A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Minggu, 12 April 2015

Merah Membiru, Senja Berlalu.

Merah Membiru.




Hai, semilir angin sore yang berbisik di antara dedaunan kering yang bernafas sesak. Berdesak. Lalu, boleh kah aku titip salam untuknya yg tengah dirundung bahagia setinggi puncak sebuah gunung dan dan seluas samudera awan yang menyandra siang waktunya?

Hai, kamu, apa kau terlalu bahagia degannya di sana, sampai kau tak sedikitpun mendengar salam doaku yg kubisikkan lewat gerombolan angin dan sengatan ganas sang matahari siang ini?

Jika kau di sana cukup bahagia untuk mendengar salamku, jika kau menanyakan kabarku di antara dimensi jarak dan waktuku, aku di sini juga sedang berbahagia untukmu. Dan di sisi lain dari wajahku, aku juga tengah kelelahan untuk membahagiakan ia yg kini di sampingku. Aku juga tengah memendam rindu pada ibuku.

Ingin rasanya, aku cukupkan saja jajaran rindu yg di rasa menyiksa. Ingin ku jemput saja kau ke dalam dimensi jarak dan waktuku, agar tak usah lagi ada dia yg memberimu segitu bahagianya. Ingin sekali aku bisa mencerca diammu untuk bisa kutuliskan lagi rasa yg entah muncul dari mana. Inginnya aku berhenti berpura-pura kuat di depan mereka. Ingin rasanya kutunjukkan pada dunia bahwa aku hanya rangkaian tulang-belulang rapuh termakan rindu, dibalut seonggok daging yg kini membusuk perkara matinya sebuah rasa.

Dan ketika langkah kecil kaki lelahku ini mulai terbata, lantaran ada yg bertanya, "sebenarnya apa yg ingin kau tuju? Kapan kau berhenti? Kau lihat itu kakimu, mereka sudah lelah tapi masih kau paksa membawa daging busukmu?". Tempat yang ku tuju itu jauh dari tanah, terkubur ribuan mil jauhnya dari langit, terusir oleh angin berbisik, dan mengatung di sela sebuah cakrawala dan tertutup fatamorgana. Tempat itu adalah dimensi jarak antara Bandung-Surabaya yg tak kunjung lenyap lantaran ego dan harga diri. Waktu untukku berhenti adalah dimensi waktu yang hanya bisa di tempuh oleh dua buah rasa yg sama.

Namun, salah satu rasa itu telah binasa termanakan bahagiamu dengan seorang pria buta.

Maka, jangan lupa siapkan piranti dan segala perkara untuk mempersiapkan pemakaman sebuah rasa yg dulu susah payah kuperjuangkan hidup-hidup agar mampu bertahan di dalam hatimu. Jangan lupa beri nama pada nisan di kuburan rasa itu. Bagaimana jika kusarankan kau beri nama "Rasa Untuk Demmi" saja? Jangan lupa sambut aku dengan senyum termegahmu saat kuhadiri pemakaman itu.

Ku titip salam rindu, sembari merah berbinar sang surya di ufuknya, dan deru biru samudera langit yg bersabda tentang angin beserta kuasa-Nya, 


—DAPw, @tweetbatin


Share This

3 komentar:

  1. ada yang bilang kalau....
    senja memang pandai, datang ketika rindu benar-benar rindu.

    sama seperti rintik hujan yang turun, senja datang membawa rindu.

    BalasHapus
  2. mari bulatkan tekat untuk mengubur semua kenangan tentangnya.

    BalasHapus

Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates