A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Minggu, 17 Januari 2016

Hutang Darah.

Hutang Darah.




Pertengahan hari. Saat itu, angin tengah sibuk-sibuknya menyebarkan semerbaknya aroma samudera. Aku tengah duduk bersandar pada samping Mushollah kecil di ujung dermaga. Seluruh badanku telah rata diragati peluh bercampur amarah. Hari itu mataku bercucuran peluh lantaran sudah kunyatakan mata ini tak bertengger satu mili pun selama tiga hari, begitu juga esoknya. Jadi kawanankupun tak akan tahu jika aku sesungguh-sungguhnya sedang mengelus duka.


Aku lelah harus bertanggung jawab atas kesalahan yg tanganku tak pernah lakukan.
Aku lelah, Tuhan, terikat pada satu pilihan yg sedari awal tak pernah terlintaskan.
Aku lelah harus menjadi korban nasib, budak waktu, dan buruh upah bualan.
Aku lelah berandai-andai bahwa harusnya raga ini dapat memilih bersamanya ketimbang mati terkungkung hutang.


Semua pikiran busuk itu terjerembab di awang-awang mataku yg tengah terpaku pada sesosok fatamorgana di ujung jalan. Tidak setelah bidadari termuliaku menabuhkan suara lembutnya pada gendang telinga yg mulai mengeras oleh ribut angin dan harapan.

Seperti biasa, aku jatuh pada kesimpulan bahwa aku hanyalah bocahnya Ibuku. Memelas, manjaku, tanpa perlu basa-basi,
"Ibu, aku lelah. Semakin keras aku berusaha mengayuh roda sepedahku, semakin sepedah ini ingin membuatku terhantam dan terjatuh.
Ibu, aku mengantuk. Tapi semaking keras aku berusaha memejamkan mata, semakin deras air mata ini beradu dengan pilu dan berperang dengan peluh."
Dan sekeras apa pun aku berusaha menjauhkan ponsel dari bibirku, ia tak akan bisa dibohongi bahwa aku tak terisak tersedu. Malu, aku lah anak tertangguh Ibu.

Saat itu juga, Ibuku tak juga mampu membohongiku bahwa ia tidak tersedu. Isaknya sangat dalam menghunus peredaran darah di kantung telingaku. Terasa seperti setiap urat nadiku ditarik dari ujung jemariku.
Mati saja kau ini, Bam! Tak ayal semua orang pergi, kau hanya pembawa tangis.

Pelita pengusap peluh itu lalu berbisik pada telingaku yg terhunus pilu oleh sedunya,
"Kamu ini, anak laki-laki tertangguh yg pernah dimiliki seorang Ibu. Mau kamu ditawar dengan harga sejumlah seluruh harta dunia, Ibu engga mau. Jangan ngeluh, Ibu tau yg kita alami ini berat memang. Tapi kunci surga yg terselip disela jari kaki Ibu, Ibu janji, engga perlu kamu cari, pintu surga-lah yg bakal jemput kamu, Bam."




Hati manusia yg lahir dari rahim mana yg tak gemetar rasanya saat mengendengar bahwa ia dilahirkan untuk dijemput pintu surga?


Semakin sore, semakin panjang bayang kakiku. Kakiku yg lemas terhunus rasa sesal telah mengeluh pada Berlian-ku. Aku sibuk sendiri menata nafasku, menyembunyikan tangisku agar terdengar seperti gelagak tawa bagi yg diluar sana. Aku tak begitu mendengar apa yg disampaikan Ibuku, hingga satu celah aku mengerti arah bicaranya yg kukemas mentah-mentah dalam batinku.

Ibu tak minta kau bayar hutang darah yg Ibu keluarkan untuk membiarkanmu bersapa salam pada dunia. Ibu tak minta kau mengiyakan semua rasa kerinduan pada perempuan itu yg kau tutupi dari Ibu. Namun, berpuluh-puluh tahun Ibu mengenal Bapakmu, Ibu tak pernah tahu ia meneteskan air mata, tak juga saat Ninikmu meninggal. Kecuali pada dua saat. Pertama, ketika kau akan lahir sedang Bapakmu masih terkurung dari restu Ninikmu, yg belum juga luluh oleh kehadiran Abangmu. Bapakmu berusaha keras, entah bagaimanapun, ia harus hadir saat kau lahir. Kedua, saat kau telah remaja, kau ingin menukar nyawamu untuk menebus rindu pada gadismu. Kau bersikukuh tak mau bertemu obatmu, sebelum kami mengijinkanmu pergi dari rumah menemui gadis itu. kala itu bukan main derasnya air yg tak pernah kulihat dari dua bejana terkuat di dunia, sedang tubuhmu sama rentanya seperti saat kau baru lahir.
Tolong kau, anakku, bayar air mata Bapakmu, demi Ibu. Biar Abangmu jadi urusan Ibu.


****

Dan sedari itu, aku, anak laki-laki nya Bapak dan bocah cengengnya Ibu, tak akan sanggup menghianati air mata Bapakku, hutang darah pada Ibu, atau pintu surga yg dijanjikan Ibu. Tak boleh sedikitpun menyerahkan nafas Bapakku pada kawanan serigala yg dibutakan oleh dusta dan yg telah diadu domba. Semua inilah lantaran mengapa membabu pada tiga pencakar langitpun, hidupku masih menanggung susah.

Aku tak memilihmu, bukan berarti sudah tak tersisa sedikitpun asmara dalam hatiku. Bukan berarti juga aku tak ingin memilihmu. Namun, kau, ataupun dunia sekalipun, tak akan pernah mengerti bagaimana mereka para biadab yg duduk menjabat di atas hak Bapakku, bisa kapan saja mendengungkan ajal bagi keluargaku.



Kutuliskan ini. Kusisihkan badai sejenak untuk membuatmu melihat sedikit lebih jelas, tentang Singa di dalam tempurung kepalaku, dan bocah cengeng dalam rongga dadaku. Bukan untuk membuatmu melihatku seperti malaikat. Tapi untuk kau pandang sebagai manusia utuh seperti manusia lain, yg kadang tak punya banyak pilihan. Atau sama sekali tak ada pilihan.  Bahkan sekalipun harus memilih pilihan yg harusnya ditanggung oleh pundak lain.

Dari sekian banyak kau mengeluh bahwa kau telah lelah, sejatinya aku telah jauh lebih jengah. Kau bilang kau lelah dituntut jadi yg terbaik, aku di sini berjuang agar setidaknya keluargaku tak tercabik.

Hidupnya sebuah asmara bak sesumbut pelita. Lilin-lilin yg kau tanam dalam jiwa, telah berkobar menyatu padu dalam doa.


Kau, sang pelita malam, dewi rembulan, Doakan aku selalu, ya. Mintakan Tuhan mau mencukupkan tidurku.

Rinduku bersimbah darah,




—DAPw, milikmu.








Share This

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates