A Cup of Story (Secangkir Cerita)

Minggu, 03 Januari 2016

Tanpa Celah.

Tanpa Celah.


Kenapa aku begitu lelah menuntun langkahku ke arah hidup yg tak ada engkau di dalamnya?
Kenapa kakiku terkoyak dalam damai ketika kaki ini tahu dirimu yg selalu ingin kutuju?
Lelah ini berirama terlalu keras hingga merobek telingaku sampai gendangnya. 
Siapakah engkau beraninya menggerutu malu dalam cakrawalamu, padahal mungkin kau juga rindu.

Masih kah kau merindukan aku seperti suara radio tua yg mendengung di sore hari dan gerimis mulai singgah?
Masih kah kau setia pada doamu tentangku, seperti angin yg selalu membisik mesra kalaupun Tuhan diam saja saat langit mulai menangis terluka?

Aku bahagia dengan dia. Tapi bukan ini hidup yg ingin ku tempa.
Aku mencintainya, menyayanginya dengan satu celah, —bahwa rasanya, mustahil bagiku tak mengakui bahwa aku menyayangimu tanpa celah.

Di sudut malam, aku terhimpit sesak oleh cahaya lorong yg dulu sempat membuatmu berdebar menantikan lelakimu lekas menyapamu dari jarak jutaan jengkal jauhhya. Cahaya di lorong-lorong ini menekan dadaku semakin dalam, meyakinkanku, bahwa aku rindu bagaimana rasanya kau rindukan.

Kutuang di sini rinduku, ya? Doakan aku lekas sembuh.

Lelaki yg menyayangi engkau —yang menyayangi lelaki baru, tanpa celah.


—DAPw, @tweetbatin


Share This

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates