Terluka katamu? Haha tidak. Maksudnya, tidak perlu bertanya kau sudah tahu jawabannya. Luka apanya? Aku malah kau buat bahagia. Aku malah hidup di hidupku yg kau warnai. Apa aku pernah mengeluh dengan warna warna itu? Tidak, sekalipun.
Tanyakan aku apa waktu itu aku bahagia, maka aku akan menjawab iya. Aku bahkan terlalu bahagia untuk kehilanganmu. Orang menilai aku terlalu cinta dengan diriku sendiri. Orang bilang aku tak mau melepasmu karena aku takut sakit akan kehilanganmu. Orang bilang cinta itu membuatku egois dengan mengekangmu. Mungkin benar, aku terlalu takut merasakan sakit, siapa yg mau sakit? Tapi orang tak pernah tahu kenapa aku takut kehilanganmu, kenapa aku mengekangmu. Dan orang tak pernah tahu bagaimana sakitnya harus berpura pura turut bahagia saat ia mampu membuatmu jauh bahagia. Ini yg sedari dulu aku takutkan, sebenar benarnya.
Kau bilang hidupku kedepan masih sangat panjang, aku tak perlu menetap dan terjebak, aku bisa mendapatkan yg lebih baik di depan. Aku tak melihat secuilpun sketsa dari masa depan yg lebih luas setelah kau tinggalkan. Aku mengkerut. Hidupku pucat. Dulu aku terlalu takut sakit untuk melepasmu. Sekarang aku tak peduli berapapu aku menyakiti diri hanya untuk mendapat kabarmu.
Remuk rasanya ketika kau bilang aku tak bisa lagi mendapat kabar darimu. Remuk rasanya ketika kau bilang ialah lelaki yg akan kau nikahi. Remuk rasanya ketika aku tidak lagi menjadi cita citamu. Remuk rasanya ketika aku membayangkan ia yg akan merangkulmu tidur di dadanya. Cekung ulu hatiku membayangkan nama anak anakmu bukan jun arla atau trian. Lalu aku tertawa dalam tangisku. Lalu kau bahagia dalam tangisku.
*aku nangis kejer nulis ini, ndel :D*
Bukan, bukan tangis karena terluka. Ini tangis bingung karena tak tahu harus apa malam esok saat aku tahu ia sedang memelukmu tidur dalam dadanya. Lalu aku tertawa lagi sekarang. Menertawakan lucunya tidurku malam itu yg seolah aku memelukmu disaat orang lain yg tak pernah bermimpi memelukmu dalam tidurnya, dia yg sesungguhnya memelukmu.
Andai saja aku bisa seperti lelaki lain yg dengan mudahnya masa bodoh dengan mantan yg sudah menikah dan tak akan terbayang hal bodol spt itu. Sendainya aku mampu dengan mudah melupakanmu dan menggantikanmu sesukaku. Seandainya aku lelaki yg dengan mudah mencumbu gadis gadis sesukaku tanpa pedulikan kau. Seandainya aku lelaki yg dengan mudah memasukkan tititku kesana kemari. Tak ingatkah kau, saat aku bilang, naura telah menciumku dan aku hanya diam saja? Kau bilang aku seperti gigolo, haha. Kau menyuruhku untuk tak dengan mudah memberikan tubuhku pada orang lain. Kau menyuruhku untuk tetap perjaka saat aku menikah nanti. Tak tahu kah kau, waktu itu aku ingin sekali mengatakan bahwa aku inginnya kamu yg akan kunikahi?
Kini telah berbeda. Bedebah. Semua terlihat sama ketika belum ada dusta dan ketidak jujuran. Semua terlihat sama ketika rinduku berkobar tanpa henti dan engkau turuti. Semua terasa berbeda saat kau tak meninggalkanku tanpa sebab. Semua terlihat sama ketika kau tak bosan dengan hidupmu denganku. Semua terasa sama ketika perempuan itu kau jadikan alasan penutup kau menunggalkanku. Kini dustamu berbuah manis bagimu. Kau bahkan telah jauh berhasil mendapatkan CALON SUAMIMU. Lelaki yg baru kau temui kutilan hari, telah kau ajak menikah, dengan modal kenyamana dan kemiripan sifatnya. Disini aku hanya tertawa masam, dengan telinga tak berlubang. Telinga tak berlubang, tak mau mendengarkan nasihat orang. Dan aku masih ingin berujung seperti Pak Bambang.
Aku menyayangimu, dari ujung lidahku hingga ketepian nuraniku, hingga ke ujung umurku.
—Love, DAP a.k.a @tweetbatin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar