A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Senin, 09 Februari 2015

Ku Nikmati Prosesnya

Ku nikmati saja prosesnya.


Sedang apa kau di sana? Pertanyaan itu yg masih saja menggantung setinggi-tingginya rembulan menggantung cakrawalaku saat ini. Lantas ku jawab sendiri. Kau tengah bahagia. Aku tahu. Tak lagi ada di hatimu lelaki yg kau kagumi pandangannya pada dunia. Tak lagi kau anggap benar tuturku yg hanya berlaku menyanjungmu. Lantaran di sana kau tengah terlumuti dan tenggalam sanjungan priamu yg sedang gigih-gigihnya mempertahankanmu.

Aku berusaha menyangkal segala ego untuk melepas bahagiamu di situ. Aku tak akan mengusikmu. Tak akan ku dengarkan lagi aba-aba dari siapapun untuk hadir di sela-sela bahagiamu. Tak akan. Aku di sini, tak akan pula menjamin bahagiamu. Aku telah menyerah jauh ketika sahabatmu menyuratkan bahwa kau di sana tengah dimabuk bahagia dengan priamu. Ini akhirku.

Jangan lagi menunggu. Aku takut untuk datang. Aku takut kedatanganku malah akan membuat gaduh kebahagiaan sejatimu. Tak akan lama lagi aku akan mendapat berita duka bagi kematian batinku, yg berupa suratan bahwa kau akan segera menempuh hidup baru dengan priamu. Lalu mungkin aku akan menemuimu saat kau tengah menua dengan malaikat-malaikat kecilmu yg selalu kau impikan.

Saat masanya datang, jika aku berumur panjang, kau akan melihatku juga menua dan hidup sebagai seorang lelaki gagah yg punya segala rupa dan dunia. Aku akan sendiri. Dan tersirat dari kerut-kerut di sekujur tubuhku bahwa aku telah memerangi segala macam sengsara. Kita akan sadar bahwa apa yg kita nantikan selama ini, hanya akan jadi kenangan di sebuah reuni dua sahabat yg dulunya pernah saling menguatkan.

Jangan takut. Ketika masa itu datang pun, kau akan mendapati mataku sayu memandangmu, mungkin kau masih akan menemukan cintaku ada di sana. Namun itu cinta bukan lagi rasa untuk menggodamu bersanding denganku. Itu cinta adalah rasa yg selama itu terkubur hidup-hidup sebelum waktunya mati.

Akan jadi apapun ini, aku tengah menikmati setiap jengkal prosesnya. Aku menikmati benar. Bukan lagi proses menunggu aba-aba lalu berjuang, tapi proses hidup yg tak pernah bisa ku tebak. Yg pasti, aku akan telah mengawini kesendirianku dan akan beranak pinak kesunyian. Aku mencintai kesendirianku, seperti aku menginginkan hanya kau yg aku mau untuk dampingi aku dalam damaimu. Aku akan berdamai dengan masa depanmu, bahagiamu.



Surat-surat yg tertunda ini biar tak kau baca, masih ada beberapa pasang mata yg mengabadikan keteguhanku. Surat-surat ini, nanti di masa depan, hanya akan kau pandang sebagai puing-puing masa lalumu. Dan surat-surat yg terkubur oleh bahagia dan masa depanmu ini, pernah jadi saksi atas bahagianya seorang lelaki yg sejenak memelukmu dalam rengkuhan rindu.

Rasa terbaik yg pernah kumiliki,
Menyanjungmu dan menyayangimu,



—DAPw, @tweetbatin


Share This

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates