A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Jumat, 23 Oktober 2015

Mati Membeku.

Hai, Perempuan Beku.

Tanpamu, aku hanya bisa memanen pilu. Tanpamu, jiwaku berontak mengais rindu.



Perang beku bergulat dalam batinku telah membantai habis pasukan udara dalam paru. Sementara sang kelopak sayu tak mampu membendung mawar utk memerah. hingga bulir-bulir asmara, lelah, kantuk, takut, amarah juga rindu berguguran membuat satu lagi samudera. Terisak aku, pada musim hujan durja. Aku terlalu jatuh —terlalu dalam, hingga palung di bawah mataku menguning dan merekah. Aku terlalu dalam jatuh dalam kungkung asmara. Sekilat seperti Tuhan menepukkan alkisah-Nya, sekejap kau lalu pergi seenaknya. 

Mungkin hanya aku saja yg terlalu pencemburu. Tapi kau tak tahu, kau telah mencuri semua amarahku hingga yg kupunya hanya sabar yg akhirnya menerkamku. Kau mungkin tak selamanya untukku, tapi tahukah kau,
Suaramu kini tak akan pernah rela membiarkanku terlelap dalam kantukku.
Nafasmu kini terngiang sbg pembantai gelagak kecil tawaku.

Kenanganmu tak akan pernah lupa meninggalkan gambar-gambar sayu di pikiranku.

Tahu kah kau, setiap detik kisahku bersamamu tak pernah ragu utk menghantui malam dalam sudut kantukku. Sekali lagi, kau jadi hantu.

Baru saja kemarin kau buatku bersemi tersipu. Sampai-sampai rela kuteguk secangkir nyaman kopi dan kuhirup sebatang saja kretek hangat di malam pekat penuh kabut abu-abu. Lalu ku-sajak-kan mu dalam bait-bait riangku, kusulam sajak-sajak itu penuh rindu. 

Barang tak ada waktu kunikmati hangat sulaman sajakku, lantaran kau lalu sedingin itu, hempaskan sulamanku dalam tumpukan rindu.


—DAPw, @tweetbatin




Share This

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates