A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Rabu, 04 Maret 2015

Tidakkah Kau Rasa Cukup? (Sahabatku Jatuh Cinta)



Catatan kecil ini terinspirasi dari seorang sahabat lamaku yg tengah terhimpit rasa pada sahabat baru. Boleh kan, kugambarkan sedikit kisah tentang sahabatku? Tak melulu tentang rindu padamu, Wulan-ku?

***

Sore ini, haus rasanya mata ini untuk menenggak hamparan awan yg teduh di ujung cakrawala sana. Aku pulang dan membuka pintu dengan perasaan tak rela berpisah dari dekatmu. Kakiku gemetar saat kutahu engkau, sahabat yg terus membuatku menyulam rasa, nyatanya telah bersinggah di hati idaman lain. Kuharap seketika aku bisa jatuh di situ dan menangis sekencang-kencangnya meski kau pun tak pernah tahu.

Kuletakkan sejenak beban di punggungku dan mencoba menyeringai senyum pada seisi rumah. Meski kurasa cukup bagiku untuk terus berpura-pura kuat dan bersandiwara bahwa jiwa ini tak mudah goyah. Nyatanya, aku tak kuat sendirian menanggung beban berat dalam tas yg kujinjing tinggi dalam hatiku. Aku masih tak percaya, kau sahabatku, tengah bahagia mengulum asmara.

Aku mengusap peluh, dan kubasuh semua keluh. Aku menatap cermin dan berkaca menelan candu. 

Ini wajahku, apa tak cukup manis untuk dapat kau pandangi agar kau bisa merasa beruntung berada di dekatku?

Ini lah mataku, apa tak cukup sayu untuk berbagi keheningan saat ku tahu kau tengah sendiri menanggung beban di kepalamu?

Ini senyumku, apa tak cukup megah untuk bisa membuatmu ikut menyeringai tawa segarmu?

Ini bibirku, apa tak cukup sejuk aksara-aksara yg biasa kusulam tiap pagi untuk menyapa semangat pagimu dan pengantar tidurmu?

Ini pundakku, memang tak cukup tegap untuk kau sandarkan segala beban duniamu. Tapi apa pundakku belum cukup tenang untuk sekedar kau sandarkan kepalamu dan kusilahkan kau berpeluh keluh dan kesah saat dilema hatimu?

Ini dia jemariku, memang tak cukup lentik untuk kujentikkan pada dawai-dawai yg bisa mengguncangkan dunia. Tapi apa tak cukup lembut jemariku untuk sekedar mengusap peluhmu dan mencanangkan tinggi-tinggi sanubarimu ketika sedang layu?

Malah kau lebih memilih untuk memasrahkan ujung jemarimu disentuh oleh dia kekasih barumu. Pundakmu untuk kau teguhkan sebagai tempat bersandarnya. Bibirmu untuk kau rayu dia. Senyummu untuk membuatnya merasa berbunga-bunga. Matamu untuk kau pandangi lekat-lekat matanya. 

Kau sahabatku, segitu buta kah kau sampai kehadiranku setiap hari hanya kau anggap sebagai angin lalu? Segitu tuli kah kau saat kata demi kata yg kuucap hanya bertanda bahwa aku telah lama jatuh hati padamu. 

Kau sahabatku,
"aku jadi merasa bodoh telah mengharap asmara yg sama pada hatimu. Aku salah karna mestinya aku tahu diri aku tak pantas bagimu dan kau tak akan memantaskan aku."

Lalu, boleh kah ku sudahi lelahku mengharap untuk kau hiraukan rasaku? Aku akan berjalan dengan waktu yg kian menghimpit dada ini. Aku akan berjalan mondar-mandir mencari ujung jalan yg layak kusinggahi selain engkau. Aku akan mencoba memantaskan diri untuk diberi sejuta rasa oleh hati-hati yg masih terbuka. 

Aku mulai berpetualanh dalam patah arang jiwaku. Mencari selembar kertas yg bisa kutuliskan cerita baruku. Menyiapkan hati ini teguh-teguh untuk nanti dapat jatuh hati pada rasa yg baru.

Bagi dan oleh sahabatku, cukupkan lah hatimu dan mulailah merindu asmara yg baru,



—DAPw, @Tweetbatin


Share This

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates