A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Sabtu, 14 Februari 2015

Ku Sisihkan Badaiku Untukmu.


Hai, selamat malam rembulanku. Sudah ku sisihkan badai selama dua hari ini untuk melihatmu malam ini. Tidak. Bukan! Maksudku, telah ku sisihkan badai selama dua hari ini untuk membiarkanmu melihat cahayaku. Aku ingat betul katamu kau suka caraku memberitahu kabarku atau hanya apa yg tengah ku kerjakan. Hanya dengan itu, kau bisa menyentuku.



Badai di dadaku sudah reda. Telah ku sisihkan untukmu sejenak. Kusimpan air badainya untuk mengaliri sungaimu.

Aku kini hanya lelaki tak berbusana. Tak berbahasa. Aku tengah terkapar di atas ranjang dengan sehelai kain yg dijahit seadanya, dan tengah mengumpulkan segala kekuatan untuk mampu berbahasa. Tapi yg aku tahu, adalah caranya merindukanmu dalam diamku. Bisa kau lihat di sini beberapa helai selang tengah menyokong hidupku. 

Aku tak berucap banyak kali ini. Aku hanya ingin kau tahu, aku yg kau harapkan untuk cepat-cepat pergi dari hidupmu, masih bernafas dengan udara yg sama sepertimu. Langitku masih sama dengan langit yg memayungimu, bukan langit berupa tanah merah bercucur peluh dan keluh. Aku masih hidup. Jadi, 'hidupi' lah hidupmu dengan segala bahagia darinya, selagi masih ada yg menderita sepertiku yg tak pandai menjaga wanitanya. Engkau.

Kau tak tahu kan, rasanya tertinggal menjadi cahaya kecil yg kian meredup tertiup kesunyian dalam sebuah malam tak berujung? Kau tak tahu bagaimana rasanya tertinggal di sini dan membayangkanmu sedang memanggil hanya namanya. Hanya dia. Kau tak akan pernah tahu, seperti kau tak pernah tahu caranya menebak irama hujan. 

Badai sudah berlalu, aku masih berlumur peluh dan keluh merindumu,



—DAPw, @tweetbatin



Share This

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates