Hai, Bandung, anak bungsumu ini tengah dirundung rindu padamu, Ibu :')
Hai, Surabaya, mantanmu ini tengah berpesta dalam pikiran cemas bukan main hebatnya.
Kau tahu apa saja yg membuatku gusar pagi-pagi bahkan ketika malam telah terlanjur buta?
Ucapanmu. Ketika ku tahu satu dari ucapanmu adalah dusta, aku mulai gusar akan kebenaran dari semua yg pernah kau ucapkan, bahwa kau telah menutup hati baginya dan sudah lama hilang rasa. Dan kini aku pun mulai ragu bahwa kau di sana tengah berkelun dengan boneka rindu tempatmu menuang sendu.
Aku cemas. Bahwa kau memberinya kesempatan bukan karna ia layak, tapi karna kau memang cinta. Bahwa kau terus memikirkan kesempurnaan seseorang hingga kau tak lagi mau memantaskan diri untukku. Bahwa kau berhenti percaya bahwa rembulan masih ada, meski saat matahari tengah bersinar menggantikannya. Bahwa kau berhenti terjaga, dengan harapan aku bisa kau lupa. Bahwa kau berhenti percaya akan kekuatan secarik doa adalah satu-satunya tempat di mana kita bisa saling jumpa. Bahwa kau mulai percaya bahwa penantianmu hanya lah sia-sia.
Appendix-mu. Bukan lain adalah bekas jahitan usus buntu yg sering menggusarkan harimu. Bukan lain adalah akibat dari operasi itu yg membuatmu berputus asa akan masa depanmu. Bukan lain adalah kau yg berhenti percaya bahwa aku lah yg bisa menghancurkan putus asamu. Bukan lain adalah kita yg akan bersanding nantinya sebagai dua orang kuat yg sama-sama memiliki bekas jahitan yg tak cuma satu.
Pola hidupmu. Aku tau kau perempuan. Akan sangat wajar apabila seseorang perempuan akan melakukan apapun agar terlihat baik di mata orang. Apa yg ingin kau ubah, sayang? Apa tak cukup hanya aku dan sahabat-sahabatmu yg akan mencintaimu di tengah apa adanya dirimu? Mengapa malu dengan kekuranganmu? Padahal itu yg bisa menunjukkan padamu siapa yg benar-benar sejati hanya sesedarhana ingin bersamamu.
Aku berat hati setiap kali aku mendengar kata diet-mu. Bukan lantaran aku menyayangimu sejak pertama kau merasuki mataku, kau masih bertubuh mungil. Tapi karena kau tak perlu menjadi sempurna untuk mata orang lain. Kau hanya perlu jadi sempurna dalam sujudmu kepada-Nya.
Aku ingin kau mencukupkan tidur malammu. Kalau saja aku bisa, aku ingin sekali menindas segala macam hal yg membuatmu terjaga hingga larut. Kalau saja aku bisa, aku yg akan berkorban dan menggantikan dia agar kau tak ragu untuk terlelap tanpa harus merasa sungkan padanya. Jika dan hanya jika.
Baik-baik kau di sana, aku tak pernah sekalipun berhenti datang pada satu-satunya tempat dimana kita bisa saling rengkuh, Doa.
Tuhan, tak henti salamku untunya dari sini, mohon jaga ia dalam sibuk pagi dan siangnya dan mohon jaga ia dalam lelap malamnya.
Salam manis, untuk seseorang yg selalu berkelun dalam ingatan dan buaian rinduku,
Sayang,
—DAPw, @tweetbatin.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar