Dua Sendok Empedu dan Seonggok Rindu Tak Kenal Malu.
Bandung, 25 Januari 2015, pada sore di pertengahan hujan kejam.
Pagi tadi, di antara lembaran cahaya matahari yang masih enggan masuk ke mataku, yang hanya bertengger di bulu mataku, menjadikan kesan bulu kucing di mataku, sebuah lonceng gereja bertumbukan dengan gendingnya, membangunkanku pada asam manis di lidahku, dengan seorang juru parkir gereja yang mengetuk kacaku. Aku bangun terkelebat malu dan bingung. Bingung, bagaimana bisa aku bangun dengan mobilku terparkir tepat di depan sebuah gereja. Malu, di depan sambahyangan sebuah agama, aku telah melakukan hal hina. Aku lantas menarik tuas tripotonic yang menentukan pengendalian mobil ini akan jadi manual atau matic. Mataku buram, perutku mual, mulutku masam, kakiku keju lantaran setengah malam bersanding dengan setengah botol jim beam yang yang ku beli di sebuah tempat penjual minuman malam.
Aku bertengger pada bangku diterpa sengatan matahari dari selasar kaca tepat di sebelahku, di tengah riuh knalpot motor yang mengantar empunya mencari kesenangan minggu atau sekadar mencari penyokong hidup. Pada persimpangan jalan besar yang mengarah ke sebuah kegiatan mingguan, car free day, aku memutuskan memutar arah karena malu. Lantaran semestinya aku di sana, bersanding istri dan berbaris di tengah keluargaku, bukan malah di sini, menentang norma sendiri. Norma, di mana semalam aku tak mampu mengingat namamu, meski ku hafal betul wajahmu dalam pikiranku yang sempit tertindas ketidaksadaran. Norma, di mana harusnya aku merawat ia dengan baik, bukan malah bersanding dengan keanggunan jim beam. Norma, di mana hari ini semua warga kota mengikuti arus untuk menentang adanya kendaraan bermotor, aku bahkan duduk di dalamnya, memutar kota, membuang energi, membuat polusi knalpot dan paru-paru, menentang keangkuhanku. Padahal, harusnya aku merasa puas untuk tidak menjadikan kayu sebagai mata pencaharianku.
Lalu, satu per satu partikel ingatanku mulai berdatangan setelah tertutup kabut semalaman, kemarin bukan hari baik. Kemarin, hatimu mendua. Kemarin, harusnya aku sudah menduda darinya. Kemarin juga, aku telah bertekad untuk menunjukan padanya semua isi ponselku yang hanya bersimba nama dan belaian sayangmu. Tapi belum kulakukan. Mungkin siang hari ini. Mungkin juga besok. Mungkin juga, tak akan ku lakukan. Urat pipiku bergeming. Aku ingin lekas mengakhirinya, tapi ia belum sesempurna sesuai kodratnya, bukankah itu jadi tanggung jawabku dari awal? Dan aku belum bertindak, lantaran masih saja berpikir apa yg semestinya kulakukan terlebih dahulu.
"Bagaimana hatimu di situ? Apa sedang terluka? Apa sedang bermuram durja? Atau hanya sedang bahagia dengannya? Karena jika kau tahu, aku telah lama mendua tapi tak bisa bahagia. Tak bisa merasakan sinar secerah sinarmu menerpa hangat di kulitku." Bisikku terluka pada sebuah kaca di sebelah kananku, berharap Tuhan mau menyampaikan bisikanku. "Aku lelah, aku ingin memerangi kewajibanku."
Dari dedaunan kering yang meratap dan menyeret di kaca depan mobilku yang seolah ingin kusentuh, aku sadar aku telah jatuh pula, meratap pula, mengheningkan cipta pula. Hari ini, tak akan pernah sama lagi, tak akan lagi kau buat indah pagiku siangku berujung pada malamku. Meski mulai hari ini, yang akan terlihat sama, aku dalam sepatu but lusuhku akan menari mengitar di atas tanah kering dan mencari seonggok nasi, aku dalam kewajiban menjaga tubuh orang sedang tak mau lagi peduli tubuhku sendiri. Mulai hari ini, hingga hari kusentuh wajahmu dengan pandangan kasarku, akan ku tunjukkan tubuh ini mulai kering semenjak hari kau tak lagi memintaku menenggak sebotol dua botol air bening. Atau mungkin usiaku tak cukup untuk pandangan itu, karna kau tahu, aku hanya bersuap ketika kau yg mengingatkan, aku hanya akan menenggak ketika kau yang meneguhkan.
Sudah cukup, mau berapa tubuh lagi yg akan kubahayakan jiwanya? Mau berapa tahun lagi aku menderitakan batinku sendiri? Aku pikir aku hendak menyudahi, siang ini. Tapi belum sampai berakhirnya matahari siang, aku tak sabar untuk menyandingnya di sebuah bangku belakang mobilku, aku sudah tak kentara untuk lekas melihat wajahnya, memeluknya dalam rasa hausku, menyentuhnya pada kedinginan kata maafku. Aku bepacu dengan nafasku, tapi jantungku melaju tepat apa adanya, tak secepat seperti ketika kau hendak meninggalkanku.
Aku merajuk menunjukkan dua onggok ponsel yang ku tahu, hanya ada ceceran namamu. Ia tak memerhatikan semuanya, ia meletakkannya kembali ke tempatnya. Aku melihat air terjun itu, dengan lekas ia mengalir. Lalu ia juga tunjukan seonggok ponselnya, menyodorkanku sebuah gambar buram tapi tak seburam itu ketika aku menyadari foto itu diambil pada malam hari dan terlihat sebuah bibir lelaki menyentuh pipi seorang perempuan. Kabur. Aku tak tahu apa ini hanya halusinasi mata, ataukah memang benar itu Naura?
Ia sengaja tak menghilangkan jejak itu, karena rupanya ia paham artinya dosa dan ingin lekas mengakhirinya. Aku hanya diam, bukan cemburu bukan iri. Aku tahu, karena hilangnya waktuku, aku telah kehilangan dia. Dan aku tahu harus ku mulai dari mana harga diriku sebagai lelaki yg setahun lalu meminangnya. Merasa tak berharga diri.
"Kamu tahu kita tidak akan bisa sama seperti sedia kala." Genang air matanya, berlinang ke bibirnya. Aku tak sampai melihatnya, aku hanya melirik saja cincin yang kutahu tak pernah ia lepas dari jemarinya. Ia melipat tangannya.
"Aku minta maaf", lanjutnya. Aku hanya diam saja, hanya menduga-duga apa yg akan ia ucap selanjutnya. "Aku nggak pantas di maafkan, setidaknya aku sudah meminta."
Setidaknya aku juga telah meminta. Setidaknya aku juga berusaha mengucapkan kalimat itu. Lagi-lagi pertarungan batinku telah tertiup sangkakala dan lonceng peperangan. Dan ketika perang itu telah kuakhiri sendiri, aku kuat dalam kalah dan meminta berpisah. Tapi ia menolak. Lantaran menurutnya, Ayahnya tak pernah menerima seorang lelaki dengan sungguh-sungguh untuk sekedar mengajaknya berkencan. Aku juga, aku tak mau ibuku kecewa. Ibuku telah mencintainya, seperti menemukan kembali anak perempuannya yang lama hilang terkikis bumi. Lalu, aku sepakat hari itu juga. Tak akan ada apa-apa lagi antara kami berdua. Hanya sehelai status bertutup rindu pada yg lainnya.
Aku kini hanya tinggal menunggu aba-aba. Aku kini bersimbah luka. Aku kini akan menunggu di mana tempat aku bisa menemukanmu dalam telanjang hatimu tak tersentuh perjaka. Aku menunggumu hilang cinta kepadanya.
Serayanya jagat pun menemaniku menunggu, bulan redup tinggal kutunggu hujan berlalu,
Far and Eternal Love,
—DAPw, @tweetbatin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar