Seteduh lambar menengadah pada kopi, dan imajiku kian malam kian meninggi.
Sudah lah, sudah larut. Langit sudah menua. Katup dua bibir ini sudah berlumuran butir-butir kopi tua. Sendi-sendi tumpuan, lutut juga siku, tak lagi mampu menopang sebuah tawa, tak lagi mampu mengusir rindu yg tak kunjung bersua.
Setangan penuh kenangan, lumur lara juga tawa, menggenggam sejuta detik saat aku terbumbung asmara. Sepasang mata ini jadi saksi, ada kau yg memilikiku sekujur jiwaku, berbisik untuk selama-lamanya, aku menunggu utk bisa bersamamu.
Dan ketika kau tak memiliki tubuhku yg penuh robek dan lubang, jemari ini tak akan pernah menyesali air mata yg jatuh cinta pada selembar kertas penuh asmara padamu. Aku akan selalu menuliskan asmaraku padamu, untukmu.
Aku, milikmu. Aku, dan kita.
—DAPw, @tweetbatin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar