Belum lama ini, sempat terlintas untuk menghapus durja nirwana.
Namun kabut pagi telah lebih dulu meninggi setara mata,
lalu aku menangis pada ego yg lama tak berwarna.
Lebih dulu, aku tergigit rasa nyeri di antara rongga dada,
Lantaran sunyi telah terlalu lama menepi di ujung asmara.
Mengapa begitu terasa, ini, sengsara?
Mengapa rindu dan asaku melulu tertahan tangis orang tua?
Sunyi ini lalu menahanku dari kabut yg mematahkan asa,
Menyuapi rasa pada rasa, rasa demi rasa,
Inginnya, sudah, kusudahi semua aral demi aral untuk memelukmu dan meninggikanmu hingga sanubari.
Inginnya, aku saja yg menggerutu nyeri, mendesah pedih,
Mengerti rindu seperti ini takkan selesai jika, dan hanya jika, aku yg mati.
Tolong, sulam lagi durja nirwana, agar sunyi tak lagi meronta, meminta tinggal di dalam dada.
—DAPw, @tweetbatin


Keren..
BalasHapus