A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Sabtu, 09 Januari 2016

Begitu Dalam.

Begitu Dalam.

(Tak ada gambar, adanya hanya amarah yg gemuruh menampar.)


Tentang aku, 'dia'ku, kau, 'dia'mu, dan 'dia'nya. Terjebak dalam satu bundaran di ujung kaki langit yg sama. Tak tau bagaimana, terus berputar hingga membuat lubang besar di bumi ini. Menjadikan perputaran angin bisu berlari kebingungan harus berhembus ke mana lagi. Bingung pada sanubari siapa kata rindu ini mestinya dibisiki.

Hujan turun, di sana, dan di sini. Kesana-kemari. Membuat jemariku menggerutu kaku ingin meninju langit di atas sini. Sebab aku dendam, pada awan hitam yg tak mau kujadikan topeng utk tutupi batin yg kini letih. Mendung itu tak mau menangis utkku yg tak mungkin menangis di hadapan gadis ini.

Sejatinya, aku telah lama menantikanmu membuka pintu tanpa malu dan membacakan puisimu pada dunia. Namun, saat duniamu sudah terbuka, malah sajak tentang dia melulu yg kau puja.

Ah, entahlah. Ternyata mimpi itu tak lagi kau pendar. Angan kita tak lagi sejajar. Mulai masa ini, tiap kali kudengar namamu, aku tak mau lagi kau buat dadaku bergetar.

Doakan aku bahagia dengannya. Doakan aku mampu usaikan puisiku utkmu.

Aku lelah harus marah, entah pd siapa.



—DAPw, @tweetbatin






Share This

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates