Bagian Kedua dalam Hidup.
Mencari.
Entah bagaimana. Setiap setelah kehilangan berlalu dengan angkuh membelakangi setiap luka yg dibuatnya, aku selalu mencari lagi bentuk lain dari luka dari nada yg sama.
Entah bagaimana, entah ke mana, aku harus mencari penutup anak-anak nanah yg menjamur di sela jahitan. tak baik bagi batinku jika terus menggaruk luka-luka yg mengering oleh jaman.
Entah mecari yg baru, atau mencari yang hilang, hasil sabarku tak kuijinkan membodohiku.
Entah macam labirin apa hidup ini. Kadang kita merasa telah berjalan jauh, namun hidup ini menjebak kita utk mengitari tempat dan waktu yg itu-itu saja. 'Terjebak nostalgia', katanya. Kadang sampai lelah harus berjalan di tempat yg sama, namun kita terlambat menyadari bahwa, sang waktu sudah berbeda.
Sebelum aku tersesat lebih jauh, ada baiknya aku, lebih dulu, mencari diriku yg sempat hilang dilahap kabut saat linang bulan-pun tak mau menerangiku. Aku perlu menemukan jati diriku terlebih dahulu.
Jauh dari itu, aku tak banyak berharap kali ini, utk bisa menemukan orang yg tepat. Aku hanya mampu menggantungkan asa, bahwa ada yg datang tak utk 'mencicipi' lalu pergi. Aku merindukan seseorang yg datang tak hanya utk sekadar singgah, lalu berpindah.
Aku mencari, tanpa tahu apa yg nanti kudapati. Aku mencari, dengan harap yang hilang turut kembali. Sambil mencari, boleh 'kan, aku turut mencicipi nikmat-nikmat Tuhan yg tak bisa kudustakan ini?
Karna, di sini, aku hanya seonggok dosa yg bosan harus menunggu mati, sendiri.
—DAPw, @tweetbatin.
(Didedikasikan untuk kalian, Dua Nada yg sudah membuat karya atas karyaku. Yg menjadikan karyaku lebih menyerupai karya yg lebih utuh.)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar