A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Kamis, 03 April 2014

(Untitled)

Tiga bulan berlalu menghapus tiga tahunku. Banyak hal terjadi padaku, banyak hal terjadi padamu yang berpengaruh padaku. Benar benar tak ada lagi harapan bagiku untuk dapat mewujudkan cita-citaku bersamamu nanti. 

Nyatanya, semua berbeda sekarang. Kamu bukan lagi kasih yg aku kenal dulu. Hidupmu penuh dengan realita para lelakimu. Satu, dua, tiga, empat, Lelaki sudah kau taklukan dan dengan mudah engkau jamahi hatinya. Tiga tahun bersamamu dengan penuh keyakinanku, aku pikir kamu barang langka dan mahal yg tak mudah didapatkan seadanya. 

Tiga tahunku dengan penuh keyakinan, hatimu benar benar utuh untukku jamahi semauku, ku pikir kamu tak mudah jatuh hati. Tiga bulan berpisah, aku tahu kini kamu terlalu berpetualang, terlalu mudah dijatuhkan hatinya pada kebaikan seorang lelaki bermodal kenyamanan. Bahkan rasanya, aku tidak tahu apa semua ucapanmu tentang hatimu, tentang masa depanmu, tentang impianmu, itu semua benar. Atau bualan wanita pemimpi yg dengan mudah mengucap kepada semua lelaki bermodal kenyamaan itu? Ataukah hanya bualan murah seorang gadis labil yg mengumbar mimpi2nya ke banyak lelaki? 

Kini nyatanya tiga bulanmu tidak hanya menghapus tiga tahunku di belakang, tapi juga menghapus tujuh, delapan, sembilan, bahkan belasan tahunku kedepan, tergantung kapan usiaku akan menutup. Aku bahkan tidak tahu lagi apa yg akan kulakukan setelah ini. Tak tahu bagaimana harus menata kembali impianku kedepan. Iya, impianku yang sudah dijual murah untuk menebus kebahagiaan utuhmu yg kau gadai ketika bersamaku. Aku tahu, kau telah cukup tegar untuk menggadaikan bahagiamu hanya untuk bersamaku sejenak, yg hasilnya hanya berbuah air mata. 

Harusnya dari awal, jika kau tak berani akan resiko seperti ini, tak perlu kau ambil kesempatan untuk menyayangi seorang lumpuh dunia sepertiku.
Tiga bulan, kurasa itu cukup matang bagimu untuk dengan mudah menghapuskan aku dari hari harimu. Ampuh. Tapi tak cukup separuh umurku untuk mengentasku dari batinku ini. Nyatanya, lelaki yg kau gadang2 itu jauh lebih baik dariku, bahkan jauh lebih lihai menggeserku. Menggeserku dari harimu, dari impianmu, dari masa depanmu, bahkan jauh dari hatimu. Hingga jatuh aku pada ususmu, dan tenggelam dalam kumbangan hina dari duburmu.

Datang tak dari mata, bersemayam sejenak dalam hatimu, lalu jatuh dalam gempita ususmu, dan akhirnya akan berakhir pula pada kumbangan di duburmu. —realita hidup seorang gembel tak punya makna.

Love, seonggok kotoran dari yang ditinggalkan,


—DAP a.k.a @tweetbatin


Share This

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates