A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Rabu, 07 Januari 2015

Januari Kedua.

Januari Kedua.

Pukul 4 pagi buta, seorang yang pernah buta dan pernah mati, tengah menyusuri jalanan lengang tak berbekas rindu, Kota Kembang. Terbalut dalam pelindung kepala berkaca, aku menyusuri persimpangan demi persimpangan untuk sampai pada tempat yang aku sebut "Rumah Siapa". Aku tau aku tak akan melewatkan mulai malam itu hingga paginya, bahkan untuk memejamkan mata beberapa menit saja. Ada rasa terguncang sebuah momen benturan yang hanya ada dalam pikiranku. A friction. A light. A moment. Aku pun tak paham tentang kata-kata di dalam anganku ini. Terlalu semu, terlalu sendu. Aku bahkan tak tau ini rasa gembira, terlena, terguncang, ataukah sedikit tersayat.

Aku melihat embut tengah memeluk kaca mobil yang di parkir berjejeran di persimpangan terakhir di pemukiman Rumah Siapa. Aku juga melihat lelaki dan perempuan tengah saling rangkul dan saling tak mampu berjalan, tertawa terbahak dalam diamku. Lelaki dan perempuan yang mungkin baru saja mendapatkan malam paling bebas dalam hidup mereka. Dan aku tahu, itu bahkan bukan sebuah instrumen. 

Aku tak sakit, aku juga tak sehat. Sejatinya kakiku tak bergetar ketika menyentuh keramik di teras Rumah Siapa, tapi siapa sangka dinginnya lantai itu seperti sebuah instrumen yang masuk dari sela-sela jemari kakiku, mengiringi aliran darah hingga ke ubun-ubunku. Aku tak perlu mengetuk, pintunya tak pernah tertutup.

Bang Hasel. Sudah sadar dari tidurnya ketikan ia tahu aku akan mampir. Kusodorkan bungkus rokok, pertanda aku ingin bicara. Sepuluh, dua puluh, tiga puluh menit aku tak kunjung memulai. Bibirku kelu. Namun aku takut Bang Hasel lelah menantikan maksudku. Lalu kusodorkan cuplikan percakapan denganmu di tabletku. Ia hanya melihat sekilas, dan ia tahu siapa itu dalam cuplikan itu, padahal kunamai kontakmu dengan "World". Ia terkekeh kecil saja. Mungkin mencela, atau hanya menyela.

"Lagi sakit lu?",
"Nggak, Bang.."
"Lagi ngga rukun?"
"Biasa aja.."
"Lagi kesepian?"
....

Aku menatapnya dalam kelaparan, aku tidak mengiyakan, aku juga tidak menolak. Mungkin benar, aku hanya kesepian. Bang Hasel selalu mampu menggantungkam pertanyaan-pertanyaan bodoh itu mengambang diatas batas kemampuanku. Aku tak mampu menjawabnya. Aku juga tak suka kalau harus menerima kenyataan bahwa cepat atau lambat, akan ada yg mengakhiri, ada yg pergi, ada yg sedih dan ditinggalkan.

"Kamu Bam, kamu cuma lagi bosen. Bukan bosen sama Naura, mungkin kamu lagi bosen sama hidupmu yang sebenernya udah nikah tapi kerasanya kayak ngga punya siapa-siapa. Terus kamu lari ngejar dia, kamu cari-cari itu orang buat bikin kamu jatuh cinta. Tapi kamu salah orang. Orang itu noleh kebelakang, bukan berarti dia juga jatuh cinta lagi sama kamu. Bukan nggak mungkin kalo sebenernya kamu itu cuma dipikrannya, bukan lagi di hatinya. Bisa jadi, dia melasin kamu."

Seketika luntur semua aliran darahku yang mengalir tanpa tuju, amburadul. Terkoyak. Ia benar, semuanya benar, aku juga memikirkan hal yang sama.

"Kamu masih mau aja main sebuah game, padahal kamu tau kamu bakal kalah. Dan kamu baru aja berenti main game, yang kamu tahu kamu bisa menang."

"Kamu lagi nyoba-nyoba buat jatuh cinta sama orang yang pernah bikin kamu kalah di sebuah game. Ibarat kamu berdiri diatas rel, dan kamu percaya kalo kereta yang ngelewatin rel itu nggak bakal nabrak kamu."

Malaikat kah?
Malaikat kah Bang Hasel bisa tau persis rasanya?
Semenjak dari pertama kau jawab pesanku untuk pertama kalinya setelah januari pertama,
Aku tahu aku tidak akan berjalan dengan cara jalan yang sama, semua akan terasa begitu berat di telapak kakiku.
Aku tak akan bernafas dari udara yg sama, semua akan terasa begitu sesak dan mengoyak.
Jantungku tak akan lagi berdetak dengan detak yang sama. Bergemuruh dan tak teratur sebagimana layaknya.
Pikiranku tak akan berhenti melayang. Layang tanda aku tengah menikahimu dalam diamku.
Bahkan ketika aku tahu, tak seharusnya aku membuka ruang percakapan denganmu dan mengucapkan selamat pagi pada matahari.
Bahkan meski aku tahu matahari itu akan tetap terbit meski aku tak menyapanya.
Tapi disana, aku telah bersabar menahan nafas dan lalu menyapamu pagi ini.
Dan aku tahu aku telah lagi-lagi jatuh bersimpuh, gugur dan terpelungkup.
Dan akan selalu begitu selamanya di matamu.

Rasa sayang kah ini yang aku punya untukmu? Kalau iya, kenapa terdengar begitu naif?
Rindu sesaat kah ini yg aku tunjukkan? Kalau iya, kenapa aku tak tahu kau juga punya rindu yg sama atau tidak?
Aku merasa tak pantas diri untuk mendambamu. Aku terlalu semu, menurutmu.

Dan pada akhirnya aku akan tahu ini berakhir seperti apa. Apa tidak bisa kau beri aku kesempatan untuk aku saja yang meninggalkanmu? Sehingga aku tak perlu patah hati untuk hal yang sama. Aku hanya ingin semangat hidupku kembali lagi, agar tak selalu merasa ditinggalkan, agar tak selalu merasa lemah dan tertindas dan terhimpit. Aku meminta.

Unfortunate heartbreak,
Love,


—DAPw, @tweetbatin




Share This

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates