A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Rabu, 06 Januari 2016

Bagian (1) dari Kehidupan.

Bagian Menyakitkan dari Kehidupan.



Kehilangan. Siapa yg tak kenal dengannya? Siapa yg belum pernah menjadi korban dari kebengisannya? Aku, kau, dia dan mereka, pasti pernah merasakan bagian dari setiap kehidupan yg seakan mematikanmu, utk bahkan membuatmu lebih hidup.

Dalam hidup, kita mungkin bisa jatuh, terbang, merayap, merangkak, berlari. Dan saat kita merasakan hal yg disahkan dengan nama "kehilangan" ini,  kita mungkin berada pada titik rendah dalam hidup. Entah apapun yg hilang itu.

Dan kehilanganmu, utk kesekian kali, adalah hal yg memukulku jatuh menelungkup menghadap bagian terendah di hidupku. Aku sempat bangkit, setangah berlari—ingin segera memilikimu kembali. Berlari dengan kedua lututku tergores batu jalanan, kehilangan ini lalu kembali menjorokkan wajahku ke dalam palung itu. Menindihku dengan penghinaan yg sangat hina.

Tapi kehilangan, tak pernah lelah mengingatkanku bahwa, apa yg aku peluk dan kugenggam meski seerat daging memeluk tulang sendu pun, bisa kapan saja hilang, patah, atau rusak sekalipun. Tak peduli, sebesar apapun janjiku untuk selalu menjaganya, sesering apapun ia berjanji utk tak akan pergi.

Kehilangan selalu datang saat kita tak tahu kita lengah, dan saat Tuhan sedang menginginkannya.

Tuhan kala itu tau aku tengah lengah, jarang menitipkanmu pada salinan doa. Hingga saatnya, seorang lelaki—yg mungkin juga memintamu dalam doanya, datang menjemputmu utk terus menari ditengah ramainya kekosongan hari-harimu.

Akan terus kusaksikan hidupmu, tarian-tarianmu, sampai suatu saat nanti kau akan lelah harus menitipkan tangismu pada tarian ditengah hujan. Sampai suatu saat kau tersungkur lelah, aku akan telah sampai padamu dengan lututku yg penuh luka, celah, dan hina. Jangan tunggu aku, teruslah menarikan tarian hidupmu sekencang mungkin. Dan saat kita telah sampai, kumohon kau terima aku dengan segala celahku.

Aku telah bersandiwara sepanjang hidupku. Bersandiwara jadi tokoh tertangguh meski hujan api tengah merundung pundakku. Dan kau adalah satu-satunya orang yg masih melihatku sebagai yg terkuat, meski saat tubuhku hancur lebur dan tersungkur jatuh. Kau, satu-satunya yg membuatku lebih hidup setelah terbunuh oleh sebuah nama "kehilangan".

Aku rindu. Aku rindu kau tepuk lagi pundakku. Aku rindu kau rapikan lagi tatanan tulang di punggungku yg hangus termakan kesalahan.



—DAPwulan, @tweetbatin




Share This

2 komentar:

Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates