Kini, malam terlalu malam, pagi terlalu pagi. Aku duduk di pinggiran ranjang beroda. Aku setegap ini, akhir-akhir ini mudah tumbang oleh Asthma yg mudah kuderita. Terhitung dua jam dari sekarang, aku akan pulang ditemani dengan kesendirianku dan sebuah asa kau tengah merindukanku juga.
Tak sedikitpun niat untuk berhenti menyuap asap. Kecuali jika kau yg mengusap. Sedang aku tahu pasti, sudah ada dia yg tak perlu kau resahkan karna dia tak punya tak punya kebiasaan buruk seperti ini. Namun apa kau tahu, sebenarnya itu lah yg membuatku terluka di sini.
Aku pernah sesekali berhenti menyuap asap saat kau yg meneguhkan. Lalu kutemukan kau melangkah pergi, menjemputnya dan ia kau bangga-banggakan. Setiap kali aku berhenti mengapitkan sebatang rokok dari bibirku yg kian mengering, aku tak bisa berhenti berpikir kau di sana tak kunjung jua berhenti membiarkan bibir pucatmu terapit di bibirnya dalam kedamaian.
Lalu aku pikir aku harusnya sudah menghentikan kebiasaan buruk ini. Bukan, bukan merokok yg aku hentikan. Kau dan bibirmu yg sudah tak suci itu yg harusnya kuhentikan membayang dalam pikiran.
Mati? Aku tak takut mati. Sara? Aku sudah biasa sengsara. Menderita? Selebih-lebihnya, kau di sana tengah bahagia.
Sudah. Kau baik-baiklah saja, merajut bahagia di sana. Aku tak apa di sini merasa letih untuk menderita.
—DAPw, @tweetbatin


Tidak ada komentar:
Posting Komentar