Aku telah sadar beberapa kali dari mabukku, oleh celetuk renyah dari mereka para bibir selalu berusaha menerka, katanya,
"cinta itu obat. Iya, obat dari segala penjuru rasa sakit. Juga kebulan asap rokok, yg begitu indah tak punya bentuk yg bisa ditiru.
Kau tau itu bahkan datang untuk membunuhmu dari berbagai penjuru, tapi kau pura-pura tak peduli, kau tetap terjaga untuk terus menghirupnya, berharap itu bisa membebaskan jiwamu dari benalu rindu.
Seperti cinta, kau tau itu bisa meledakkan kepalamu, meremas dadamu, meninju ulu hatimu, kapanpun Tuhan mau. Tapi kau tetap saja tak mau berhenti merasakannya."
Ia bisa pergi kapan saja Tuhan mau. Ia bisa mati rasa kapan saja ia lelah. Ia bisa saja temukan sandaran lain kapanpun ia mau. Ia bisa hilang kemanapun kabut menutupinya.
Tapi apa kau percaya, bahwa sebuah rasa yg kini membuatmu sebodoh ini, saat kau tak akan pernah peduli seberapapun sesak dadamu dibuatnya, seberapapun hikmat kepalamu tertunduk sayu, seberapapun lebarnya jahitan menyelinap dibalik kokohnya tubuhmu, adalah sebuah rasa yg kau percaya seperti kau percaya takkan ada yg membunuhmu meski kau berdiri di tengah persimpangan kereta.
Dan saat kau tau, cinta punya waktunya sendiri untuk memeluk atau membunuhmu, Kau akan menyerukan hingar bingar pada hati bimbangmu bahwa, "tenang, akhirnya akan baik saja." Tanpa sadar, perlahan kau tenggelam dalam rasa nyeri di rongga dadamu, kau tidur dengan embun di pelupuk matamu. Hingga saatnya, cinta yg membunuhmu.
Bukankah beringas?
Namun tak kah kau rasakan euphoria nya saat kau mendapati kupu-kupu biru beterbangan di perutmu tiap kau mengingat namanya?
Tak kah kau nikmati saat semua tingkah manisnya bahkan mampu membuat matamu tersenyum manis juga teriris?
Tak kah kau dengar ada kerumunan simfoni klasik di dadamu tengah menggiringmu utk menari dalam tidurmu?
Tak kah kau lihat pelangi bahkan mampu melukiskan warna di ujung-ujung bibirmu?
Iya, kau seindah itu. :)
Bahkan saat kau buatku marah, kau masih segalanya.
Tetaplah kau jadi sebuah alasan untukku terus berkupu-kupu, aku menyayangimu.
—DAPw, @tweetbatin


Tidak ada komentar:
Posting Komentar