Hai, selamat pagi :) percaya tak percaya, lagu yang kau tunjukkan padaku, yang kini menjadi senandungku, baru saja menggugahku dari permadaniku. Terima kasih. :)
Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu.
Terkagagum pada pandangmu, caramu melihat dunia.
Kuharap kau kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu.
Ku tak harus memilikimu, tapi bolehkah selalu di dekatmu?"
Senandungkan itu untukku, cinta. Entah bagaimana aku harus memulai ini, lantaran sejatinya ini baru saja berakhir. Tapi bukankah semua yg ku katakan itu nyata adanya? Aku masih akan menunggu hari dimana hatimu akan hanya berteduh di bawah payungku.
Aku bukan jatuh cinta, namun aku jatuh hati. Cinta? Aku telah lama merasakan cinta, sampai kering kerongkonganku. Aku mengagumimu, tuturmu, tangan ringanmu, candamu. Lalu aku mulai melihatmu telanjang oleh kekuranganmu, aku lebih mengagumimu, I love you even more. Tapi apakah yg mampu membuatku bergerak? Kau bersamanya, aku jadi tak bisa lagi untuk menyanjungmu atas kagumku. Mau tak mau, aku yang harus diam. Dan dalam diamku, aku bahkan masih mengagumimu lebih. Aku kini tengah menindas segala rasa cinta untukmu, tak kurasa kau masih pantas. Dan di saat aku mengagumimu dalam diamku, aku mulai jatuh hati padamu sedikit lebih dalam.
Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu. Bagaimana seorang gadis mengucap kata "beliau". Aku tak bisa menyela ketika aku dengar tuturmu yg meninggikan hormatmu pada orang lain. Lalu ketika ku tahu, suaramu halus membawa segala puji dan perhatian, ketika voice note mu berdatangan satu per satu, apa yg bisa lagi kuulam? Tutur ceria itu... Apakah hanya ada untuk menindasku atau malah mengentasku?
Kau tahu aku benar-benar jatuh hati tentang bagaimana kau mengulur tangan di sebuah persimpangan di sana. Jangan pikir aku tak terlena dengan apa yg telah kau lakukan. Titip salamku untuk Mei, si manis, si penatih semangatmu.
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia. Selebihnya dunia ini adalah kawanmu. Kau percaya akan kekuatan tolong-menolong yang dapat meninggikan derajat manusianya. Kau tak peduli berapapun pasukan di sana menganggapmu musuh yg mengahntarkan anak panah ke arahmu, kau masih saja mampu terbang melejit melewati garis di mana tak semua orang dapat mencapainya. Kau melihat dunia di dalam duniamu, kau menitikan segala pandangmu akan dunia, kau berkarya. Aku tak bisa menikmati karyamu, namun pasti lah jika ku mampu, mungkin akan membuatku merasa sempurna karna telah dan sedang jatuh hati padamu.
Ku harap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu. Setiap langkah yg ku tempa, setiap kata yg ku eja, setiap lembar sari kehidupanku ku jalani, yang kutahu tujuan hidupku hanyalah dirimu. Memang, aku merasa iri denganmu atas segala macam pencapaianmu sedang aku masih terpaku melakukan yang orang perintahkan, menggambar apa yang orang inginkan, berbicara tentang apa yg ingin orang dengar. Tapi di sini, kau bisa lihat saja, bagaimana aku bisa melakukan apa yg hatiku perintahkan, aku menggambarkan apa yg mataku citerakan, berbicara tentang apa yg bibirku ingin senandungkan.
Ku tak harus memilikimu, tapi bolehkah ku selalu di dekatmu. Kau tahu ke mana hati ini mengarah. Kau tahu kemana hati ini ingin singgah. Dan setiap detik yang lekat pada setiap partikel ingatanku, mampu membuatku bersanding dengan hatimu. Iya aku tahu, memilikimu dengan hatimu adalah hal yang sukar kulakukan, maka aku memilih untuk menyimpanmu dalam sebuah bingkai memori yang akan selalu membuatku selalu merasa di dekatmu. Kau kini baru saja memulai bahagiamu kembali dengannya, lalu ku biarkan saja kau bahagia. Tapi bolehkahku mendekapmu dalam mimpiku agar ku pernah merasa sedekat saat urat nadi di tanganmu tengah berdenyut mengitari leherku? Bolehkahku mengenangmu dalam senjaku, menghamburkan kata rindu, memeluk anganku dan merasakan pacuan detak jantungku?
Senandung lagu, berbasuh peluh, berkerumun rindu,
—DAPw, @tweetbatin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar