Tak ada hari tak terlewati tanpa lelah yg tak terwakili. Angin sejuk bisa jadi kawanan singa yg menerkam ketika hati ini mulai sepi. Ramai manusia tak cukup menenangkan hati, untuk segera berlabuh dan menepi. Mata ini mulai ragu untuk memandang lebih tinggi. Bundaran merah dari rasa haus tak kunjung menyingkir dari sanubari.
aku tak mau selamanya terus begini. Aku juga membutuhkanmu sebagai pelipur rasa dan pengelus cakrawala di punggungku. Aku juga menginginkanmu bersemayam dalam duduk hangat di tengah sore, dan di samping meja dua cangkir teh. Kita nikmati sisa waktu di penghujung sore dalam ruangan yg tembok-temboknya basah terpenuhi asmara. Aku menginginkanmu mengusapku saat hati ini mulai lengah.
Tak cukupkah hati seluas himalaya ini untukmu? Malah kau singgahi ruang hati yg mungkin tak pernah kau rasa cukup utk tempatmu berteduh.
Tak cukupkah hati seliar hutan belukar utk terus mencintaimu tak kenal waktu? Dan ini kau yg lagi-lagi mengingkari gelagak bagagiamu denganku.
Kemarilah. Sambut aku tanpa perlu lagi kau hiraukan hingar bingar duniamu. Biar kucoba setiamu. Biar kulihat sayu matamu saat kuingatkan lagi tentang kisahku. Biar ku coba mengisi malam-malam sepi tertiup sara yg sempat memustahilkan tawamu.
"Untuk itu akan ku persembahkan himalaya, bahkan akan ku taklukan tanpa cahaya di kegelapan."—Himalaya, Maliq.
Genggam tanganku sekali lagi untuk kau daki puncak bahagia hati ini. Dan ijinkan aku membawamu serta dalam sara atau bahagia yg akan mengisi dunia yg patut kita berdua nikmati.
Biarkan aku, menyayangimu
—DAPw, @tweetbatin


Tidak ada komentar:
Posting Komentar