A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Minggu, 21 Juni 2015

Menipu Pagi.

Menipu Pagi.

Biarkan aku singgah sebentar saja, atau bahkan selamanya. Hati ini susah terlalu runtuh kokohnya untuk melepasmu dari palukan di dalamnya.

Bagaimana malam ini bisa kau sangkali, adanya bintang semu yg mungkin hanya ada dalam khayalku? Sedang kau tengah memijak hati ini dan menggenggam seutuh-utuhnya tekad untuk kembali memilikimu. Bagaimana hati bak bejana kopong ini tak layu tatkala kau ringankan uncapan sayangmu untukku? Sedang kau tau hati ini telah layu dibuai malu oleh kelamnya kawanan masa lalu.

Aku tak seteguh bintang saat malam berlalu dan para wanita kini menunggu datangnya pagi. Aku tak seperkasa sang bulan bundar tatkala harus rela terusir dini hari. Aku tak sesemu pagi saat dada ini telah sesak terhimpit bintang yg teguh ingin singgah namun matahari memaksa pergi.

Dini hari menipuku pagi ini. Katanya, dini hari harusnya semua orang beranjak pergi dari alam ini, harusnya semua orang tengah berbasuh tentram melayang ke alam mimpi. Tapi tidak denganku yg mengambang di alam nyata meski jiwaku tengah terbuai jauh dari mata ini. Jiwaku sudah kembali kealam bebas meninggalkan penat yg tak kunjung tersudahi.

Sebujur kakiku mulai bosan bergoyang tatkala harus menghipnotis mataku. Segenap tulang belulang di punggunggku sudah mulai panas tergesek embun antara dinding dan lantai beku. Sambil meringik kunyaringkan segelas air mata yg tumpah membasahi jajaran tulang dadaku, bibir ini mulai nyinyir meninggalkan bekas ludah agar tak lepas tasbihku. 

"Hamba berjanji untuk melantunkan Nama-Mu tiap malam dengan merdu. Tapi untuk malam ini saja, tidurkan hamba dalam timang kedamaian malam-Mu. Hamba selalu takut akan apa yg mampu membuat keyakinanku pada-Mu. Namun bukan lain adalah jemari malaikat samaran yg dulu Engkau kirim, yg kupinta utk jadi pengganti butiran-butiran tasbih yg kini melingkar dengan air mataku. Engkau Yang Maha Berkuasa utk membolak-balikkan perasaan hambanya, beri aku dia, agar bisa kupetik jemarinya utk mengiringi tasbihku atas Nama-Mu, saat hamba tak serapuh ini terlelap pada malam-Mu. Ijinkan hamba bertasbih di antara garis-garis tulus jemarinya Ya Rabb."

Kini kau datang, persis sama seperti apa yg kumohonkan pada Tuhanku, meski belum mampu kugapai jemarimu, utk kautemani tidurku. Telah berbalik persis, meski tak sama lagi, hatimu. Setidaknya masih ada namaku.



—DAPw, @tweetbatin


Share This

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates