlah, aku tak benar-benar percaya jika hanya sampai kita punya percakapan berdua, di mana aku akan membaca sendiri bagaimana jemarimu yg menjelaskan. Aku mulai penasaran.
Tapi entahlah, apa hatiku masih sudi terkungkung pada hal-hal seperti itu yg bisa jadi akan berakhir sama seperti ini lagi. Aku tak mau lagi berurusan dgn hal sepertimu. Kau tahu, aku belajar sabar dari seorang pakar. Tapi kau juga perlu tahu, aku membatasi sakitku bukan sabarku.
Aku tak perlu bicara denganmu. Kau tak perlu sembunyi dari orang tuamu atau darinya hanya untuk menjelaskan ini, just in case, kau masih peduli dan tidak begitu saja membiarkanku mati terpalu rasa ingin tahu.
Aku memang bukan seorang IT yg pandai membaca kode-kode semacam yg sering kau buat. Aku hanya seorang pria waras yg setidaknya masih peka dengan kode-kode wanita yg biasa di lontarkan, entah itu dari sekedar tweet atau retweet.
Itu hanya jika kau masih mau kutunggu dan kuperjuangkan prosesny, jika dan hanya jika kau masih bermimpi.
Jgn jadi wanita yg hanya bermoral dan bermental baik setelah ini, setidaknya hatimu tak malu pada anak-anak di lampu merah, sedang kau tengah menelantatkan seseorang dalam gilamu.
Salam bagi lumut yg tengah menjamuri bibir manis dan hati kakumu,
—DAPw, @tweetbatin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar