Satu, dua, tiga, hingga belasan, kau tau aku akan selalu mempunyai waktu untuk mengenangmu dalam sibukku. Lantaran sejuta hal dalam hari-hariku akan menyisahkan tempat teristimewa untuk mengingatmu. Aku bersabar. Meski adanya priamu yg mampu membuatku hanya mengenangmu dalam jarak dan sepiku.
Jarak. Sebesar apapun pertambahan jaraknya, aku masih belum bisa luput dari yang namanya asmara. Sudah bulat kuputuskan, sore ini akan ku arungi samudra awan menuju Kota Pekanbaru. Memulai yang baru, dengan tidak menghapus yang sudah berlalu. Aku tak bisa menghapus jarak, aku hanya bisa menambah, berharap agar berkurang senduku.
Menghapus yang sudah berlalu? Bagaimana bisa? Bahkan setiap ku dengar gelagak tawa, yang terngiang hanya bahagiamu yg pernah ku buat untukmu. Mungkin kaulah yg handal sebagai penghapus masa lalu, sedang di bawah langit yg sama, aku masih terkurung rindu.
Hai, kamu. Jangan pernah berhenti menari dalam memoriku. Jangan berhenti membuatku terpana pada pasang surutnya dukaku. Jangan pernah lupa untuk tertawa, setidaknya nafas yg kau hela sebelum bahak akan membuatmu lupa akan keberadaanku. Aku tak ingin kau kenang, aku tak ingin kau rindukan. Aku saja lah yg merindu. Kau baik-baiklah saja di sana, bahagialah, bangunlah bahtera Nuhmu sendiri, mengalirlah.
Aku akan hanya menunggu aba-aba saat kau tak lagi mencintainya. Hingga tiba waktunya Tuhan memberiku aba-aba untuk berhenti menunggu. Karena tanpa aba-aba itupun, kau tahu aku hanya bisa membatasi hatiku sampai di mana aku tak boleh menyentuhmu. Bahagialah kau, cinta, dalam lapang dadanya yg akan selalu sedia memelukmu saat haus rindumu. Bahagialah kau, cinta, dalam aliran dan arus deras yang akan menghempaskanku perlahan. Aku saja yg terjerembab, kau mengalirlah saja dengan bahagianya ia.
Lupa lah akan secerca hati yg selalu terkungkung kasmaran ini. Lupa lah bahwa tak akan ada lagi seorang dermawan yg membagi-bagikan kasihnya padamu ketika kau pun tak butuh. Dalam setiap jejak tangis penaku, aku hanya kasmaran padamu. Asal kau tahu.
Aku tak akan pernah lupa apa itu rindu, aku juga tak berencana untuk lupa. Dan hati yang sempat sejenak kau sentuh ini, hanya akan mengumandangkan namamu.
Terkungkung asmara tak perlu dientas, terjerembab rindu tak sempat berbalas,
—DAPw, @tweetbatin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar