Ketika hujan menyapa senja, kau hanya tertunduk seperti matahari kala senja dan hujan tengah menerpa; kehilangan warna.
ketika malam tak kunjung bawakanmu selimut kantuk, kau hanya terbaring dengan gerimis dan petir di matamu.
Ketika pagi telah terbit, sering engkau terbawa suasana saat berceloteh ringan dengan Ibumu, bercerita tentang kebiasaan lamaku yg engkau tau. Seakan lupa, bahwa kita telah lama tak bersama. Lalu kau diam salah tingkah.
Ketika duniamu terlalu melelahkan, dan lututmu begitu lunglai, kadang dalam tidurmu kau sebut namaku dengan suara paraumu.
Apakah itu cinta di antara engaku dan dia? Atau hanya benci yg sementara kau tunda.
Betapa lucunya kau ini. Kau sendiri yg memilih pergi. Engkau pula yg rasakan perih.
Setiap kali kau nodai bibir lembutmu memakiku, kau makin terlihat terlalu menyayangiku.
Jika nanti nyatanya kau teringat tentangku di sela sore ceriamu;
Jangan coba engkau sembunyi di balik pintu saat nanti aku datang membawakan nenekmu seikat Bunga Desember kesukaanmu.
Jangan engkau ganggu aku berbincang sore, menemani nenekmu memandangi langit tua dengan sedikit rindu pada kakekmu.
Jangan engkau mengintip kami -
dari tirai jingga kamarmu, ketika aku tengah terbawa haru dan memeluk nenekmu.
Jangan kau undang lelakimu untuk mengusirku,
Jangan kau lupa akulah andalan bapakmu.
Meski jika kau lupa bukan lagi aku impianmu.
Ampuni aku jika aku telah membayangimu.
Karna aku telah mengampunimu bahwa kau terlalu berisik di kepalaku bahkan saat aku telah jadi milik wanita lain.
Kau pun tau, bahkan jika kekasihmu mengetuk pintu depan rumahku membawa serdadu perang pun, darah dan derajat kejayaanku tak akan turun.
Karna semua orang akan tahu, jika tumpah darahku, gugur lututku, itu hanya karna wanita sepertimu.
—dap

Tidak ada komentar:
Posting Komentar