A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Senin, 18 Mei 2015

Sepotong Kue dan Sepatah-patahnya Janji.

Dua pulh April, tua renta Kota ini.

Telah terlewat sepuluh sasi hari bahagia itu kami teguk. Setidaknya kamipun pernah bahagia layaknya pasangan yg sudah berjuang puluhan tahun melupakan masa lalunya. Setidaknya kami pernah meneguk bahagia sepertimu disana yg tengah terbuai bejana penuh asmara. Kami juga pernah menemui lara setitik demi setitik yg kini berujung pada bujuk rayunya.

Kami pernah mengukir asmara pada batu-batu kencana. Setidaknya kami berusaha. Setidaknya aku mencoba. Batu hanyalah batu yg terlelap disana tanpa henti dan tak bisa diukir dengan sebatang lidi. Sayangnya kami masih terlalu muda utk berdiri berdua. Kami ceroboh, kami saling tak peduli, akhirnya tanpa sengaja kami saling menyakiti.

Tetes demi tetes halilintar siang itu benar-benar menyentakku dalam tidur lelapku. Aku menemukannya ternyata lebih bahagia disamping sebuah kisah masa lalu. Hingga saat itu, aku tak pernah sadar bahwa aku tak pernah dirasa cukup.

Pagi ini. Kuberanikan diri menyudahi semua janji tanpa hitam diatas putih yg mengikatku seerat ini. Cicin yg tk pernah kukenakan kini telah berkarat terkikir sepi. 

Kubelikan kue blueberry utuh dari toko roti di persimpangan jalan menuju rumahnya utk kami. Kusimpan rapi dalam bungkusan dan kutulisi, "Ini tahun pertama kita :)". Kami sudah merencanakan hari ini jauh jauh hari. Kuajak ia berkemas dan mengitari sudut sudut tersembunyi kota ini. 

Hingga datang di penghujung hari, kami telah tuntas dan kurasa telah waktunya membukakan ia bingkisan juga kue yg kutukar rupiah pagi ini. Ia tersenyum begitu megah. Aku mulai meneteskan air mata. Kubukakan sebuah kotak berisi sehelai kalung tak berbandul untuknya. Ia bertanya, apa aku lupa membelikan bandulnya. Aku hanya diam saja, sengaja membuatnya bertanya-tanya. Aku tetap saja mengais bulir-bulir air dari ujung mataku ini. Sembari kupotongkan kue untuknya dan kubiarkan ia melahapnya.

Aku udah lama tau. Kamu sama Jibril. Aku nggak apa-apa kamu sama dia, nanti aku bisa ngalah.

Lalu ia diam dan air matanya mulai membabi buta. Kupotongkan kue untuknya lagi, aku tau dia suka kue itu. Kupotong satu lagi untukku. Kusodorkan yg satu padanya.

Dimakan ya, ini kue terakhir kita. Jangan ada kue-kue lagi. Aku capek. Terakhir pokoknya. Pintaku memelas terbungkus lelah.

Ia hanya bisa terdiam tersedu. Aku tau lidahnya kelu terkejut akan apa yg baru saja kukatakan. Ia terus mencoba menggapai pundakku untuk tumpahan peluhnya.

Aku gak apa-apa. Sudah kuikhas-in dari lama. Pelan-pelan, lepasin aku, aku bantu. Jangan pernah takut buat dateng ke aku sebagai sahabat yg pernah berbagi macam-macam rasanya hidup setaun lebih. Aku juga gak akan bilang ke bapak ibuku sama mama sama ayahmu, sampe kamu sendiri yg bilang. Aku gak bilang cerai sebelum kamu bilang ini ke keluarga. Pelan-pelan, sampe kamu siap. Aku berusaha gak nyakitin kamu, tolong sebagai gantinya, berubahlah. Buat dirimu sendiri. Aku gak akn ninggal kamu dengan keadaan kamu masih semrawut. Kutemenin berubah jadi lebih baik, pelan-pelan, cuma kita gak bisa sama-sama.

Malam itu ia tak pernah berhenti menangis. Seisi rumahnya bertanya-tanya, apa yg telah kuperbuat pada jelita sore idaman semua pria itu. Ia tak pernah berhenti meronta dan tak pernah mau melepas rangkulannya pada pundakku. Sampai aku lelah dan memanggil mantan kekasihnya turut datang malam itu. Lelaki itu hanya terdiam terbujur malu melihat jelitanya menangis menderu-deru dan tak mau melepasku. Tapi aku tau, aku sudah selesai dengan urusan-urusanku di situ. Hingga malam itu aku berlari sekencang kencangnya dari belenggu itu.


Kau di sana tak salah telah mengira aku di sini bahagia. Aku memang telah bahagia. Dengan semua hal di sini yang tak pernah lelah membuatku terpesona. Ibuku.



—DAPw, @tweetbatin


Share This

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates