A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Sabtu, 21 Februari 2015

Ampuni Takutku.


Selamat Pagi Wulan, selamat pagi Naura.



Aku tak berfirasat baik kali ini. Lantaran aku tak tahu di sana kau rajin atau tidak membaca layang yg kusempatkan tulis untukmu dari sini. Aku tak melihat pintu di mana kau akan bukakan kembali untukku, sedang aku saja tak bisa melihatmu di sebuah bingkai jendelamu. Sengaja kau tak bolehkanku melihatmu dari jendela, agar aku bisa cari pintumu dan menemuimu lewat pintu itu. Jujur aku tak berani, menemukan pintu itu sekalipun. Aku takut jika kau membukakan pintu sembari sembunyi di pundak lelakimu. Atau jika kau membuka pintu sedang hatimu masih tertinggal di sofa bersama lelakimu. 

Ampuni aku sepengecut ini yg tak bisa menemuimu. Kita terpisah jarak dan akhirnya aku sendiri yg terkubur rindu. Kau di sana dengan priamu, aku di sini masih menggenggam rindu. Khayalku membuai merajuk memintaku segera menemuimu, tapi yang ada ini lah rasa takutku sedang kutunjukkan padamu. Begitu besar dan menggeserku dari akal sehatku. Aku takut, ia telah lebih dulu meminangmu. Aku takut kalaupun aku datang, kau tak bisa memilihku. Aku takut datang. Itu saja.

Segeralah memberiku petunjuk. Jangan diam, jangan membunuh arahku. Jangan tutup jendelamu, biar aku bisa sedikit tahu. 

Aku perlu tahu apa kau masih sering terngiang namaku. Aku perlu tahu apa kau masih mendamba sebuah hidup bersamaku. Aku perlu tahu siapa dia di hatimu, ketika kau sudah tahu, kau tak akan bisa menggantikan orang sepertiku di hatimu.

Lepas semua gembokmu, biar aku melihat kabarmu. Hanya agar aku tahu, kau masih menginginkanku, atau kau sudah jauh membuangku.
Singkat saja dari rindu yg kusulam manis untukmu,


—DAPw, @tweetbatin

Share This

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates