Jengah.
Pagi buta. Senin. Delapan Belas Januari. Enam Belas.
Dari hati, pada hati. Yang merasa masih punya hati.
Aku bejawan rintih dari sesengguk kopi. Aku masih takut terlelap ketika malam jatuh di depan mataku dan kadang, mimpi-mimpi tentangmu mengejarku terlalu jauh. Hingga aku sering terseret terlalu jauh dalam ketakutan melihat wajahmu bahkan dalam tidurku.
Entah bagaimana lagi harus memulai surat demi surat untuk dikirim ke tempatmu kini. Entah bagaimana lagi memebuang muak melihat potretmu tengah bersanding manis dengannya yg meminangmu lebih dulu. Entah dari mana, aku harus menepuk pipimu, menampar sanubarimu, menyadarkanmu tentang bagaimana kemarin kita berdua memulai lagi.
Tentang bagaimana kita telah setuju sama-sama meninggalkan setengah dari urusan dunia yg belum jua merestui.
Tentang bagaimana bajingan ini telah rela mengampunimu setelah kau hianati.
Tentang bagaimana dengan mudahnya aku hanyut terguyur asmara hanya dengan sesumbut kata maaf setelah lelaki lain yg kau kencani.
Aku tahu, kala itu aku tengah telanjang bulat, tengah bergulat dengan ramainya duniaku hingga aku tak punya sehelai benang untuk mengikatmu. Aku benar-benar tak punya apa-apa kala itu. Aku hanya mampu berlari sekencang-kencangnya untukmu. Aku hanya mampu meneguk air putih sebanyak yg kau minta kala itu. Aku hanya mampu menyudahi asap ternikmatku dari pintamu. Aku hanya mampu mengakhiri kisahku dengan wanita lain saat aku tau itu membakarmu dlm cemburu.
Bukankah lucu, saat aku se-manut itu demi Anda, malah Anda pergi seenaknya? Tanpa ada kata, tanpa kau beri pelita.
Bukankah dari semua kisah di kerumunan dunia, wanita lah yg tau seperti apa rasanya derita?
Namun, kenapa malah kini aku yg harus merasakan lumpuhnya batin saat kau benar-benar khianat dengan seorang pria?
Aku jengah. Harus terbujur kaku oleh rasa cemburu yg harusnya tak perlu kurasakan saat aku tau kau yg pergi.
Aku jengah. Menatap potretmu memandangnya dari mata tajammu yg tak pernah kuijinkan berselingkuh.
Aku jengah. Akan amarah padamu yg harusnya tak perlu membakarku lantaran kau bukan lagi wanita yg pantas menyita waktu senduku.
Aku jengah. Harus berpura-pura bahagia dengan wanitaku sedang hati ini tertunduk rindu padamu.
Aku jengah. Harus mengais sisa-sisa keikhlasan dunia untuk cepat-cepat menemuimu, malah ia lebih dulu memenangkan hati Ibumu utk meminangmu.
Kau tau, aku tak pandai mengungkapkan lukaku tiap aku tau aku tak bisa jadi yg terbaik yg bisa kau kenang. Aku tau kau tak mau aku datang utk memintamu sembuhkan bekas-bekas cakaranmu. Lalu aku berlari, dengan membawa perih, menuju hati lain yg kosong untuk kuisi dengan cara terbaikku.
Yg tersisa kini hanyalah lelah, yg menyulut jengah, lalu mengobarkan amarah. Dan di penghujung setiap malamku, aku selalu terbujur layu oleh luka yg terlanjur digerumuti nanah dan dosa. Dosa lantaran tak seharusnya aku masih memuja wanita yg kini resmi milik seorang pria.
Lupakan tentang "semoga kita tak akan ada habisnya."
Jangan hiraukan jika kau kuingatkan tentang "semoga kita diaminkan dunia."
Bahagia ya, kau. Selalu dalam doaku, selalu terkelun dalam rindu. Dan sedikit tak peduli tentang kau dan lelaki barumu.
—DAPw, milikmu.



Like mas :-)
BalasHapusOk. Jgn di-unlike ya bro. Makasih kunjungannya, jgn bosan2. :)
Hapus